Gus Dur dan Pluralisme

Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Gus Dur telah dianggap cukup oleh Allah menjalankan misinya di dunia. Gus Dur Allahu yarham dipanggil pulang pada 30 Desember 2009.

Saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau meskipun mempunyai nama belakang sama. :-) Tetapi saya termasuk penikmat dan mengikuti pemikiran-pemikirannya, bahkan sejak saya di bangku SMA, sekitar 20 tahun yang lalu. Saya banyak membaca tulisan-tulisan Gus Dur, termasuk yang lumayan banyak dimuat Majalah Prisma pada waktu itu. Bahkan tulisan-tulisan Gus Dur sewaktu masih menjadi guru di Madrasah Aliyah di Jombang pun saya pernah baca.

Di perpustakaan pribadi saya tidak banyak buku yang ditulis oleh Gus Dur karena setahu saya memang tidak banyak satu buku yang ditulis sendiri. Tetapi, banyak buku tentang Gus Dur atau buku suntingan yang berisi tulisan Gus Dur. Seingat saya buku tentang Gus Dur terakhir yang saya beli beberapa tahun yang lalu adalah Gagasan Islam Liberal di Indonesia karya Greg Burton. Gus Dur adalah salah satu tokoh sentral di samping Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib. Beberapa buku yang di dalamnya tidak hanya buku yang menyangkut pemikiran Islam, tetapi juga yang terkait dengan masalah kebangsaan. Sebut saja misalnya, buku suntingan yang berjudul Passing Over: Melintasi Batas Agama.

Ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, sangat terasa bahwa dia adalah “orang besar”, orang dengan ide-ide besar dan cemerlang. Perspektif yang digunakan bukan perspektif jalanan yang banyak digunakan orang. Dia adalah orang dengan pemikiran yang seringkali mendahului zamannya. Kalau sempat, coba Anda search Google.com dan cari berita dalam bahasa asing dengan kalimat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tidak hanya warga nahdliyin yang kehilangan. Bangsa Indonesia lintas agama dan banyak tokoh dunia dan agama-agama dunia lain, termasuk “agama” Mormon, juga merasa kehilangan. Mereka sangat terkesan dengan semangat pluralisme yang dibawa oleh Gus Dur.

Dia adalah penganjur toleransi yang gigih. Toleransi bukan melemahkan iman. Toleransi adalah menata kehidupan bersama. Tidak ada tawar-menawar aqidah di sana. Ini yang sering disalah artikan. Pluralisme adalah buahnya. Tidak ada dalam kamus prularisme yang berarti mencampur adukkan agama. Pluralisme menghendaki semangat ko-eksistensi, saling menghormati. Untuk memahami orang, jangan kita terlalu sibuk dengan logika kita. Gunakan logika orang lain!

Dalam sebuah tulisannya, Prof. Mukti Ali, pernah menyatakan bahwa orang atheis tidak bisa dialog tentang agama, karena dia tidak mempunyai pengalaman keberagamaan. Kita tidak bisa dialog dengan orang di luar bidang kita kalau kita sibuk hanya dengan dunia kita sendiri. Perlu kita sekali-sekali melompat batas, mencoba memahami orang lain. Bukankah Nabi juga mengajarkan demikian? Ketika Nabi diludahi oleh orang Quraysy, Nabi tidak marah. Bukankah itu karena Nabi menjadi sabar karena berpikir dalam posisi orang yang meludahi? Kita masih ingat bagaimana Nabi dapat hidup berdampingan dengan kaum agama lain di Madinah ketika baru hijrah. Ini adalah contoh lain.

Saya secara pribadi merindukan pemikiran-pemikiran yang menghargai perbedaan dan bebas dari truth claim dengan mengkafirkan pihak lain, dan tidak bisa bergaul dengan orang pemahaman berbeda. Hanya saja memang kita tidak menutup mata, ada I am more moslem than you are syndrome. Dialog ternyata tidak hanya antar umat beragama (inter-faiths), tetapi juga antar umat Islam.

Selamat jalan Gus Dur! Saya percaya, Allah telah menyiapkan tempat terbaik!

About these ads
4 comments
  1. Kayaknya saya masih perlu banyak belajar Pak. Saat ini masih aja kurang paham ama pemikiran Pak Gus Dur ini.

    Kalo Mas Ulil Absar A, gimana pak? soalnya banyak yang bilang beliau adalah penerus pemikiran Pak Gus Dur.
    Saya tunggu balasan menarik Bapak.

    • Fathul Wahid said:

      Wah, kata siapa mas kalau Mas Ulil penerusnya Gus Dur? :-)

      Saya ketemu Mas Ulil pertama tahun 1994, 15 tahun yang lalu. Seingat saya di Yogyakarta dan di Forum Mahasiswa Ciputat, Jakarta. Dulu kita punya acara Pesantren Wawasan Nasional. Orangnya baik dan cerdas.

      Kalau pemikiran sama, saya tidak tahu mas. Yang jelas, mertua Mas Ulil (Gus Mus) dan Gus Dur kawan sejak kecil dan akrab secara pemikiran, meskipun dengan gaya yang berbeda. Mas Ulil pernah berseberangan secara pemikiran dengan mertuanya beberapa tahun yang lalu dengan tulisan yang dimuat di Kompas. Nah, kesimpulannya bagaimana ya? :D

  2. kesimpulan saya Pak, ternyata saya masih perlu baca lagi buku-buku dan hasil tulisan dari beberapa penulis yang kurang populer di mata saya. (doh)

    Beberapa kali saya pernah membaca di situsnya Gerakan Islam Liberal (islamlib.com), beliau(mas Ulil) bersama Mochsid dan beberapa tokoh islam liberal lainya banyak menulis disitu. Saya rasa beliau adalah salah satu tokoh Islam Liberal ini.

    Islam liberal seperti yang saya baca di beberapa artikel, salah satu nya adalah situs : islamlib.net, mangakui adanya nabi setelah Rosululloh SAW, tidak berkeberatan dg adanya ahmadiyah, Tidak setuju dengan adanya diterapkannya bentuk kekhalifahan, mengingatkan saya terhadap mustafa kemal pasha yang terkenal moderat dan bagi beberapa fihak adalah penghancur kekalifahan dan persatuan Islam saat itu.

    Saya sempat juga melihat video beliau dalam perdebatan ttg islam Lib dalam sebuah kampus. Beliau mencoba mengkritisi hadits yang menyamakan wanita dengan hewan. (saya agak lupa haditsnya) hadit tersebut berhubungan dengan pelaksanaan salat.

    Sedang sejarah Gusdur, saat menghadiri misa natal, menerima medali valor dari Yahudi, dan membuka hubungan diplomatik Indonesia dengan bangsa perusak – israel masih belum masuk di akal pemikiran saya. Belum lagi penolakan beliau terhadap penerapan syariat Islam. (mungkin bisa dilihat dari putri-putri beliau, yang satupun tak mengenakan jilbab).

    mungkin kalo boleh saya tampilkan beberapa tulisan yang mendukung dari tulisan saya diatas.
    http://nakdoeaispanjul.blogspot.com/2009/07/jejak-yahudi-gusdur-dan-ahmad-dhani.html
    http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=1&dn=20080612101043

    saya mohon pencerahannya Pak. mohon maaf, nulisnya panjang, saya sedikit kurang dalam skil menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers

%d bloggers like this: