Ini dalilku, mana dalilmu?

Mengetahui si penghutang seorang yang paham agama, seorang debt collector, penagih hutan, yang sedang menagih hutang menggunakan banyak dalil. Hutang akan ditagih sampai ke akhirat. Membayar hutang adalah tindakah yang harus disegerakan di samping menguburkan mayat. Dalil-dalil lainpun meluncur dari mulut si debt collector bak seorang ustadz. 

Si penghutang yang juga paham agama juga membalas dengan dalil atau seperti dalil. Sayangilah saudara muslimmu, selayaknya tubuh, jika salah satu anggota sakit, maka yang lain ikut sakit. Barang siapa yang memudahkan jalan saudara muslim, maka Allah akan memudahkan jalannya. Sederetan dalil lain pun mengikuti.

Sepintas tidak ada yang salah dalam fragmen di atas. Namun di sinilah masalah muncul. Atas nama agama seringkali kita melakukan sesuatu menurut ukuran kita sendiri. Dalil-dalil awal harusnya bukan dalil debt collector, tetapi dalil si penghutang. Dalil-dalil kedua sebaliknya.  

Dalil yang muda harus menghormati yang tua adalah dalil yang seharusnya digunakan oleh anak muda, dan bukan untuk orang tua yang gila hormat. Sebaliknya, yang tua harus menyayangi yang muda.

Ketika baju sang suami robek dan meminta bantuan, sekali lagi meminta bantuan kepada, bukan menyuruh, sang istri, tidak lantas sang istri mengatakan, ”Nabi saja menjahit bajunya sendiri. Mbok dicontoh.” Ini dalil untuk suami supaya sadar bahwa istri bukan perusuh. Sebaliknya, ketika istri malas mambantu suami, tidak kemudian sang suami mengatakan, ”Istri yang tidak taat pada suami akan dimasukkan ke neraka.” Ini dalil untuk istri supaya ketika membantu suami dilandasi dengan cinta dan keikhlasan.  

Dalil membayar zakat seharusnya digunakan oleh para muzakki, sehingga tanpa disuruh pun sudah ditunaikan. Jangan digunakan oleh para mustahiq untuk menagih zakat untuk dirinya. Sama halnya dalil dilarang meminta-minta, yang seharusnya untuk para peminta yang papa, dan bukan untuk para pemberi yang berada. Kewajiban yang berada adalah membantu yang papa, sedang kewajiban yang papa adalah menghindarkan diri dari meminta-minta. 

Kalau dalil digunakan tidak pada konteks yang tepat yang muncul adalah monopoli kebenaran. Inilah sebetulnya inti beragama. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil, dan tidak dlolim. Anda tidak setuju? Ini dalilku, mana dalilmu. Lho!?

5 comments
  1. d4d4n6 said:

    Memang sering orang menyalah gunakan dalil sebagai senjata untuk membela diri. HATI – HATI!!! kalau menggunakan dalil bisa2 mendapat dosa jika salah menempatkannya …

  2. Zeindri said:

    Ketamakan merupakan inti dari kegelisahan, dalil pun juga seperti itu. Jika ketemakan tidak ada maka dalil pun tak kan ada seperti orang yg mampu mengerti apa yg menjadi kewajiban nya dan apa yg menjadi hak orang lain. Maka jangan pernah menerima ataupun meminta yg bukan hak kita, karena hidup penuh perjuangan (kayak syair lagu aja…!)

  3. yusdiwibowo said:

    belajarlah adil..sesungguhnya adil itu mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya….

    kita mulai dari sekarang dan dari kita sendiri…

    Regards,
    Yusdi

  4. Fathul Wahid said:

    @Dadang, Zeindri, dan Yusdi – Setuju! Seperti slogannya Nike: Just do it!

  5. Wahyu said:

    hu um seperti slogan nya ninja hokage juga pak, si naruto ” ini lah jalan ninja ku” nyambung nga ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: