Ketika Nilai Pribadi Menjadi Norma Sosial

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda menginternalisasikan nilai pada dirinya. Banyak sumber nilai yang digunakan, mulai dari ajaran agama sampai dengan refleksi atas norma sosial yang berlaku. Tidak jarang hasil internalisasi ini berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Dalam konteks ini, perbedaan yang ada harus disikapi dengan arif, saling memahami, dan bukan sebaliknya memaksakan nilai pribadi menjadi aturan atau norma sosial.

Kalau ada seseorang, yang kebetulan diberi amanah pada jabatan tertentu misalnya, yang suka bekerja keras, sebagai manifestasi nilai pribadi yang diyakini, sehingga melebihi jam kerja normal, tidak lantas semua bawahannya harus seperti dia. Apa jadinya jika semua bawahan harus seperti itu? Konflik dalam tingkatan tertentu pasti akan muncul. Ini adalah contoh ketika nilai pribadi dipaksakan menjadi normal sosial. Entitas sosial dalam contoh ini adalah organisasi.

Contoh lain. Misalkan ada sebuah pekerjaan tambahan yang harus dibebankan kepada semua bawahan atau kolega. Sebagai pribadi bisa jadi seorang pemimpin akan mengatakan, kalau saya untuk pekerjaan tambahan seperti ini tidak akan minta bayaran. “Tidak minta bayaran” adalah ungkapan nilai pribadi yang diyakini. Tetapi, para bawahan dan kolega yang mendapatkan pekerjaan tambahan harus dijaga haknya untuk mendapatkan imbalan atas apa yang dikerjakannya. Jika hal yang demikian dipaksakan saya yakin potensi konflik akan membesar. Hal ini dalam bahasa lain adalah “kebijakan ukur badan sendiri.”

Kedua contoh di atas adalah contoh “kebijakan ukur badan sendiri” yang “positif”. Keadaan semakin tambah rumit jika arahnya menjadi “negatif”. Karena seorang pimpinan harus banyak menghabiskan bahwa waktu di luar sebagai akibat komitmen yang dibuatkan dengan pihak lain, maka aturan di dalam organisasi diubah. Misal, dosen, dalam konteks universitas, tidak harus ngantor, supaya pimpinan dapat pembenaran dengan aktivitasnya di luar kampus. Dampak sosial kebijakan dalam contoh ini sangat luar biasa. Hal ini benar-benar terjadi di sebuah PTS di Jakarta yang dari “curhat” salah satu deputi pimpinan, sekarang menjadi sulit menertibkan dosen karena keterlanjuran kebijakan ukur badan sendiri itu. Banyak contoh lain yang bisa diberikan di sini.

Saya yakin, sangat sering potensi konflik di sebuah organisasi muncul karena masalah ini yang setiap orang akhirnya merasa paling benar. Nilai yang diyakini oleh orang lain dianggap salah dan karenya patut dicap sebagai, “tidak berbudaya”, “tidak islami”, “tindakan orang kafir”, dan sebagainya. Nampaknya dengan semakin beragamnya pendapat yang merupakan ungkapan nilai pribadi, budaya yang perlu dikembangkan adalah budaya “ko-eksistensi” dengan berpegang pada norma, aturan, konvensi, serta komitmen bersama yang telah dibangun. Jika demikian yang dilakukan, nampaknya hidup akan semakin damai.

1 comment
  1. Nderek curhat pak,

    saya sendiri juga menjadi korban filosofi “ukur badan sendiri” pak, kerja tanpa kontrak yang jelas, sering dirubah sesuai keinginan atasan, diharapkan untuk mampu berjuang dan berkorban jiwa raga dan tenaga bagi perusahaan seperti beliau yang memang sudah lama dan menjadi salah satu forefoundernya.

    sering menceritakan betapa susah dan berat kesulitan yang dihadapi saat dulu perusahaan diwiwiti. memberikan gambaran penderitaan beliau dan ujung-ujungnya meminta kami juga sama seperti halnya beliau. Menuntut keihlasan bekerja dan hasil yang bagus, sedangkan hak-hak kami nggak dijaga. mau komplain takut di pecat.. kalau di ajak diskusi selalu kami yang dibuat merasa bersalah (beliau memang smoothtalker).

    yah, itung2 pengalaman pak dan contoh. minimal InshaAllah saya akan jadi pimpinan yang lebih baik dari beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: