Ketika bandwidth semakin sempit

Tahun 2005, jika tidak salah mengingat, ketika bandwidt Internet di kampus hanya 128 kbps, nampaknya masih terasa cukup. Betul, karena belum banyak yang memanfaatkan. Seiring dengan penetrasi laptop ke kampus, bandwidth pun terasa kurang. Jadilah 256 kbps. Lumayan, akses informasi ke Internet kembali terasa agak nyaman.

Dalam sekejap, laptop tidak lagi menjadi barang mewah. Kalau sampai tahun 2005, jarang mahasiswa yang menenteng laptop ke kampus, tahun 2008, laptop terhampar sejauh mata memandang.🙂 Bertebaran. Sungguh sebuah kebahagiaan melihat mahasiswa terlihat antusias berselancar di Internet membaca informasi yang bermanfaat untuk pengembangan dirinya, menjalin silaturahmi, dan tentu saja mengerjakan tugas-tugas kampus.

Tanpa terasa, bandwith pun semakin sempit. Jadilah 512 kbps. Seakan berlomba dengan keberhasilan edukasi kepada mahasiswa untuk memanfaatkan Internet, bandwidth ini pun dalam waktu sekejap terasa sudah sesak. Apalagi menjelang siang ketika kesibukan kampus mencapai puncak. Beberapa kebijakan yang kurang populer pun diterapkan. Yang tadinya, jaringan nirkabel terbuka untuk umum, mulai dibatasi dengan otentifikasi user. Beberapa situs yang rakus bandwidth pun terpaksa diblok.

Seringkali kerja di kampus yang memerlukan koneksi Internet pun merupakan latihan kesabaran. Sabar berebut bandwidth yang semakin terbatas karena penambahannya lebih lambat dibandingkan dengan akselerasi penambahan jumlah pengguna. Inilah yang dalam teori difusi inovasi disebut dengan critical mass, massa kritis. Sebuah kondisi di mana inovasi menyebar dengan natural karena manfaat yang sudah terbukti. Tanpa perlu ajakan pun, jumlah pengguna akan selalu meningkat. Persis seperti warung SGPC di pinggiran selokan mataran dekat Kampus UGM. Nampaknya besar bandwidth menang sudah saatnya ditambah. Menjadi 1024 kbps alias 1 Mbps? Kita lihat, karena akan sangat tergantung dengan kondisi keuangan.

3 comments
  1. setuju pak, itukan fasilitas yang memang hak dari mahasiswa dan bisa secara langsung di nikmati. tapi kontrol dan penanaman kesadaran tentang penggunaan bandwidth kampus harus ditanamkan. Jangan sampe ke kampus cuman mo donlot naruto kayak saya.
    Senang punya kesempatan menyambangi blog bapak lagi.

  2. edo said:

    aYo PaK…!!!

    buat program

    FTI GO BANDWITH 1024kbps….!!!

  3. yusdicool said:

    dampak globalisasi…..

    kalau bisa dimonitor langsung, apa yg sedang dibuka oleh user2 di FTI..
    kalau ada yg tidak sesuai / tidak ada hubungannya dengan akademik langsung di”tendang keluar” aja..

    atau ya bandwithnya ditambah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: