Jangan Berkelahi, Kayak Mahasiswa Saja!

Dua orang tukang becak yang kebetulan tidak berpendidikan formal tinggi mempunyai masalah. Yang satu bersikeras bahwa pendapatnya yang benar. Satunya lagi tidak terima pendapatnya disalahkan. Debat kusirpun berlangsung keras. Saling potong pembicaraan dan tak satu pun yang mau mendengarkan. Sampai puncaknya, karena tidak bisa menahan emosi, adu fisik pun terjadi. Beruntung ada tukang becak lain yang sedang mangkal di dekat tempat tersebut. Dia pun berusaha melerai, tetapi ternyata tidak mudah. Saking jengkelnya, dia berteriak, “Sudah. Jangan berkelahi, kayak mahasiswa saja!”.  Seketika juga, kedua tukang becak yang berkelahi melihat si pelerai dan akhirnya mereka berhenti berkelahi dengan tersenyum kecut.

Mereka ternyata tidak mau dipersamakan dengan mahasiswa. Makhluk dengan beragam predikat; agen perubahan, calon intelektual, calon pemimpin bangsa, dan seabreg predikat hebat lainnya. Bagi tukang becak tadi, lebih terhormat menjadi tukang becak yang masih mengandalkan otot untuk mencai uang, dibandingkan mereka yang mengandalkan otot pada tempat yang salah. Tetapi ternyata dalam beberapa hari terakhir, mata dan telinga kita tersentak dengan berita dan tayangan perkelahian mahasiswa di beberapa kampus di Indonesia. Aneh dan ajaib. Mahasiswa yang merupakan intelektual ternyata telah berubah menjadi preman. Batu merupakan senjata. Pedang pun tidak jarang ikut terbawa. Korban berjatuhan.

Sebuah fakta yang harusnya menjadi keprihatinan semuanya, termasuk mahasiswa “baik”. Hanya saja, sampai saat ini tidak satu pun pernyataan dari para aktivis mahasiswa menanggapi masalah tersebut, mengutuk perkelahian, atau sejenisnya. Ada apa gerangan? Apakah karena pelaku berstatus mahasiswa kemudian pemaksaan kehendak dan pengabaian kepentingan orang banyak lantas halal dilakukan? Tentu saja tidak.

Saya melayangkan pikiran beberapa tahun ke depan, ketika mereka menjadi memegang posisi penting. Menjadi pejabat publik. Kira-kira apa yang akan terjadi? Terus terang saya miris. Kalau otot dan kekerasan dikedepankan, kemana masa depan bangsa akan dibawa? Bagaimana kesejahteraan dan keadilan dipikirkan? Di mana kepentingkan orang banyak akan ditempatkan?

Saya hanya berharap, bahwa perkelahian yang sangat “tidak ilmiah” ini segara berakhir dan pelaku-pelaku yang terlihat sadar. Banyak harapan yang digantungkan di pundak mereka. Jangan kecewakan masyarakat!

3 Responses to “Jangan Berkelahi, Kayak Mahasiswa Saja!”

  1. Subhan Afifi Says:

    Mungkin ini adalah hasil dari sistem pendidikan kita yang belum bisa membangkitkan jiwa. Kita ikut bersalah….

  2. hanafi Says:

    Sebuah fakta yang harusnya menjadi keprihatinan semuanya, termasuk mahasiswa “baik”. Hanya saja, sampai saat ini tidak satu pun pernyataan dari para aktivis mahasiswa menanggapi masalah tersebut, mengutuk perkelahian, atau sejenisnya. Ada apa gerangan? Apakah karena pelaku berstatus mahasiswa kemudian pemaksaan kehendak dan pengabaian kepentingan orang banyak lantas halal dilakukan? Tentu saja tidak.

    Ada kalanya kebebasan berpikir, pemahaman sempit dan pemikiran yang liberal akan menjadikan mahasiswa untuk merasa berhak melakukan sesuatu yang melanggar aturan.

    saya rasa, hal ini pasti ada sebab musababnya.. yang saya lihat kejadian kekerasan di kampus lebih sering terjadi di makasar dan beberapa daerah yang mayoritas penduduknya bertemperamen tinggi serta mempunyai nilai ignoritas tinggi (misal : jakarta).

    semoga nggak terjadi di Jogja. :)

    hormat saya,

    pasivis mahasiswa di Jogja.

  3. dimas Says:

    wah.. itulah pak mahasiswa yang asal kuliah.. yang pastinya tidak memamakai kemampuan berfikirnya ketika ikut2 dalam pertikaian..
    padahal asal mula kejadian dari hal yang sangat remeh.. saling ejek.. kenapa jadi gara di ejek bisa lari ke perusakan kampus, dan penusukan sehingga jatuh korban..
    banyak mahasiswa yang tidak sadar arti solidaritas sebenarnya.. kalau solidaritas dalam keburukan itu bukan arti solidaritas.. solidaritas adalah semangat untuk bangkit bersama.. bukan untuk memukul..

Leave a Reply