Mengapa orang sering stes ketika yang diharapkan tidak tercapai? Yang diangankan tidak terwujud? Salah satu sebabnya adalah manajemen ekspektasi, manajemen harapan, yang tidak tepat. Ada orang yang terlalu panjang angan-angan. Ada juga yang terlalu bersemangat tanpa tahu kapasitas.
Pembusukan Dari Dalam
12 February 2009Mengelola organisasi yang melibatkan beragam elemen bukan perkara mudah. Yang satu ingin A, yang lain ingin B, dan lainnya ingin C. Kemampuan melakukan kompromi yang dapat diterima oleh semuanya atau minimal oleh sebagian besar adalah sebuah seni tersendiri, seperti seni menyambung kain perca yang menjadi indah. Tentu manusia beda dengan kain perca. Kain perca hitam, tanpa protes akan mau “bersanding” dengan kain perca warna lain. Di sini yang mengedepan adalah estetika. Ternyata tidak demikian halnya dengan manusia. Ada untuk etika di sana. Ada unsur rasa juga. Apalagi kalau salah satu memang berseberangan dengan yang lain tanpa ada irisan yang jelas. Ketiadaan irisan ternyata bisa dengan sendirinya ada, atau bahkan bisa disengaja dan diusahakan. Inilah yang menjadikan manajemen manusia menjadi lebih rumit. Karena itulah, Allah selalu menguji nabinya menjadi pengembala kambing sebelum “menggembala” manusia (lihat beberapa hadits dalam Riyadlush Shalihin).
Ada Apa dengan Local Genius
3 February 2009Dalam sebuah tulisan di kolom rutin di Kedaulatan Rakyat, Almarhum Prof. T. Jakoeb dengan menggelitik bertanya, “Jenius kok lokal?”. Yang disebut jenius (translasi langsung dari genius) harusnya bersifat global. Genius dalam Kamus Cambridge adalah very great and rare natural ability or skill, especially in a particular area such as science or art, or a person who has this. Intinya: sesuatu yang istimewa, tidak biasa. Read the rest of this entry »
Posted by Fathul Wahid
Posted by Fathul Wahid
Posted by Fathul Wahid