Memberi Contoh versus Menjadi Contoh

“Banyak di antara kita yang pandai memberi contoh, tetapi tidak bisa menjadi contoh”. Begitu salah satu ungkapan Ustadz Suyanto dalam Pembinaan Mental Keagamaan (PMK) yang diadakan di kampus hari ini (05/10/07). Tanpa kita sadari nampaknya, selama ini kita lebih banyak memberi contoh tetapi jarang menjadi contoh. Kae lho contoho si A, si B, si Fulan, dan seterusnya. Kita sering ucapkan kalimat sejenis itu, padahal kita sendiri seringkali juga belum melakukan.

Ilustrasi lain adalah seorang bapak yang selalu menyuruh anaknya rajin sholat, padahal si bapak sendiri jarang sholat. Atau si ibu yang menyuruh anaknya yang sekolah di SDIT memakai jilbab, tetapi si ibu mengantarkan anaknya ke sekolah pake tank top, alias kaos yang pamer ketiak. (pst, maaf). Atau mungkin, seorang dosen sangat ketat menuntut mahasiswa untuk berlaku jujur, eh.. dia sendiri melakukan plagiarisme. Masih ratusan kilometer contoh yang bisa dituliskan di sini.

Siapapun kita, nampaknya jika semangat menjadi contoh kita kedepankan, lebih dari separoh masalah bangsa ini sudah selesai. Kalau sudah demikian, biarkan Allah menyelesaikan sisanya. Kita telah do our best. Tetapi, apakah kita sudah? Mudah-mudahan jawabannya adalah “sedang mulai”, “sedang menuju ke sana”, syukur-syukur “sudah”, dan bukan “untuk apa” atau “wong yang lain saja gitu kok”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: