Super women

Banyak istri yang harus melayani suami, mulai dari sebelum matahari terbit sampai mata suami terpejam. Kalau Anda belum mendengar ungkapan ini, anggaplah ini ungkapan baru bagi Anda. Anda mau tertawa? Silakan, please, mangga, tafadlol, var saa god. Meskipun lucu, ini adalah ungkapan satiris yang tidak jarang mewakili kenyataan yang malu-malu mengemuka.

Pernah seorang kolega muda yang akan menikah membayangkan kalau sudah menikah, setiap pulang kerja akan tersedia minuman hangat. Ketika capek ada yang memijat. Saya katakan kepadanya, kalau yang diinginkan seperti itu nikahlah dengan pembantu atau tukang pijat. Istri hadir bukan untuk itu. Masih jelas teringat dalam benak kita, pelajaran dari pengajian yang sering kita dengar. Nabi Muhammad pun bahkan menjahit sendiri pakaiannya yang robek. Ketika Nabi pulang kemalaman, Nabi memilih tidur di teras rumah karena rasa sayangnya kepada istri mengalahkan dinginnya malam di tanah Arab. Masih banyak teladan dari Nabi yang bisa dituliskan di sini.

Apa yang diajarkan oleh Nabi adalah jangan terlalu mudah memerintah seseorang, termasuk istri, ketika kita, suami, masih bisa melakukannya sendiri. Ibu Mertua saya pernah bercerita, suatu saat sedang sibuk membersihkan rumah. Bapak Mertua yang tadinya tiduran di kamar karena memang tidak banyak yang dikerjakan setelah pensiun segera bangun dan mengerjakan sesuatu. “Kok tidak tiduran saja,” tanya Ibu Mertua. Sambil nyengir, Bapak Mertua menjawab, “Gak enak, masak istrinya kerja, suaminya tiduran.” Inilah sebuah tindakan yang jantan. Inilah manifestasi rasa sayang.

Cerita lain. Suatu saat ketika saya dan anak yang masih kecil menemani Bapak dan Ibu Mertua ke Bandung naik kereta api (KA). Di KA Bapak bertemu dengan banyak teman lama, karena beliau memang pensiuan PT KA. Salah seorang kawan Bapak tersebut naik bersama istrinya, tetapi istrinya akan turun di suatu kota sebelum Bandung. Ketika KA berhenti pada stasiun kota tersebut, dan kawan Bapak terlihat membiarkan istrinya membawa barang sendiri, turun dari KA, Bapak dengan bercanda kepada kawannya, berkata, “Mbok di antar turun, eling mbiyen pas pacaran.” Akhirnya kawan Bapak tersebut pun menemani istrinya turun dari KA, dan kembali dengan nyengir.🙂

Inilah yang seringkali orang mengatakan, bahwa rasa sayang kepada istri atau suami, harusnya sama dengan sewaktu pacaran dulu. (Maaf, bagi yang tidak pernah pacaran, anggap kalimat tersebut tidak ada). Atau, seperti pada saat-saat awal menikah.

Ketika menulis artikel ini, saya teringat kepada empat orang ibu dosen di kampus yang ruarrr biasa. Pekerja keras dengan komitmen tinggi. Suatu saat mereka curhat. Bak penceramah, saya katakan, kalau kita bekerja tidak dengan rasa ikhlas dan cinta, yang kita rasakan adalah rasa capek yang luar biasa. Harusnya, sewaktu bekerja untuk kampus, kita sadar bahwa banyak yang membantu kita. Selama kita menjalankan komitmen dengan sungguh-sungguh insya Allah semuanya berjalan lancar. Ada batas di mana kita harus memilah, kapan harus memendam dalam-dalam masalah kampus sewaktu sudah sampai di rumah. Kalau tidak, bisa jadi suami atau anak bisa jadi korban. Kata Alqurna, faidza azamta fatawakkal alallah. Ketika niat, komitmen, usaha sudah ditunaikan dengan sepenuh hati, biarkan Allah yang mengerjakan sisanya. Kita harus tawakkal.

Masalah tentu saja akan semakin memburuk kalau, para suami di rumah punya prinsip pada pembuka artikel ini. Istri yang seharusnya tidak punya kewajiban mencari nafkah sudah membantu suami. Mereka juga bisa capek. Harusnya para suami sadar ini dengan komitmen membantu beban di rumah. Membantu istri mengepel atau menyeterika, sebagai contoh, tidak akan menurunkan derajat suami. Ini adalah manifestasi cinta kepada istri. Kalau istri, misalnya, kebagian membuatkan minum, kerjakan sebagai sebuah ungkapan cinta.

Para istri yang mau membantu suami mencari nafkah, dan di rumah seringkali masih dibebani pekerjaan rumah yang serasa tidak henti, adalah wanita super, super women. Istri-istri seperti ini layak dapat empat jempol. Tentu saja juga untuk istri tercinta yang nun jauh di sana, di Groningen Belanda, yang sedang mengambil program doktor. Apalagi kalau dilakukan dengan penuh keikhlasan, dengan penuh cinta kepada suami dan keluarga. Tetapi ini adalah dalil yang seharusnya dipergunakan oleh para istri, bukan oleh suami. Dalil untuk suami, cintailah istrimu, kalau harus ada yang capek mengurus keluarga, harusnya suami, bukan istri.

Kalau sudah seperti ini, adakah yang bisa menunjukkan rumah tangga yang lebih indah? Mau dong!?

8 comments
  1. BamZ said:

    Maap pak Rektor gimana Tanggpan bapak tentang KEYin informatika Yg Selalu bermasalah..Selama saya key In menjadi mahasiswa selalu Bermasalah..dr masalah terlalu banyak User yg megakses sampai Index file di uii.ac.id tidak bisa Login..Apakah perlu pergantian server atau menambah server pak…hehe Mohon kritikan Ini ditanggapai karena sudah banyak sekali Komplain tentang keyin Informatika.Terima Kasih

  2. amitama said:

    kalau semua suami berpendapat seperti pak Fathul…. insya Allah tidak ada suami yang ingin berpoligami..
    Suami berpoligami.. dengan alasan.. istri tidak bisa melayani suami dari sisi ini itu dan sebagainya..
    Bukankah istri juga merasakan hal yang sama?
    Tetapi istri sangat dibatasi dengan aturan 1 suami di Qur’an dan ditakdirkan untuk wajib menerima apa adanya.. dan bisa menerima kekurangan suami…
    Kalo suami? apakah tidak boleh menerima kekurangan istri? sehingga harus tambah istri lagi untuk menutupi kekurangan istri yang laen?

  3. Fathul Wahid said:

    @BAmZ, Wah OOT nih. Tapi tidak mengapa. Waktu keyin matakuliah semester ini memang ada masalah pada load balancing untuk beberapa server. Kita punya lebih dari 100 server untuk berbagai keperluan. Nampaknya sekarang alat untuk load balancing sudah diperbaiki atau diganti. Mudah-mudahan saat keyin semester depan tidak ada masalah lagi. Kalau ada sedikit masalah ‘rebutan akses’ pada waktu yang sama oleh ribuan user, sebagai mahasiswa informatika, Anda tentu tidak kesulitan menjelaskannya. Sudah mengambil matakuliah jaringan komputer kan? Hehehe

  4. Fathul Wahid said:

    @Bu Ami. Ini adalah masalah ekspektasi dan kelapang-dadaan. Ada suami yang ingin istrinya sekaligus menjadi wanita karir, pembantu, tukan pijat, baby sitter, dan lain-lain. Kalau seperti itu, ekspektasi perlu diubah.

    Saya ingat ketika Pak Amin Rais bercerita tentang KH Faqih Utsman, salah satu mantan Ketua PP Muhammadiyah. Suatu saat ada seseorang yang silaturahmi ke Pak Faqih, minta dicarikan istri. Si tamu dengan semangatnya menjelaskan kriteria istri yang dicari, mulai dari cerdas, cantik, pengertian, dsb, dsb semua atribut yang positif, sampai mau dimadu. Apa jawab Pak Faqih? “Kalau ada yang seperti itu, aku juga mau,”. Nah lho. Ini masalah ekspektasi yang berlebihan. Tentu saja ini juga berlaku untuk ekspektasi istri kepada suami. Kelapang-dadaan menerima kekurangan yang mungkin ada adalah pelengkap manajemen ekspektasi ini.

  5. tita said:

    Pak Fathul, salam kenal…
    Saya Tita…
    Istri anda memang ruarrr biasa…..
    Dan ini ternyata karena kalian membangun sebuah tim yang sungguh solid

  6. Fathul Wahid said:

    @Mbak Tita. Salam kenal juga. Saya sudah sering dengar namanya. Mbak Tita juga ruarrrr biasa.

  7. Ass ww Pak Fathul,

    Mengesankan sekali tulisan bapak tentang Super Woman. Kalau semua suami berpikir seperti panjenengan, dijamin para istri di seluruh dunia tidak akan keberatan menerima hadis yang isinya (kira-kira, karena saya tidak hafal persisnya) “Jika Allah mengizinkan, maka aku akan mewajibkan istri bersujud kepada suaminya”. Yang sering terjadi, hadis ini justru dipakai oleh para suami (tentu saja suami yang kurang cerdas) untuk menekan istri, supaya istri tidak melawan, tidak protes, tunduk dan patuh tanpa reserve. Saya pernah melihat seorang suami yang memerintah isterinya bahkan tanpa berbicara, hanya dengan main tunjuk. Menunjuk sepatu, berarti sang istri harus mengelap sepatunya. Menunjuk koran, artinya sang suami minta diambilkan koran (yang sebenarnya lebih dekat dengan tempat dia berada, daripada tempat istrinya berada).
    Kadang-kadang saya berfikir, apakah para suami yang seperti ini tidak punya keinginan untuk dicintai secara tulus oleh istrinya? Sebab, bagaimana mungkin cinta bisa tumbuh di hati seseorang, jika dia merasa tidak dihargai?
    Maaf kalau pikiran saya salah …

    wass,
    Tuti

  8. “kalau kita bekerja tidak dengan rasa ikhlas dan cinta, yang kita rasakan adalah rasa capek yang luar biasa”

    wow, sapa coba yang nggak mau jadi makmum pak Fathul. Berada satu organisasi dengan beliau. Pasti banyak hal yang bisa kita jadiin contoh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: