Pelacuran Akademik

Berikut adalah salinan tulisan salah satu guru besar UII yang dimuat di Kedaulatan Rakyat 16 Oktober 2007. Menurut saya topik yang diangkat sangat memprihatinkan kita semua. Fenomena ini juga sudah menjamur di Indonesia, termasuk di Yogyakarta yang merupakan Kota Pelajar. Ini adalah “pelacuran akademik” (ops! maaf) yang nampaknya perlu kita perhatikan bersama-sama.

Iklan pembuatan skripsi atau tesis sudah dilakukan terang-terangan. Tidak sulit menemukan iklan yang berkedok membantu bimbingan skripsi atau tesis. Tidak percaya, coba buku telepon halaman kuning dilihat. Atau kalau Anda berkeliling lingkungan kampus di Yogyakarta, tidak sulit mencari spanduk atau tempelan di pohon atau tiang listrik yang menawarkan jasa tersebut. Atau kalau Anda kurang puas, misalnya, coba lihat ini http://www.skripsife.com. Kalau semua sudah seperti ini, mau dikemanakan kejujuran akademik. Tidak salah jika sarjana yang dihasilkan dengan proses ini pun bermental koruptor dan penipu.

Ini salinan tulisan lengkap Prof. Moh. Mahfud MD *).

Ancaman Lunturnya Kejujuran Ilmiah

Dulu, minimal sampai akhir tahun 1980-an, jika kita berhasil menulis buku atau artikel di jurnal ilmiah, bahkan artikel di media massa umum rasanya sangat bangga. Seorang dosen baru dianggap utuh identitas profesinya jika bisa menulis dalam jenis-jenis tulisan tersebut. Sang dosen bisa berbangga diri dengan predikat ‘ilmuwan’ yang memenuhi syarat untuk bekerja dalam dunia akademik yang menekuni aktivitas keilmuan dengan segala etikanya.

Tetapi sekarang ini keberhasilan menulis buku atau artikel ilmiah tidaklah terlalu membanggakan. Karya tulis ilmiah tidak lagi eksklusif sebagai karya yang benar-benar ilmiah karena sekarang ini sudah sangat banyak orang menulis, tetapi tulisannya tak layak dihargai sebagai karya ilmiah, bahkan banyak yang dibuat dengan melanggar etika dan kejujuran ilmiah.

Sebenarnya, kalau berjalan baik, banyaknya karya tulis harus disambut gembira karena berarti ada kemajuan dalam kegiatan keilmuan kita. Tetapi sekarang ini banyak karya tulis hasil plagiat atau karya ghost writer (penulis hantu, penulis gelap) yang dibayar oleh penulis formalnya.

Untuk Gagah-gagahan
Sekarang banyak tulisan tak bermutu yang bermunculan. Ada yang asal tulis tapi bisa terbit karena mampu membayar penerbit instant yang mau menerbitkannya asal penulisnya mau membayar mahal. Fenomena ini sangat aneh karena biasanya orang menulis mendapat bayaran (honorarium atau royalty), tetapi justeru sekarang banyak penulis yang mau membayar asal tulisannya diterbitkan. Bahkan ada yang mendirikan penerbit untuk menerbitkan bukunya sendiri yang kemudian disebar gratis tapi tak dibaca orang namun dibaca sendiri dan dikagumi sendiri.

Beberapa dosen pernah datang kepada saya untuk minta kata pengantar atas bukunya yang akan diterbitkan tetapi, katanya, dia harus membayar sekian puluh juta kepada penerbit. Untuk apa menulis buku kalau untuk penerbitannya harus membayar? Ternyata hanya untuk kredit kenaikan pangkat dan untuk gagah-gagahan bahwa dia punya buku yang diterbitkan.

Banyak juga politisi yang menulis buku atau artikel di media massa, tetapi dituliskan oleh orang lain alias ‘ghost writer’. Ada juga politisi yang suka mengomentari sesuatu di koran kemudian komentar-komentar itu disuruh tuliskan kepada seorang wartawan agar diberi landasan teori dan analisis, padahal wartawan itu tak kompeten di bidang itu.

Seorang dirjen di satu departemen pernah dengan bangga menyerahkan buku kepada saya yang berisi masalah-masalah hukum. Ternyata buku itu merupakan himpunan pidatonya yang semula dituliskan oleh stafnya untuk kemudian disuruh tulis kepada seorang wartawan menjadi buku. Karena wartawan itu hanya bagus dalam menulis berita atau artikel pop tapi jarang menulis ilmiah maka buku itu menjadi aneh dan sama sekali tidak ilmiah. Jangankan membuat situasi rujukan, menulis daftar pustaka saja tak karuan.

Karya Jiplakan
Tulisan untuk gagah-gagahan seperti itu sekarang ini bukan hanya menjadi trend politisi atau pejabat birokrasi yang ingin gengsinya naik. Tetapi juga banyak melanda kalangan akademisi, mahasiswa pasca sarjana, bahkan dosen yang ingin menaikkan jabatan akademiknya.

Ada dosen yang lebih parah daripada sekadar memaksakan menerbitkan karya tulisnya dengan membayar penerbit dari sakunya sendiri. Mereka ini bahkan ada yang menjiplak karya orang lain untuk diaku sebagai karyanya tanpa merasa malu. Mereka ini juga meminta wartawan yang bagus dalam membuat reportase untuk menuliskan artikel atau makalah atas namanya tetapi honornya diberikan kepada yang menuliskannya setelah ditambah sedikit-sedikit. Si ghost writer mendapat uang, sedangkan si dosen yang sejatinya bodoh mendapat nama sebagai penulis.

Orang seperti ini sama sekali tidak punya integritas keilmuan (kejujuran ilmiah) dan tak mungkin dapat memberi sumbangan apa pun bagi kemajuan pendidikan. Malah dosen yang seperti ini membuat mutu perguruan tinggi kita jadi berantakan. Orientasinya hanya ingin naik jabatan akademik tetapi tak mau berpikir dan bekerja secara ilmiah sehingga dia suka menyewa ghost writer atau menjiplak.

Saya pernah diminta menjadi penelaah sebuah disertasi yang menurut saya bagus, tetapi setelah diuji ternyata yang bersangkutan sama sekali tak menguasai isinya. Ternyata sebagian besar isinya menjiplak karya orang lain. Saya memrotes keras dan menyatakan bahwa demi integritas ilmiah dan menyelamatkan dunia akademik yang bersangkutan harus ‘dieksekusi’ untuk di-drop out atau harus memulai dari awal lagi yang pembimbingannya harus diawasi kalimat per kalimat.

Berdasar hasil perbincangan saya dengan banyak akademisi sekarang ini memang banyak dosen yang menggunakan ghost writer baik untuk menulis disertasi maupun untuk menulis makalah, bahkan menulis kolom-kolom di koran. Untuk naik pangkat tak jarang ada dosen yang mencuri karya temannya bahkan ada yang mencuri data dan analisis karya mahasiswa yang dibimbingnya yang kemudian diklaim sebagai karyanya sendiri.

Kucilkan dan Sumbat
Menurut saya orang-orang yang seperti ini sama saja dengan maling harta yang dari sudut agama adalah dosa. Oleh sebab itu orang yang seperti ini harus dihukum dan dikucilkan dalam proses-proses akademis serta tak perlu diberi promosi apa pun bahkan jalur promosinya sebaiknya disumbat. Mengapa? Karena orang-orang yang suka melanggar etika dan moral akademis seperti ini sangatlah berbahaya bagi kemajuan dunia pendidikan. Kalau orang sudah berani melakukan hal seperti itu maka jika diberi kepercayaan dan tanggung jawab dia dapat berkhianat pada kepercayaan dan tanggung jawab yang dipikulnya.

Orang yang tak punya integritas keilmuan dengan mengaku-aku dan mencuri karya orang lain pasti tidak akan jujur kepada masyarakat. Kalau ada peluang korupsi orang yang seperti ini akan korupsi juga terhadap hak-hak masyarakat. Malahan kalau tak ada peluang dia akan mencari-cari dan membuat peluang untuk korupsi.

Maka, demi menyelamatkan dunia pendidikan kita, setiap perguruan tinggi harus bertindak tegas terhadap orang yang seperti ini. Depdiknas pun tak boleh memble melihat keadaan seperti ini, melainkan harus memberi sanksi disiplin yang keras baik kepada orangnya maupun kepada perguruan tinggi yang mentolerirnya. Kalau tidak begitu, lunturnya kejujuran ilmiah akan terus terjadi tanpa bisa dibendung.

*) Prof Dr Moh Mahfud MD, Guru Besar pada Fakultas Hukum UII dan Pengajar Pascasarjana di lebih dari 10 universitas.

13 comments
  1. Nico said:

    Sbg mhs yg sedang mengerjakan TA, tulisan prof Mahfud ini menggugah semangat utk jujur dlm berkarya. Kl memang ga nyampe ilmunya, bilang aja ga tahu, ga usah pake2 bohong menggunakan karya orang lain.
    Alasan kejujuran inilah,yg membuat sy saat ujian ga pernah mau utk mencontek. Mending ga ush di isi kl ga bisa dripada hrs mencontek ke sebelah. Ya alhamdulillah, nilai tetap bagus🙂

  2. fathulwahid said:

    Setuju mas. Kalau yang baca tulisan ini, dulu pernah nyontek, mudah-mudahan dikurangi, kalau sudah dikurangi mudah-mudahan ditinggalkan, dan mengajak kawannya untuk berlaku jujur. Selama saya menguji TA mahasiswa, dalam sejarah tidak pernah tidak meluluskan mahasiswa yang jujur meskipun nilainya minimal.

  3. Hehe, sampe blog juga ada yang cuma kopas (kopi paste) … Cuma biar dianggep itu tulisannya, tanpa menyertakan nama penulis aslinya.

  4. wawan said:

    Ditempat saya kerja (sebelum saya resign), saya menjadi miris melihat teman2 dosen (tepatnya yang lebih senior dari saya) dalam membuat proposal hibah dari dikti aja mereka sering memanipulasi data demi kelancaran proses pengajuan hibah mereka. Wajar aja kalo beberapa orang mengatakan tempat saya kerja itu sebagai universitas yang lambat maju padahal statusnya negeri.

  5. fathulwahid said:

    Nah, ini contoh lain. Kalau di dunia akademik, pelacuran seperti ini selalu ada, ini ada investasi buruk pendidikan menjadi tidak dipercaya masyarakat.

  6. pengalaman saya, nggak cuman satu dua institusi pendidikan yang melakukan praktek tersebut. ada banyak yang di yk. Dan kalopun belum, mungkin dikarenakan baru tahun pertama mendapatkan dana hibah.

    tapi jangan sepenuhnya menyalahkan institusi dalam hal tersebut, pemerintah saja belum sepenuhnya siap dalam hal system dan tenaga penunjangnya. bahkan saya dengar tahun ini, pengurusnya dana hibah ganti dg person2 yang baru, dan sistemnya juga mo ikut dirombak.

    sebgai contoh dana yg sedianya untuk tahun 2007 aja baru awal januari baru cair, pengadaan hardware yang spec nya dibuat tahun 2007 sekarang menjadi langka, bahkan sudah tidak diproduksi. terpaksa pengurusan surat dan segala macam halnya menjadi suatu masalah baru, belum lagi surat pajak dan dana “talangannya”.

    belum lagi istilah “hibah”, menjadikan hal yang normalnya praktek Ilegal, mjd boleh. contohnya justifikasinya : “wong pemerintah udah ngadiahin uang sejumlah itu ke kita, ngapain perlu dikembalikan, wong namanya juga Hadiah / Hibah terserah kita dong. kalo dibalikin juga paling uangnya nggantung, dan dimanfaatkan u/ urusan lain yang di luar pendidikan ato malah dikorupsi”

    yah, susah hidup jujur di Indonesia.
    * susah bukan berarti tidak mungkin.

  7. filton abraham said:

    saya sebagai seorang mahasiswa, yang baru semester 2 merasa miris dan terkejut sekali dengan apa yang terjadi di dalam dunia pendidikan tinggi saat ini ( jual – beli skripsi ).
    fenomena ini seharusnya tidak terjadi jika semua pihak dapat lebih menghargai makna dari pendidikan itu sendiri.

  8. Wah ikut urun rembuk nich…
    kebetulan saya juga memiliki data seperti ini sejak tahun 2001.

    Munculnya jasa pembuatan skripsi, saya rasa harus juga lebih di gali latar belakangnya, namun satu hal yang saya yakini seberapa besar kita ingin menghargai diri kita -khususnya gelar akademik yang kita sandang-

    Banyak aspek yang mungkin perlu di evalusai:
    1- Mahasiswanya yang kejar “TArget”
    2. Dosen-nya “maaf yang kadang sok sibuk”
    3. PT nya yang suka bebelit belit
    4. atau Biro jasanya Yang Doyan Duit “Proyek…”
    5. Atau Kombinasi antara 1,2 dan 4

    Namun, hal ini biasa dan merupakan ROMAN hidup, jika ada Prostitusi secaanya nyata kenapa Pendidikan Tidak…. Kembalikan ke IMTAK

    Sukses untuk Semua

    budileo

  9. Kabar gembira!! Buat yang suka nulis-nulis, buat penulis muda, buat para blogger, buat temen2 yg hobi nulis tapi belum bisa buat buku, belum percaya diri, sekarang sudah ada medianya,

    Penulis-Indonesia.com, kayak Friendster tapi khusus buat yang hobi nulis, penulis, pujangga, penulis naskah, blogger…

    fasilitasnya juga cukup oke, lengkap dgn alamat pribadi untuk profil, blog, dan album…ada chatnya juga loh🙂
    Baru dibuka 1 Januari 2008 lalu, skrg membernya sudah 300an🙂 rame buanget loohh aktifitasnya!!

    Cepetan gabung ya🙂
    di sini alamatnya :

    Penulis-Indonesia.com atau tanpa tanda –
    PenulisIndonesia.com

  10. Mudah2n para dosen juga bisa lebih bijaksana..
    jgn krn kesibukannya, maka mhs mjd korban.. Konflik kepentingan…

    Ini pula yg sy alami…
    ketika dosen pembimbing sy terlalu sibuk, dan lebih sering berada di luar kota.
    Sulitnya bertemu dosen membuat sy hampir frustasi…
    Waktu terus berjalan, sementara skripsi tdk ada progres yg berarti…

    Untungnya, iming2 jasa pembuat skripsi agar skripsi cepat selesai tdk membuat sy tergoda.

    Mudah2n para dosen dan mahasiswa bisa saling menjaga amanah…

  11. saya kira itu hanya imbas, bukan akar masalah, tetapi lebih ke “ujung masalah”.
    sejak awal mahasiswa2 yang butuh skripsi buatan itu masuk perguruan tinggi itu, sebenarnya masalah sudah dimulai…

  12. harison said:

    mas saya ingin memiliki buku ini, karana saya lagi tulis tesis tentang peranan dosen dalam menghasilkan penelitian,, tolong mas? alamat saya Harison Kepala Labor teknik informatika intitut teknologi padang, ditoko buku sisni belum ada mas,,, mohon bantuanya,, ditoko online juga gak ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: