Sadar Peran

Setiap saat dalam kehidupan, seorang anak manusia pasti sedang menjalani sebuah peran. Apapun itu. Formal maupun informal. Yang terkait dengan usia, kemampuan, atau faktor lain. Peran-peran tersebut seringkali menjadikan kita tidak dalam posisi yang sederajat. Ada orang tua, ada anak. Ada pimpinan, ada anak-buah.

Kondisi ini adalah keniscayaan seperti yang telah difirmankan oleh Allah. “… dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain …” (QS Az-Zukhruf 43:32). QS Al-An’am 6:165 juga menyampaikan pesan serupa. Tentu saja tidak lantas berdasar ayat ini bertindak sewenang-wenang. Ayat ini tentu saja tidak berdiri sendiri. Muatan keadilan (tidak melulu harus sama-seragam) harus juga mewarnai. Jarak yang ada harusnya masih dalam kisaran yang wajar.

Jika Anda sebagai pimpinan, ayat ini harus diterjemahkan dengan bingkai kearifan yang mendalam. Ada ujian atas posisi yang lebih tinggi. Kesombongan dan kesewenang-wenangan sangat mungkin datang menggoda. Termasuk adalah keinginan lari dari tanggung jawab atau tidak mau mengambil risiko. Mengambil risiko adalah tugas pimpinan. Jangan jadi pimpinan jika tidak berani mengambil risiko!

Jika Anda sebagai bawahan, ayat ini harus dilihat sebagai sebuah penuntun kesadaran bagaimana menjadi bawahan yang baik. Inijuga yang seringkali menjadi masalah. Dengan berkelakar seringkali saya katakan bahwa jika ada yang disebut dengan leadership training (pelatihan kepemimpinan), mungkin dalam tingkatan tertentu ada followership training (pelatihan tentang bagaimana menjadi pengikut/bawahan yang baik). Tentu saja ukuran baik di sini tidak berdasar selera atasan atau pimpinan, meskipun salah satu peran bawahan adalah mengikuti garis kebijakan pimpinan selama tidak melanggar aturan yang ada, termasuk aturan agama. Jika pimpinan salah langkah, bawahan juga wajib mengingatkan.

Jadi, apapun peran yang sedang kita mainkan, jalani dengan serius dan sepenuh hati. Tanpanya, peran yang kita mainkan akan hampa karena hanya akan sekedar menghabiskan ruang dan waktu yang diberikan kepada kita.

2 comments
  1. dimas said:

    memang terkadang manusia susah untuk menerima perintah, yang seharusnya di sadar, suatu kelompok jika tidak ada pemimpin pasti bubar, nah giliran ada pemimpin kalau dikasi perintah kerja susahnya minta ampun.. ogah2an..
    mungkin dikampus perlu ada followership training Pak.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: