Gema Kami: Gerakan Membina Kampus Islami

“… ujud Sekolah Tinggi Islam ialah membentuk ulama’ yang berpengetahuan dalam berpendidikan luas serta mempunyai semangat dinamis. Hanya ulama’ yang seperti itulah yang bisa menjadi pendidikan yang sebenarnya dalam masyarakat. Di Sekolah Tinggi Islam itu akan bertemu agama dengan ilmu dalam suasana kerjasama yang membimbing masyarakat ke dalam kesejahteraan.” (UII, 1994)

Pidato Dr. Moh. Hatta pada Pembukaan Sekolah Tinggi Islam
setelah dipindahkan ke Yogyakarta pada 10 April 1946

Prolog
Universitas Islam Indonesia (UII) yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Islam didirikan dengan cita-cita luhur. Cita-cita tersebut tercermin dalam kutipan pidato Dr. Moh. Hatta, salah seorang pendiri UII di atas. Dua kata kunci yang tidak bisa terpisahkan adalah agama dan ilmu. Cita-cita tersebut bersifat perenial (abadi), tak lekang oleh zaman, dan sampai saat ini masih terekam dengan jelas dalam visi dan misi UII.

Pegangan yang kuat terhadap visi dan misi merupakan salah satu penentu keberhasilan lembaga. Studi yang dilakukan oleh Collins dan Porras (2000) terhadap perusahaan-perusahaan kaliber dunia juga menunjukkan bahwa hanya perusahaan yang mampu mempertahankan visi-misinya dengan baik dan terus-menerus menyesuaikan praktek bisnisnya sesuai dengan perkembangan yang dapat bertahan dan berumur panjang.

Kita semua berharap, UII sanggup menjawab tantangan zamannya dan karenanya dapat berkembang dengan baik. Sebagai sebuah perguruan tinggi Islam, UII, dalam mengemban tugas sejarahnya untuk membina masyarakat melalui jalur pendidikan tidak boleh melupakan ‘I’ kedua dalam namanya, yaitu Islam. Mengapa kekhawatiran tersebut muncul?

Potret Mutakhir UII
Kekhawatiran akan peminggiran nilai-nilai Islam di UII bukanlah tanpa alasan. Dalam interaksi dengan mahasiswa, dosen, dan karyawan UII selama delapan tahun telah menghadirkan potret UII yang lebih jelas. Banyak yang memahami, terutama di kalangan mahasiswa, belajar Islam adalah belajar matakuliah agama Islam. Jika dapat meluluskan diri dari matakuliah tersebut, termasuk ujian praktek ibadah, berarti semuanya berjalan lancar. Pemahaman seperti ini sudah jamak saya ditemukan. Kemudian apa yang terjadi?

Survei yang saya lakukan terhadap mahasiswa mengindikasikan bahwa, misalnya, hampir 30% mahasiswa tidak menjalankan sholat lima waktu. Bagaimana kita mengharapkan masa depan Islam kepada generasi muda yang meninggalkan sholat, tiang agama?

Contoh lain. Di kalangan anak muda Islam Yogyakarta, terdapat sebuah produk dengan label baru yang membuat kecut hati, yaitu jilbab UII. Label ini digunakan untuk merujuk jilbab yang ukurannya minimalis dan tidak sanggup menutup aurat seperti anjuran agama. Jilbab oleh banyak mahasiswi UII dianggap sebagai aksesoris tanpa makna. Informasi underground yang saya kumpulkan juga mengindikasikan banyaknya praktek seks bebas yang juga melibatkan mahasiswa UII.

Di kalangan karyawan dan dosen, saya menemukan banyak komitmen yang terabaikan. Rendahnya komitmen disiplin bekerja dan mengajar adalah beberapa contoh. Menjadi dosen kadang dianggap sebagai sambilan, sedang tugas utamanya terlupakan dengan berbagai alasan yang dibuat-buat supaya masuk akal. Pepatah Jawa menyatakan milik nggendong lali. Hasrat kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih seringkali membuat kita lupa akan kewajiban. Belum lagi ditambah dengan konflik ‘malu-malu’ yang terjadi antar banyak pihak di UII.

Gema Kami
Jika potret demikian yang kita temukan apa yang mesti kita perbuat? Potret ini janganlah kita maknai sebagai aib UII, justru inilah adalah tantangan sekaligus ladang ibadah. Pilihannya hanya satu, meminjam istilahnya Prof. Syafi’i Ma’arif – Islam harus dibumikan di UII. Islam seharusnya tidak lagi dianggap sebatas pengetahuan atau wacana, Islam adalah kontinuitas dalam pelaksanaan. Tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan Islam normatif yang tersurat dalam teks-teks suci Al-Quran dan Hadits ke dalam bentuk yang operasional di lapangan.

Diinspirasikan oleh konsep yang ditawarkan oleh Kuntowijoyo (1997) dalam membangun identitas politik umay Islam, pembumian Islam di UII bisa dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu internalisasi, obyektivikasi, dan eksternalinasi. Pertama, pemahaman akan pesan-pesan dalam teks-teks suci tersebut harus diinternalisasikan ke dalam diri. Pada tataran yang paling tinggi, menurut Al-Ghazali disebut dengan akhlak. Akhlak pada dasarnya adalah sebuah perilaku yang secara otomatis dilakukan tanpa pertimbangan yang panjang. Hal ini mungkin karena proses inferensi pengambilan keputusan sebelum bertindak dapat dilakukan dengan cepat karena proses pembelajaran yang telah terjadi berulang-ulang.

Tahapan internalisasi tidak bisa dilakukan tanpa kerja keras dan cerdas. Semangat pencarian yang tinggi menjadi syarat utama. Internalisasi adalah proses pencarian hidayah. Allah menyatakan bahwa ”Orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS 29: 79).

Kedua, obyektivikasi dilakukan untuk melihat konteks implementasi. Sadar konteks merupakan keharusan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Tanpa kesadaran ini, ada kemungkinan program atau aktivitas atau pilihan tema yang dicanangkan menjadi tidak kontekstual. Sebagai contoh, pilihan tema haji tentu saja tidak sesuai untuk dakwah di kalangan gelandangan. Lain halnya jika tema yang dipilih adalah kerja keras dan sabar. Kuntowijoyo (2001) memasukkan obyektivikasi sebagai bagian dari strategi aktualiasasi Islam dalam masyarakat.

Dalam konteks pembumian Islam di UII, obyektivikasi dapat dilakukan dengan melihat potret utuh UII. Konteks akan terlihat dengan jelas jika ada kejujuran dan saling percaya. Jika demikian, maka akan dengan mudah kita menumbuhkan semangat ko-eksistensi, semangat saling mengakui keberadaan dan peran masing-masing. Akan sangat mungkin terbentuk sebuah potret dengan spektrum warna-warni dalam sebuah kontinuum multidimensi yang panjang. Sadar akan posisi dalam kontinuum ini akan memudahkan kita menggalang kesadaran bersama ke mana energi yang kita punyai harus diarahkan. Demikian demikian resultante yang dihasilkan akan merupakan sinergi energi yang luar biasa.

Ketiga, ekternalisasi adalah implementasi dari nilai-nilai yang telah terinternalisasi ke dalam konteks yang ada. Tanpa ekternalisasi, visi rahmatal lil’alamain yang tertuang dalam visi UII tidak akan terwujud dan hanya berhenti dalam wacana.

Salah satu ikhtiar ekternalisasi dalam konteks UII setelah melihat potret mutakhir adalah Gema Kami, Gerakan Membina Kampus Islami. Kenapa membina? Pemilihan kata ’membina’ ini adalah wujud penghargaan atas program dan prestasi yang telah dibuat oleh para pimpinan sebelumnya. Telah banyak yang dilakukan, namun perlu selalu dipertahankan dan ditingkatkan.

Tujuan utama Gema Kami adalah membangun sikap. Bukan hanya menertibkan pakaian dan mahasiswa perokok. Budaya belajar dan kerja yang Islami juga perlu dijadikan fokus. Gema Kami bukan proyek jangan pendek yang kehabisan bahan bakar semangat ketika dana habis, tetapi adalah program yang berkelanjutan dan terinternalisasi dalam kesadaran setiap warga UII.

Gerakan dalam rangka pembinaan keagamaan ini bukan tanggung jawab PPAI semata, PPAI hanyalah pengawal. Pemikiran bahwa pembinaan keagamaan adalah tanggung jawab PPAI semata adalah absurd dan karena harus dihapuskan dari alam bawah sadar kita. Gerakan ini harus melibatkan semua sivitas akademika, yaitu dosen, karyawan, dan mahasiswa. Tanpa keterlibatan semuanya, akan terkesan bahwa dosen atau PPAI yang mendapatkan amanah akan bertindak sebagai ’polisi etika atau agama’. Tentu saja hal seperti ini tidak kita harapkan.

Yang terbangun haruslah semangat taushiyah, saling menasihati. Bukankah, kata Allah, hanya orang yang saling menasihati dalam menaati kebenaran dan menetapi kesabaran yang tidak merugi? (QS. 103: 1-3) Semangat ini penting karena tidak ada yang menjamin bahwa tingkat keberagamaan kita akan konstan atau meningkat. Hanya malaikat dan nabi yang tingkat keberagamaan selalu konstan dan meningkat. Bukan kita.


Epilog: Budaya Organisasi dan Generasi Baru Islam

Saya termasuk orang yang optimis, jika Gema Kami bisa kita lakukan dengan baik, embrio budaya organisasi akan muncul dan tunas-tunas generasi baru Islam masa depan akan bertumbuhan. Memang tidak bijak kalau kita mengharapkan hasil instan dari usaha seperti ini. Perubahan akibat gerakan juga tidak lantas dapat kita ukur.

Gerakan seperti ini adalah human investment yang hasilnya akan terasa dalam waktu yang seringkali tidak pendek. Nabi Muhammad memerlukan waktu sekitar 15-20 tahun sejak kenabian untuk membangun masyarakat Madinah dan Mekah. Jadi tidak berlebihan jika kita juga berharap atas apa yang dilakukan saat ini akan terpetik buahnya dalam 15-20 tahun yang akan datang, bukan esok atau minggu depan. Saat itulah para alumni akan menjadi para pimpinan dan pengambil kebijakan di banyak lembaga. Inilah harapan para pendiri UII. Semoga!


Referensi

Collins, J. C., & Porras, J. I. (2000). Builts to Last: Successful Habits of Visionary Companies. London: Random House.
Kuntowijoyo (1997). Identitas Politik Umat Islam. Bandung: Mizan.
Kuntowijoyo (2001). Muslim Tanpa Masjid. Bandung: Mizan.
UII (1994). Setengah Abad UII: Sejarah Perkembangan Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta: UII.

*Tulisan ini dimuat dalam Buletin Al-Islamiyah, No. 29, Tahun XIII, Agustus 2006

6 comments
  1. Wahyu said:

    hmm…. tapi kenapa pak banyak mahasiswa yang kurang disiplin dalam penegakan GNKAI , kan itu juga termasuk ke dalam sisi membina gerakan kampus islami!! apa sanksi nya kurang tegas ya pak?

  2. Fathul Wahid said:

    Saya lebih percaya perubahan karena kesadaran mas. Mahasiswa ada makhluk langka di Indonesia. Tidak lebih dari 15% penduduk negeri ini yang beruntung menjadi mahasiswa. Saya akan sangat menghargai kalau semua orang, termasuk semua dosen dan mahasiswa juga mengawal. Penerapan ‘polisi syariah’ nampaknya hanya merupakan solusi jangka pendek, sependek dukungan dana yang memang cekak. Bagaimana? Ada saran mas?

  3. Wahyu said:

    saran saya dengan Ilmu pengetahuan pak Dengan pengetahuan ini kita boleh memilih yang mana baik dan membuang yang buruk.

    sehingga kesadaran masing2 individu akan muncul!

    namun terkadang ilmu pengetahuan juga menjadi suatu bumerang jika kita terlalu memuja nya

  4. hamba Allah said:

    saya baru2 sekrang ini mebuka blog bapak…
    coz mang tergolong mahasiswa baru anak 07..
    waktu membuka blog bapak saya langsung tertarik dengan posting ini…
    saya disini sangat prihatin dengan keadaan mahasiswanya…
    salah satunya y itu pak “JIILBAB UII”..sya miris mendengarnya..
    mengapa mereka khusunya yang wanita lom menyadari betapa pentingnya menutup aurat mereka…
    pdahal menutup aurat itu bukan aturan yg dibuat oleh universitas
    melainkan aturan yg sudah ditetapkan oleh Allah SWT dari 1400 tahun yg lalu…
    rambut yg masih keliatan..
    pake jilbab tapi pakean masih menmpakkan lekukan badannya..
    jilbab hanya digunakan di kampus saja,selebihnya mereka simpan di lemari..
    yah itu lah fenomena yg saya perhatikan selama saya kuliah di UII(dah kaya mo lulus ja….)hehehe…
    mereka seolah-olah mempermainkan perintah Allah….
    solusinya pa y pak???

  5. @ hamba Allah
    baru liat ya mas, saya aja pertama ya kaget kayak mas. tapi lama-lama kelamaan jadi terbiasa. ehm, kira-kira 6 bulan kali ya.🙂
    (kadang kaget, mahasiswi uii lebih parah pakaiannya dibanding yang kampus umum. liat aja ekonomi)
    ya begitu kalo kalo nggak ada kesadaran, meskipun ada aturan kalo nggak mau sadar sendiri ya akhirnya berusaha keras sebisa mungkin membengkongkan aturan yang ada.
    nb : saya mantan mahasiswa inf 2002.

    oya, Assalamualaikum pak Dekan..

  6. muhammad subhansyah said:

    “Gerakan dalam rangka pembinaan keagamaan ini bukan tanggung jawab PPAI semata, PPAI hanyalah pengawal”…

    ini potongan kalimat yang saya suka pak… memang kita semua harus sadar dan segera mengambil peran dalam pembinaan umat pada khususnya masyarakat kampus ini…

    PR besar kita semua… semoga Allah mempermudah kita dalam mewujudkan niat baik kita,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: