Menjadi doktor

Selasa, 5 Februari 2008, saya berkesempatan mengikuti ujian terbuka doktor seorang kolega, Dr. Sri Kusumadewi, di Universitas Gadjah Mada. Dr. Sri mendapatkan predikat cumlaude dan menyelesaikan seluruh program doktor hanya dalam waktu 1 tahun 11 bulan, atau tepatnya 1 tahun 11 bulan 20 hari, 2 tahun kurang 10 hari. Superb! Prestasi yang tidak semua orang bisa mencapainya. Selamat kepada Ibu!

Ada banyak hal menarik yang saya amati selama Ibu yang sederhana dan ramah ini menjalani program doktornya. Kesabaran, kesungguhan, dan keikhlasan sangat terlihat. Di sela-sela mengerjakan disertasinya, beliau masih menyempatkan ke kampus secara teratur untuk membimbing mahasiswa, mengajar, dan mengikuti rapat-rapat dewan dosen. Kesibukan dalam mengerjakan disertasi tidak membuatnya terasing dari kebersamaan di kampus.Hobinya terhadap tanaman hias nampaknya ikut andil dalam membentuk kesabarannya.

Kesungguhan sangat terasa pada dirinya. Beberapa buku bahkan dirampung di sela-sela kesibukannya selama program doktor yang cukup singkat itu. Suatu ketika, beliau mengatakan, “Beban menjabat selama dua bulan, sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menulis buku.” Beliau memang sebelum mengambil program doktor mendapatkan amanah sebagai Ketua Jurusan Teknik Informatika. Dan, dua bulan setelah selesai menunaikan amanah, satu buku telah lahir dari tangannya. Dua bulan selanjutnya, lahir lagi sebuah buku.

Kata seorang kawan beberapa tahun yang lalu sebelum Pemerintah mengundangkan UU Guru dan Dosen, “Mengambil gelar doktor, adalah gaya hidup.” Betul. Kalau kita gunakan kalkulasi sederhana dari sudut pandang materialistik, pengaruh gelar doktor terhadap pendapatan tidak signifikan dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan. Persis seperti hobi seorang mengoleksi barang antik untuk koleksi, bukan untuk dijual lagi. Gaya hidup membuat seorang kolektor merogoh kantungnya dalam-dalam untuk menambah koleksi.

Saya termasuk orang yang percaya, jika proses mendapatkan gelar doktor dilandasi keikhlasan, tidak akan menjadikan seseorang menjadi sombong atau ingin mendapatkan perlakuan khusus. Seseorang doktor harusnya mentransformasikan dirinya sebagai pamong, pengemong, dan bukan sebaliknya. Saya pernah sambil gojek melalui Yahoo!Messenger kepada seorang kolega yang sedang mengambil program doktor menulis, “Awas lho kalau nanti jadi doktor, malah minta diemong!”

Derajat doktor memang seharusnya menjadikan orang semakin rendah hati, semakin bersemangat mengembangkan ilmu, semakin ikhlas membagi ilmu, dan at top of those, mampu menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi yang belum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: