The end does not justify the means

20 November 2008

Jangan Berkelahi, Kayak Mahasiswa Saja!

19 November 2008

Dua orang tukang becak yang kebetulan tidak berpendidikan formal tinggi mempunyai masalah. Yang satu bersikeras bahwa pendapatnya yang benar. Satunya lagi tidak terima pendapatnya disalahkan. Debat kusirpun berlangsung keras. Saling potong pembicaraan dan tak satu pun yang mau mendengarkan. Sampai puncaknya, karena tidak bisa menahan emosi, adu fisik pun terjadi. Beruntung ada tukang becak lain yang sedang mangkal di dekat tempat tersebut. Dia pun berusaha melerai, tetapi ternyata tidak mudah. Saking jengkelnya, dia berteriak, “Sudah. Jangan berkelahi, kayak mahasiswa saja!”.  Seketika juga, kedua tukang becak yang berkelahi melihat si pelerai dan akhirnya mereka berhenti berkelahi dengan tersenyum kecut. Read the rest of this entry »


First Thing First!

8 November 2008

Setiap orang mempunyai tanggung jawab. Bahkan, banyak orang yang mempunyai tanggungjawab lebih dari satu. Setiap tanggungjawab harusnya dijalankan dengan baik. Hanya saja seringkali kapasitas tidak bisa mengakomodasi semuanya. Di sinilah saatnya kita harus mempunyai kepekaan tentang mana yang seharusnya didahulukan, mana yang bisa ditunda, dan mana yang mungkin harus kita lupakan.  Read the rest of this entry »


Servant Leadership

5 November 2008

Kepemimpinan Pelayan, begitu kalau diterjemahkan secara langsung. Istilah servant leadership sendiri dalam literatur modern muncul pada awal 2000a. Saya teringat, dalam hazanah sejarah Islam, praktek servant leadership sangat jelas maujud dalam diri Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Istilah servant leadership diperkenalkan oleh Greenleaf dalam bukunya yang berjudul Servant Leadership: A Journey into the nature of Legitimate Power anda Greatness yang terbit tahun 2002. Baik, kita kutip beberapa kalimat yang mendeskripsikan servant leadership. Read the rest of this entry »


Down to Earth

4 November 2008

Tadi pagi dalam running text sebuah televisi swasta muncul teks yang menarik perhatian tetapi sekaligus membuat miris. “Hungry Congo refugees got soap, no food”. Pengungsi Kongo yang kelaparan mendapatkan sabun, bukan makanan. Mereka tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan, tetapi mendapatkan apa yang menurut pemberinya dibutuhkan. Read the rest of this entry »