Nilai UII #1: Sederhana

Sudah lama ingin menulis lanjutan posting saya sebelumnya tentang Siapakah UII, tetapi nampaknya baru kali ini bisa saya lakukan. Saya ingin awali dengan sebuah kisah tentang pendiri UII, yaitu Almaghfurlah Prof. K. H. Abdul Kahar Muzdakkir. Kisah ini dimuat dalam Panji Masyarakat yang terbit 15 JAnuari 1974, yang dikutip dalam biografi beliau karya senior saya Ibu Trias Setiawati.

K. H. Ma’sum dari Lasem, pada tahun 196o, akan berkunjung ke rumah Pak Kahar. Menurut rencana sore itu tamu akan datang, tetapi ditunggu sampai jam 22.00 malam belum juga terlihat. Pak Kahar yang sudah memasak untuk makan malam tamu, mengundang tetangga dekatnya untuk malam bersama.

Hari berikutnya, barulah K. H. Ma’sum dan dua muridnya datang. Karena Bu Kahar sedang sakit,embantu sedang mudik, dan anak sedang tidak di rumah, Pak  Kahar pun akhirnya menanak nasi sendiri untuk lima porsi, tiga untuk tamu, satu untuk Pak Kahar, dan satu untuk Pak Wardan (yang menceritakan kisah ini). Sehabis isya’ ada tiga tamu lagi karena mendengar Pak Kahar menerima K. H. Ma’sum untuk ikut ta’dhimudl dloif, memuliakan tamu. Nasi yang tadinya untuk lima orang tidak layak kalau harus dibagi untuk delapan orang.

Pak Wardan yang juga tetangga Pak Kahar menawarkan mengambil nasi di rumahnya tetapi dilarang. Akhirnya Pak Kahar menemukan solusi: nasi yang ada dibagi enam, dan Pak Kahar sendiri serta Pak Wardan makan keraknya. Jadilah makan malam bersama tamu selesai dengan aman.

Moral yang bisa didapat dari kisah ini adalah bahwa Pak Kahar yang pada waktu itu menjadi Rektor UII adalah kesederhanaannya dan keinginan untuk menghormati orang lain.  Bagi Pak Kahar, berjuang di UII adalah ibadah, sebagaimana sampai saat ini diabadikan sebagai nilai dasar UII dalam Statuta. Karenanya, selepas memegang amana menjadi Rektor pada tahun 1945-1960, beliau tidak canggung menjadi Dekan FH UII, jabatan yang lebih rendah daripada Rektor pada tahun 1960-1963.

Bagi beliau, dalam organisasi di mana semangat kolegialitas menjadi dasar, tidak ada namanya canggung atau tidak enak dengan “naik-turun” jabatan. Setelah menjadi Ketua Jurusan, tidak lantas harus menjadi Dekan. Setelah menjadi Dekan tidak lantas harus menjadi Wakil Rektor atau Rektor. Setelah menjadi Rektor tidak lantas harus mendapat posisi yang lebih tinggi, dan seterusnya. Bukankah yang sekarang menjadi Ketua Jurusan, Dekan, ataupun Rektor melamar ke UII sebagai dosen? Menjadi dosen adalah sebuah profesi yang luar biasa jika dijalani dengan kesungguhan dan keikhlasan sebagaimana dicontohkan oleh Pak Kahar dan pada pendiri UII lainnya.

5 Responses to “Nilai UII #1: Sederhana”

  1. dimas Says:

    wow.. sangat menggugah pak :)
    mgkn selama ini saya berfikir tentang posisi lebih tinggi jika saya masuk kedalam sebuah perusahaan dan terus naik dalam jabatan.. manusia terkadang terlalu tergila2 dengan jabatan..
    semoga di jauhkan dari sifat tercela itu :)

  2. Puji Rahayu Says:

    Betapa dahsyatnya attitide Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakir, semoga Allah memuliakan beliau!
    Semoga banyak yang bisa meniru beliau dalam hal ini.

  3. leeman Says:

    salut hikmah yang sangat-sangat diperlukan untuk kondisi masyarakat sekarang ini terutama bagi para pejabat. dimana rasa takut menjadikan buta mata hati. takut kehilangan dengan apa yang sudah diraih.

  4. ahmadhanafi Says:

    hem, sisi lain sejarah yang terulis di buku sejarah UII yang semua mahasiswa punya (dan ga sempat baca, maaf pak).. :)

  5. Fathul Wahid Says:

    Hehehe.. memang banyak yang tidak baca sejarah UII mas. Yang repot, tidak baca, sok tahu, dan suka kasih kritik yang salah. :-) Kalau kritik yang benar itu malah ditunggu. Yang jelas, saat ini kita butuh orang-orang seperti Pak Kahar itu. Mudah-mudahan kita bisa menapaki jejaknya.

Leave a Reply