Dosen “Luar Biasa”

Tulisan ini mudah-mudahan menjadi awal sebuah refleksi jangka panjang terkait dengan perkembangan kampus.

Hari ini (29/09/2007), kebutulan saya menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Pembelajaran 2007 yang dihelat oleh Pusat Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional (P3AI) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Konferensi ini digelar dalam rangkaian pelaksanaan program-program TPSDP P3AI. Pembicara lain yang hadir adalah pakar di bidang ini, termasuk Prof. Bambang dari UPN, Dr. Sunarto dari UNY, dan Drs. Djoko, M.Hum. dari UGM. Meskipun saya sebagai salah satu pembicara, saya belajar banyak dari forum ini.

Dalam Konferensi ini saya mempresentasikan pengalaman Universitas Islam Indonesia dalam implementasi e-learning. Alhamdulillah sambutan cukup menarik. Salah satu yang menarik, dalam sesi tanya jawab muncul uneg-uneg salah satu peserta tentang dosen luar biasa, sebutan halus untuk dosen yang biasa di luar sehingga meninggalkan tanggungjawab pokoknya, ketika membahas tentang e-learning.

Ternyata setelah ditelusur, ini adalah masalah umum. Alasan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan banyak dijadikan pembenaran. Saya yakin siapapun tidak ada yang menampik arti penting uang dalam kehidupan. Tetapi kalau uang didapatkan dengan cara yang kurang patut apa yang akan terjadi. Apalagi diikuti dengan pengabaian tanggungjawab dan menelantarkan mahasiswa. Sebuah blog mahasiswa yang sempat saya baca bahkan mengeluhkan masalah ini. Mahasiswa tersebut seakan-akan kehabisan kata-kata untuk menuliskan kejengkelannya ketika dosen sangat jarang masuk dengan alasan yang jelas. Atau, dengan alasan yang jelas tetapi tidak masuk akal. Sama saja.

Saya pribadi pun, sebagai pemegang amanah, pernah menegur beberapa dosen. Beberapa menyambut baik. Mengucapkan terima kasih telah diingatkan, meskipun perubahan yang dilakukan masih dalam urutan 27. Namun ada juga yang kebakaran jenggot, meskipun dosen tersebut tidak punya jenggot sedikitpun.🙂 Ah, yang penting saya telah melaksanakan salah satu tugas. Menyampaikan pesan kebaikan. Bukankah tugas manusia, termasuk nabi, hanya sebagai penyampai pesan kebenaran.

Sekilas alasan ini memang final. Tetapi kalau ditelisik lebih jauh, ada yang mesti diperhatikan. Bukankah Allah menyuruh kita untuk khawatir akan musibah yang ditimpakan kepada sebagian dari kita yang berbuat aniaya. Kita yang tidak berbuat aniaya pun tidak akan luput dari musibah tersebut. Hilangnya kepercayaan mahasiswa terhadap dosen dan lembaga adalah salah satu musibah tersebut. Jika masalah ini berlanjut, tidaklah mengherankan jika animo calon mahasiswa juga menurun karena di luar sana lulusan kita lebih senang menceritakan kekecewaan daripada kepuasan. Diakui atau tidak, black campaign tanpa sengaja ini akan berdampak jangka panjang.

Ekspertis dan in business

Solusinya? Dosen harus kembali kepada khittahnya. Komitmen dan ghiroh harus selalu dipelihara dan dipupuk. Tanpa ini nampaknya yang ditampilkan adalah pengkhiatan atas sebuah amanah. Catur Dharma (pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat, dan dakwah islamiyah) haruslah menjadi pedoman nyata dalam aktivitas keseharian.

Memang tidak ada yang menyangkal kalau mengandalkan penghasilan dari ngedosen seringkali dirasa tidak cukup. Sebetulnya tidak ada yang melarang dosen beraktivitas di luar. Yang menjadi masalah bukannya aktivitas tersebut, tetapi pengabaian amanah. Saya termasuk yang percaya banyak aktivitas yang bisa dilakukan untuk menambah penghasilan tanpa meninggalkan amanah. Kalau dosen sadar bahwa keunggulannya adalah pada ekspertis yang dipunyai dan menyadari kita bisa on business dan tidak terjebak in business, nampaknya masalah yang terjadi bisa teratasi. Sebagian besar dosen “luar biasa” tidak mengandalkan ekspertis dalam beraktivitas di luar, dan sebagian lain terjebak in business, mengurusi bisnis dari dekat dan terjerembab di dalamnya.

Menjadi peneliti, konsultan, menulis buku, atau menjalankan bisnis dengan prinsip on business merupakan beberapa tawaran yang dapat menyeimbangkan hidup sebagai dosen dengan tetap menjaga amanah tanpa menutup diri dari kemungkinan mendapatkan penghasilan tambahan untuk keluarga. Saya sering katakan, “orang yang ingin kaya dengan menjadi dosen adalah orang yang bodoh”.

3 comments
  1. Nico said:

    Sedikit bisa menangkap perbedaan on business dan in business. Lumayan, dpt istilah baru pak🙂

  2. fathulwahid said:

    Kalau Mas Nico sangat pinter memotong rambut, menurut madzhab ini, jangan buka salon. Mengapa? Karena pasti Mas Nico akan merasa lebih jagi dibandingkan dengan semua karyawannya. Yang terjadi? Semua pekerjaan dilaksanakan sendiri karena tidak percaya karyawan akan sebaik Mas Nico dalam memotong rambut. Inilah in business.

    Bukalah usaha lain. Mas Nico mengarahkan tetapi tidak terjun ke yang teknis sekali. Inilah on business. Hehe.. malah kayak kuliah.

  3. Nico said:

    Makasih pak, tambah ngerti. Hehe kuliah kewirausahaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: