A Perfect Mess

Ulasan buku adalah kategori baru dalam blog. Akan diisi dengan ulasan buku yang sedang atau pernah saya baca. Mudah-mudahan semangat untuk berbagi hasil bacaan ini tetap terjaga, sehingga kategori ini selalu terupdate.

Buku pertama yang akan saya masukkan ulasan singkatnya adalah A Perfect Mess: The Hidden Benefits of Disorder karya Eric Abrahamson dan David H. Freedman. Ini adalah buku saya dengen judul yang sama, kopi yang kedua. Kok bisa? Iya, buku pertama saya hilang di Bandara Internasional Adisutjipto beberapa waktu yang lalu saat saya baca dan lupa dikembalikan ke dalam tas. Pencarian pun telah dilakukan di bagian Loss and Found. Hasil nihil. Berarti ada yang menyenangi buku saya. Lebih baik daripada terbuang ke tempat sampah. La kok sampai dibela-belain beli lagi. Inilah yang menarik.

A Perfect Mess adalah buku yang sangat menarik. Perspektif yang digunakan berbeda. Dari judulnya saja sudah menggelitik, Kesemrawutan yang Sempurna. Banyak hal menarik yang dikupas dalam buku.
Banyak paradoks yang muncul di tengah-tengah kita yang tanpa kita sadari justru menjadikan kita tidak produktif dalam artian yang luas. Pernah membayangkan seorang ABG yang akan keluar jalan-jalan dengan tampilan kasual harus menghabiskan waktu satu jam di depan cermin? Untuk tampil kasual saja perlu satu jam. Atau seorang ibu yang setiap kali sibuk membereskan mainan anaknya yang terserak, tetapi tidak bisa meluangkan waktu bermain dengan anaknya. Atau, apa yang terjadi jika seorang pustakawan datang ke rumah Anda dan membantu Anda mengatur kembali buku-buku dalam perpustakaan pribadi Anda yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan? Saya jamin, Anda akan kesulitan mencari kembali buku Anda dibandingkan jika dalam posisi semula yang telah Anda hapal. Daftar contoh paradoks ini bisa ditemukan banyak sekali dalam buku tersebut.

Pesan apa yang akan disampaikan buku ini? Ternyata untuk menjadi yang terbaik atau optimum, ternyata tidak semuanya harus teratur, tertata rapi. Namun, dalam tingkatan tertentu ketidakteraturan atau kesemrawutan harus ditoleransi atau bahkan dibuat.

Bisa dibayangkan misalkan berapa banyak uang negara harus terbuang jika semua kabel listrik dan telepon akan dijadikan satu dalam gorong-gorong seperti yang sering kita lihat dalam film-film. Biarlah yang sudah seperti itu, saat ini seperti itu. Toh tidak sangat mengganggu. Dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk merapikan. Ini hanya salah satu contoh yang bisa mengubah paradigma kita.

Saya tidak tahu apa yang dibayangkan kawan-kawan Singaporean yang sudah sangat teratur. Negara kota yang sekarang lebih suka menyebut dirinya City of Possibilities, menggantikan semboyan lama, Uniquely Singapore. Denda di mana-mana. Meludahpun repot.🙂

Buku ini tentu saja bukannya menganjurkan untuk menjadi tidak teratur dan semrawut. Tetapi, pada batas tertentu kita bisa mentoleransi ketidakteraturan dan kesemrawutan. Anda yang lebih tahu batas-batas tersebut.

1 comment
  1. Nico said:

    Hihi..Jd inget TA sy pak. Bab 1 blm selesai dah loncat bab 2 n 3. Mudah2an ditolerir🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: