Down to Earth

Tadi pagi dalam running text sebuah televisi swasta muncul teks yang menarik perhatian tetapi sekaligus membuat miris. “Hungry Congo refugees got soap, no food”. Pengungsi Kongo yang kelaparan mendapatkan sabun, bukan makanan. Mereka tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan, tetapi mendapatkan apa yang menurut pemberinya dibutuhkan.

Kasus seperti ini bukanlah satu-satunya. Masih banyak kasus lain serupa. Seringkali si pemberi memberikan apa yang sebetulnya mempunyai tingkat prioritas rendah bagi penerima. Ini bisa jadi karena si pemberi lebih sibuk dengan pendapatnya sendiri dan pendapatnya menjadi tidak membumi. Inilah sebetulnya metafora pengambil kebijakan. Kebijakan atau keputusan haruslah down to earth, sesuai dengan yang dibutuhkan. Dalam bahasa manajemen ini disebut dengan do the right tings alias efektif.

Contoh lain. Pernahkan anda mendengar seorang dai yang mengambil tema tentang zakat tetapi sedang berceramah di antara para mustahiq. Atau berceramah tentang haji di antara jamaah yang tidak mampu haji. Salahkah? Tentu saja, seperti halnya memberi pengungsi sabun, tidak salah. Yang salah adalah mereka yang tidak peduli. Tetapi kenapa tidak memberi makanan yang lebih dibutuhkan? Apakah tidak lebih baik misalnya ceramah tentang arti kerja keras dan pentingnya kesabaran. Dalam hazanah kajian Islam, inilah yang oleh Prof. Qureish Shihab disebut dengan membumikan Al-Quran atau oleh Prof. Syafi’i Ma’arif dengan membumikan Islam. Kontekstualisasi dalam setiap pengamalan ajaran atau pengambilan kebijakan harus dilakukan.

Jangan-jangan dalam posisi kita sebagai apapun juga tanpa sadar melakukan hal serupa. Sebagai orangtua seringkali lebih bersemangat menjadi dokter dan memasukkan anaknya ke pendidikan dokter meskipun jelas anaknya tidak suka. Orangtua lebih bersemangat mendapatkan peringkat pertama di kelas dibandingkan anaknya yang memang tidak bisa dipaksa untuk itu. Seorang kakak yang memaksakan sesuatu kepada adiknya yang tidak disukai oleh adiknya.

Juga, seorang dosen yang mungkin memaksakan semua mahasiswanya menguasai semuanya secara luar biasa. Seorang mahasiswa yang menginginkan dosen bertindak sesuai dengan keinginannya meskipun dia tahu melanggar aturan yang ada. Pimpinan yang menginginkan karyawan harus sama dengan dia tanpa melihat konteks dan peraturan yang ada. Seorang karyawan yang maunya kerja sekenanya dan seperlunya tanpa mempertimbangkan rekan kerja atau pimpinan.

Banyak kasus yang tanpa sadar kita lakukan dan kita jumpai dalam keseharian, karena kita terlalu sibuk dengan pikiran kita, pendapat kita. Kita tidak mau melihat ke “bumi”, bagaimana seharusnya bertindak, mengambil kebijakan, mengikuti aturan yang ada, dan menjaga perasaan sesama. Membuat kebijakan adalah mudah dan murah, tetapi membuat kebijakan yang salah akan mahal akibatnya.

3 comments
  1. hanafi said:

    seperti yang kemaren dikisahkan di oprah winfrey show. Para pengungsi diberikan obat-obatan, namun nggak diberikan makanan padahal yang dibutuhkan adalah makanan. jadi nggak ada manfaatnya.. kan kalo orang sakit makan dulu baru minum obat. yah, jadi sia-sia obat2annya.🙂

  2. aveef said:

    Waw.,., keren artikelnya… sipp pak.,. menambah khasanah ilmu dan memberi nutrisi hati..
    makasih pak..
    saya ijin mengkoleksi artikelnya..
    ^^

  3. abdul hakim said:

    baru baca..bagus artikelnya..
    sederhana tp subtantif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: