Ketika membaca kepala berita di salah satu media online tersebut, saya bahagia sekali. Apa yang saya bayangkan sejak diperkenalkannya eKTP akhirnya kesampaian. Tidak perlu fotokopi eKTP untuk mengurus berbagai keperluan. Mendagri melarang memfotokopinya dengan Surat Edaran Nomor 471.13/1826/SJ yang dikeluarkan tanggal 11 April 2013. Saya bayangkan, untuk mengurus berbagai keperluan di lembaga pemerintah atau lembaga perbankan, cukup membawa eKTP dan di sana sudah tersedia pembacanya. Tidak ada lagi tangan pegal karena mengisi data yang sama secara berulang. Data sudah terintegrasi, tidak perlu mengisi formulir yang biasanya lumayan panjang. Fotokopi eKTP adalah masa lalu. Luar biasa bukan? Read More
Doa khotib yang tidak teramini
Saya tidak tahu apakah cerita dalam entri ini akan menarik untuk dibaca. Namun, saya tetap ingin menuliskannya, siapa tahu ada beberapa sahabat yang tertarik.
Dalam beberapa kali sholat Jumat, saya menemukan sebagian besar jamaah tidak mengamini doa khotib. Tanda yang paling kentara adalah hanya sedikit yang mengankat kedua telapak tangan (tradisi di Indonesia, yang menurut beberapa sahabat mungkin dianggap tidak perlu). Baru setelah sampai pertengahan doa, jamaah mengamini doa khotib. Saya teringat pengalaman belasan tahun lalu yang bahkan lebih ekstrim. Hanya beberapa orang yang mengamini doa khotib, bahkan sampai khotib menutup khutbah. Apa yang salah? Jawabannya sederhana dan sekaligus menarik, menurut saya. Khotib lupa kalau sebagian besar jamaah tidak faham bahasa Arab. Read More
Nathaniel’s Nutmeg
Ketika beragam komoditas bumbu, terutama bawang putih dan bawang merah, menjadi mahal dalam beberapa pekan terakhir, saya teringat sebuah buku yang menarik. Di beberapa daerah harga bawang sudah menembus angka Rp 70.000. Harga yang sangat tidak wajar. Beberapa analis mengatakan masalah ini muncul karena ‘konflik’ antarkementerian. Yang jelas, menurut statistik, sebanyak 90% bawang putih di Indonesia adalah hasil impor. Berikut kisahnya.
Dalam sebuah acara makan malam bersama dengan kolega dan pembimbing, dengan atmosfer yang sangat informal, kami mendiskusikan banyak hal. Ada yang substansial, tidak jarang hal trivial untuk menjaga komunikasi sosial. Salah satu pembicaraan terkait dengan sejarah, salah satunya menyinggung sejarah Indonesia. Sampailah pada cerita perburuan pala di kawasan timur Indonesia pada masa lampau. Guru, demikian saya sering menyebut pembimbing saya, dalama bahasa Sansekerta yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, menceritakan sebuah buku yang pernah dibacanya. Judulnya: Nathaniel’s Nutmeg, Palanya Nathaniel. Cerita tentang pala, buah pala, dan bukan kepala.
Read More
Peringkat 4ICU/Webometrics: Kosmetik vs perubahan budaya
Ketika peringkat perguruan tinggi (PT) versi 4ICU (4 International Colleges and Universities, http://www.4icu.org) atau Webometrics (http://www.webometrics.info) ramai diberitakan di media massa, seorang kawan berkomentar, “Kok peringkat PT cepat sekali berubah ya? Kok seperti balap mobil, urutannya bisa cepat sekali berubah-ubah.” Kegelisahan seperti ini sangat wajar, karena didukung kesan dari fakta di lapangan. Jawabannya bisa benar, bisa salah.
Kedua pemeringkatan ini menggunakan kualitas situs web sebagai indikator utamanya. Pemeringkatan 4ICU menekankan pada tingkat pemanfaatan situs web PT oleh pihak internal dan ekternal, sedangkan Webometrics berfokus pada tingkat popularitas situs web, kualitas konten dan keterbukaan penelitian/karya ilmiah. Pada edisi terakhir Webometrics, yang baru saja diliris beberapa hari lalu (02/02/2012), komponen baru diperkenalkan. Salah satu indikator, yaitu scholar, tidak hanya dilihat dari Google Scholar (2007-2011) yang masih bisa “dimainkan”, tetapi juga dengan memasukkan jumlah publikasi yang terdaftar di SCImago Lab. (www.scimagojr.com) dalam tujuh tahun terakhir (2003-2010). Bobot indikator ini pun dinaikkan menjadi 30%. Sebagai informasi, SCImago menggunakan data Scopus yang mengindeks lebih dari 17.000 judul publikasi. Indikator ini sangat sulit “dimainkan” dalam waktu pendek. Inilah satu-satunya indikator yang “murni” akademik dari Webometrics. Read More
e-Katalog Pengadaan Barang/Jasa Publik
Di tengah skeptisisme publik atas program pemberantasan korupsi yang terkesan setengah hati, sebuah harapan baru kembali dimunculkan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) pada penghujung 2012. Mulai 2013, pengadaan layanan koneksi Internet sampai dengan 30 Mbps untuk lembaga pemerintah dapat membeli langsung tanpa melalui lelang. Sebanyak 27 Internet Service Provider (ISP) telah bergabung untuk inisiatif ini. Ini tentu baru langkah awal dalam pengembangan e-katalog (http://e-katalog.lkpp.go.id) dalam pengadaan barang/jasa secara online (e-procurement). Di waktu mendatang diharapkan semakin banyak barang/jasa dengan spefisikasi yang terstandardkan (seperti kendaraan bermotor, alat-alat kesehatan) yang masuk dalam e-katalog. Dalam e-katalog yang tersedia online dicantumkan spesifikasi barang/jasa dan harga yang ditawarkan oleh rekanan. Read More
Sebab musibah
Betul, musibah bisa muncul atau diturunkan dengan beragam ‘alasan’. Sebagian menyebut untuk menguji (karena kita orang baik), sebagian lain menyatakan sebagai azab (karena kita kebablasan), sebagian lainnya menghubungkan dengan teguran (karena kita lalai). Bagaimana menentukan kategorisasi ini untuk sebuah musibah? Siapa yang berhak menentukan? Bagimana menentukan bahwa kita adalah orang baik (meski banyak orang ge-er dan terlalu pe-de dalam hal ini), kita kebablasan (adakah yang berani tunjuk jari?), atau kita lalai (hmm, siapa ya yang mau mengakui secara terbuka)? Ini adalah instrumen untuk evaluasi diri, dan bukan instrumen untuk menghujat orang lain.
Terus terang saya miris, dalam beberapa hari ini, dengan banyaknya orang yang merasa punya kapasitas dan kewenangan ketuhanan ini. Padahal mereka menulis huruf alif saja mungkin masih bengkok, sudah merasa menjadi ‘tuhan’. Mereka menentukan dengan sangat lantang kalau musibah ini adalah azab karena a, b, dan c; diikuti dengan hujatan kepada personal, secara terbuka lagi. Kita masih ingin menghujat seseorang karena yang dilakukan tidak kita senangi? Apakah kita yakin semua orang juga senang dengan apa yang kita lakukan? Apakah agama memang menganjurkan untuk menghujat orang? Apakah memang boleh mengkafirkan orang lain? Kalau toh berbeda agama, apakah memang kita dianjurkan untuk menghujat agama lain? Apakah agama menganjurkan untuk mengabaikan akal sehat dalam mengambil kesimpulan? Atau, bisa jadi saya kelewatan pengajian yang menyuruh orang untuk menghujat orang lain, menebar kebencian, dan mengabaikan penggunaan akal sehat. Bisa jadi. Read More
Sopir bis teladan
Hari masih cukup pagi, ketika pesawat yang saya tumpangi dari Seoul mendarat di Honolulu. Saya masih harus menunggu waktu sekitar 12 jam sebelum pesawat lanjutan membawa saya ke Kaluhui di Maui, tempat konferensi yang saya ikuti diselenggarakan. Bandara Honolulu cukup kecil. Tidak banyak aktivitas yang bisa saya lakukan di sana kecuali duduk, membaca, atau tidur. Setelah melakukan observasi singkat, saya pun putuskan untuk menghirup udara segar di luar bandara. Saya lihat tanda di jalan dan bis yang melewati bandara. Transportasi publik di Hawaii tidak sebaik di negara-negara Eropa. “Waikiki beach” tulisan yang saya baca di depan beberapa bis yang melintas. “Oke, tidak ada salahnya menghabiskan beberapa jam di pantai yang cukup terkenal itu”, pikir saya.
Setelah menunggu beberapa lama, bis ke arah pantai Waikiki melintas. Saya pun antri di depan pintu. Sesampai di depan sopir, saya sodorkan uang 20 dolar. Biaya perjalanan untuk dewasa 2,5 dolar. Saya lihat di mesin pembayaran, tertulis “no change” alias tidak ada kembalian. Saya harus membayar dengan uang pas. Akhirnya dengan kecewa, saya pun turun dari bis. Sambil membuka dompet saya dan berharap ada 2,5 dolar yang saya temukan. Tidak ada. Saya hanya temukan dua lembar satu dolaran, dan beberapa pecahan yang lebih besar. “Sudahlah, mungkin bukan rejeki saya untuk mengunjungi Waikiki”, pikir saya. Read More
