Cintai (dan benci) sesuatu sekadarnya saja

Seorang kawan berkomentar, “Lho, bukannya Bapak A dulu benci sekali dengan institusi X, kok sekarang mengundang orang dari institusi tersebut.” Komentar yang jujur dan secara lugas mengungkapkan keheranan. Saya teringat komentar seorang kawan yang bijak, benci atau cinta harusnya bukan didasarkan pada emosi, tetapi karena Allah.

Imam Ali dalam Kitab Nahjul Balaghoh menyatakan semua syair yang syarat dengan nasehat. “Cintai apa yang kamu cintai sekadarnya saja, karena bisa jadi suatu hari nanti, kamu akan membencinya. Benci apa yang kamu benci sekadarnya saja, karena bisa jadi suatu hari nanti, kamu akan mencintainya.”

Memang kadang ada orang yang benci sesuatu atau seseorang sampai ke ubun-ubun. Sampai-sampai apapun yang dilakukan orang tersebut, meskipun benar, selalu terlihat salah. Obyektivitas tergadaikan, karena tertutup rasa benci yang tak terkendali.  Begitu juga, tidak jarang karena saking cintanya kepada seseorang, seakan-akan apapun yang dilakukan terlihat benar. Anak muda punya adagium, “Kalau sudah jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat”. Ops!

Jika kita harus membenci seseorang, yakinkan, yang Anda benci adalah perbuatannya, bukan orangnya. Jika hal itu terjadi pada hubungan profesional, pastikan Anda pisahkan dari perasaan emosional yang sifatnya personal. Karena dengan demikian, kita akan menempatkan sesuatu pada proporsinya.

Hubungan profesional harus dibedakan dengan hubungan personal. Seberapapun dekat secara personal, harusnya tidak menggugurkan kewajiban profesional. Kalau harus marah, marahkan secara profesional. Persis seperti seorang aktor yang marah ketika diperintahkan oleh sutradara. Kemarahan hilang seketika kata “cut” diteriakkan!

13 comments
  1. nico said:

    setuju pak. cuman kadang ya itu tadi, kalo dah jatuh cinta/benci, suka lupa. hehehe..

  2. setuju juga..cinta kadang2 membuat buta penilaian, jeruk di bilang apel..hehehe
    pak boleh request g pa??klo boleh nih pak..
    minta tolong di add di blogroll nya pak fathul
    http://blog.dimasshogun.com
    makasih pak

  3. Fathul Wahid said:

    @Mas Dimas, Request granted. Sudah saya add ke blogroll.🙂 Keep blogging!

  4. zeindrisaputra said:

    saya setuju juga pak…..karena cinta dan benci berlebihan itu bisa memberi nilai positif atau sebaliknya memberi nilai negatif pd langkah hidup seseorg tersebut. Jd lebih baik kita hanya sekedar bilang “suka” dan jgn pernah bilang “cinta” karena cinta memberikan persentasi yg sangat tipis pd kebencian.

  5. ah.. saya sudah lupa Pak.. gimana rasanya benci.. dah lama saya tidak merasakannya.. paling pol cuma “tidak suka” dan kalau saya tidak suka ya berarti saya tidak suka.. dan saya tidak akan melakukannya..

    nah.. klo cinta saya paham Pak.. saya sering merasakan kehadirannya.. saya cinta udara.. saya cinta matahari.. saya cinta pohon.. saya cinta manusia.. saya cinta langit.. saya cinta bumi.. ahh… banyak yang saya cintai… karena saya sedang belajar mencintai sang Pencipta cinta..

    *he666.. sok puitis bgt saya!!!

  6. makasih byk pak udah dimasukan ke blogroll dekan UII,hehe

    klo terlalu cinta terhadap sesuatu memang gak boleh berlebihan,bakalan sakit klo kehilangan…
    tp klo cinta yang hakiki kepada Allah ini gak boleh setengah2..sekarang byk soalnya setengah2..hehehe

  7. yusdiwibowo said:

    benci=benar-benar cinta….

    fenomena aneh yg benar2 ada..

  8. yusdiwibowo said:

    eh kl boleh saya request juga ya pak di add di blogrollnya…….hehehehe

    terima kasih banyak pak

    Regards,
    Yusdi
    http://yusdi.wordpress.com

    Keep Blogging !!!

  9. Fathul Wahid said:

    @Mas Yusdi, Link saya masukkan ke Blogroll. Keep blogging!

  10. Menurut saya sih, cinta adalah sumber energi. Cinta kepada Sang Pencipta, cinta kepada hidup, cinta kepada seseorang, cinta kepada apa saja. Ketika merasakan cinta, kita menjadi bersemangat dan memiliki tujuan. Karena cinta, saya jadi rajin bekerja, berusaha menjadi cantik, meskipun orang yang saya cintai nun jauh disana dan tidak pernah bertemu dengan saya … he he …. kasihaan deh.

    Benci? Benci adalah racun hati. Oleh karena itu janganlah membenci sesuatu hingga merasuk ke dalam hati dan pikiran. Jika menemui hal-hal yang tidak menyenangkan, lebih baik kita menghindar, agar hati tidak teracuni dan menjadi rusak karenanya.

    Pak Fathul, terimakasih sudah memasukkan blog saya ke dalam blogroll. Tapi nama blog saya sekarang adalah Tutinonka’s Veranda, bukan lagi Tutinonka’s Weblog. Maksudnya, beranda untuk ngobrol-ngobrol tentang apa saja, gitu ….

    Salam.

  11. Fathul Wahid said:

    Setuju Bu Tuti. Terima kasih atas ulasannya. Link ke blog sudah saya update Bu.🙂 Keep blogging!

  12. oasis_nn said:

    Menurut saya juga akh,

    cinta itu harus di pentookin biar dpt rasanya, hihihihihi, kalo nanggung hambar, ngga dpt top nya, gleg’
    trus kalo benci, buru 2 inget tuhan, istigfar biar energi ngga’ banyak ilang n’ syetannya kabur buru buru, kan balik cinta lagi deh jadinya, hihihihi.

    Pak wahid apa kabar🙂

  13. him's said:

    emm iya ya…kadang kita kalo lagi cinta terlalu cinta sama sesuatu,,di saat kita kehilangan apa yg benar2 kita cintai baru kita merasakn sakit,,tapi bukannya lebih baik kita berusaha mengalahkan kebencian dg cinta?? walaupun itu susah…he..he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: