Perempuan muda tersebut duduk dengan penuh konsentrasi di balkon salah satu ruang sidang komisi di gedung DPR RI. Jemarinya lincah mengetik dengan gawainya. Dia tidak sedang mengabaikan lingkungannya dan asyik dengan dunianya. Tetapi, dia sedang aktif membuat cuit dengan Twitter. Perempuan itu bernama Hayati Indah Putri, pencetus dan pengawal WikiDPR.org, inisiatif nirlaba yang dengan sepenuh hati mengikuti dan mencatat diskusi pada hampir semua sidang di gedung tersebut. Kondisi hamil tidak menghalangi Mbak Indah, panggilan akrabnya, pemegang gelar master dari salah satu universitas terkemuka di Kanada, untuk ‘berkantor’ hampir setiap hari.

Dia dan puluhan relawan siap menjadi ‘penyambung suara wakil rakyat’ dengan menulis cuit secara langsung ketika sidang sedang berlangsung. Rangkuman sidang kemudian dimuat dalam laman WikiDPR.org. “Saya ingin rakyat tahu apa yang didiskusikan oleh wakilnya, melalui media sosial,” kata Mbak Indah ketika berdiskusi dengan penulis. Banyak orang mengatakan bahwa media sosial dapat menjadi kanal komunikasi antara rakyat dengan wakilnya, para politisi. Read More

Saya teringat pengalaman sekitar 15 tahun lalu ketika sedang menempuh program master di Norwegia. Saat itu, salah satu situs web berita yang selalu saya kunjungi setiap hari adalah Kedaulatan Rakyat (KR) daring (online). Bahkan, saya pun mengirimkan beberapa tulisan yang dimuat dalam edisi daring. Ternyata aktivitas tersebutjuga dilakukan oleh banyak kawan lain yang berasal dari Yogyakarta. Apa yang menjadikan kami setia mengakses KR daring? Ada nilai yang tidak ditawarkan oleh koran lain.

Nilai Berita

Perspektif untuk mengukur nilai berita (‘newsworthiness’) yang dinyatakan oleh Galtung dan Ruge, pada 1965, nampaknya masih relevan ditengok kembali. Nilai berita ditentukan oleh beragam aspek, seperti dampak, audiens, dan cakupan. Dampak berita ditentiukan antara lain oleh frekuensi dan kejutan. Peristiwa yang terlalu sering muncul tidak lagi menarik, seperti halnya berita yang dapat ditebak. Read More

Beberapa hari menjelang Ramadan, sebuah meme gambar menyebar lewat media sosial. Meme tersebut menggambarkan penyuara kuping (earphone, headset) yang dikontraskan dengan tasbih, dan komputer tablet yang dilawankan dengan Alquran cetakan. Pesan yang nampaknya akan disampaikan adalah: penyuara kuping dan komputer tablet adalah musuh dalam beragama. Atau lebih spesifik, kedua artefak harus dijauhi selama Ramadan. Nampaknya, pembuat gambar mempunyai pandangan yang sempit terhadap artefak tersebut, terjebak pada simbol dan perumuman (generalisasi) yang tidak hati-hati. Mengapa?

Read More

Dalam sebuah konferensi internasional, seorang peserta bertanya ketika saya selesai mempresentasikan eProcurement (lelang online) di Indonesia: Apakah Anda yakin sistem tersebut benar-benar menghapus korupsi? Jawab saya: Tidak seratus persen. Saya jelaskan bahwa korupsi dalam ranah pengadaan barang dan jasa, mencakup semua spektrum, tidak hanya pada saat lelang. “Bau busuk” korupsi dapat tercium mulai pada saat perencanaan atau penyusunan anggaran. Drama kekisruhan antara DPRD dan Gubernur DKI Jakarta (Ahok) dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) adalah buktinya.

Dalam beberapa pekan terakhir, publik diberi tontonan menarik ini. Mengapa menarik? Meskipun ini adalah masalah DKI Jakarta, kisruh ini adalah yang pertama terjadi di Indonesia secara telanjang. Publik semakin dewasa dan lebih peduli dengan masalah bangsa. Diskusi publik di banyak media, termasuk media sosial, adalah indikasinya. Saling tuduh siapa mengubah RAPBD adalah menu utamanya. Ahok menuduh DPRD yang menambah anggaran “siluman” sebesar Rp 12,1 triliun. Sebaliknya, DPRD menuding pihak eksekutif yang melakukannya. Bahkan, kekisruhan ini bereskalasi dalam beberapa hari terakhir, dengan aksi saling melaporkan. Read More

Pernah menemukan tutup botol yang sulit dibuka alias macet? Seorang kawan Anda, A, mungkin menawarkan bantuan membukanya. Dia gunakan ujung kaosnya untuk membungkus tutup supaya tidak licin. Gagal. Seorang kawan yang lain, B, mencoba menggunakan cara yang lain. Tetap gagal. Merasa tertantang, seorang kawan Anda yang lainnya lagi, C, mengerahkan kekuatannya untuk membuka, dengan teknik yang lain. Berhasil!

Read More

Satu calon presiden dalam Debat Capres-Cawapres yang diselenggarakan pada 9 Juni 2014 memunculkan pernyataan menarik terkait dengan aplikasi teknologi informasi (TI) di sektor publik (eGovernment). Menurutnya, salah satu strategi menciptakan pemerintahan yang bersih adalah dengan penggunaan TI yang, masih menurutnya, dapat dikembangkan dalam “dua minggu”. Persis seperti dugaan saya ketika mengikuti acaranya melalui layar kaca, saya berkata ke istri, “Pasti sebentar lagi ramai di media sosial.” Memang akhirnya saya lihat, para pegiat, pecinta, dan pemerhati TI memperbincangkan frasa “dua minggu” di media sosial. Dugaan saya ternyata benar. Tetapi, apakah peryataan calon presiden tersebut juga benar? Read More

Salah satu perkembangan baik setelah reformasi di Indonesia adalah mulai dibukanya kanal komunikasi yang lebih lugas antara rakyat dan pemerintah. Rakyat sebelumnya diposisikan sebagai objek pembangunan dan dianggap tidak pantas dilibatkan dalam pengambilan keputusan publik. Kini, muncul atmosfer lain. Rakyat dianggap sebagai subjek pembangunan dan suaranya mulai didengar. Banyak pemimpin yang telah sadar bahwa rakyat lebih tahu masalah yang dihadapinya sehari-hari, dan mereka juga dapat mengusulkan solusinya. Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: