Servant Leadership

Kepemimpinan Pelayan, begitu kalau diterjemahkan secara langsung. Istilah servant leadership sendiri dalam literatur modern muncul pada awal 2000a. Saya teringat, dalam hazanah sejarah Islam, praktek servant leadership sangat jelas maujud dalam diri Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Istilah servant leadership diperkenalkan oleh Greenleaf dalam bukunya yang berjudul Servant Leadership: A Journey into the nature of Legitimate Power anda Greatness yang terbit tahun 2002. Baik, kita kutip beberapa kalimat yang mendeskripsikan servant leadership.

“… is growing practices that call leader to be more pragmatic and lead others by serving them”

“… implies that true servants make true leaders”

“… provides a fresh outlook based on their past experiences and contribute to society by meeting its demand in an earnest effort”

“… pushes for a moral community that shapes character and behavior, a community that serves as a stabilizing force in society, a community that focuses on the worth and value of people, a community with a soul”

Masih banyak deskripsi lain yang bisa dikutip di sini. Intinya adalah bahwa pemimpin harusnya adalah pelayan dari pada pengikutnya, bawahannya, yang dipimpin. Bukan sebaliknya selalu minta dilayani. Terus terang, untuk beberapa orang dengan paradigma lama yang melekat dan mengagung-agungkan posisi atau jabatan, wacana seperti ini mungkin dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Itu kan zaman Nabi, itu kan zaman Umar. Demikian, kira-kira komentar mereka yang tidak setuju.

Kita masih ingat betul dalam sejarah Nabi dituliska bahwa Nabi adalah orang yang sangat humbel, bersahaja, dan tidak gila hormat. Ketika makanan hanya cukup untuk satu orang tamu, Nabi bahkan berpura-pura makan menemani tamu. Ketiga bajunya sobek, Nabi bahkan menjahitnya sendiri. Ketika Nabi bepergian dn pulang terlalu malam dan tidak mau mengganggu istri yang sedang tidur, Nabi memilih tidur di teras.

Umar juga sahabat yang terkenal tegas sangat hati-hati sebagai pemimpin. Lampu yang menggunakan minyak negara saja dimatikan ketika akan mendiskusikan masalah yang tidak terkait dengan negara. Umar juga mau turun ke desa-desa untuk mendengarkan keluhan rakyat, dan bahwa memanggul karung gandum sendiri kepada rakyatnya yang ketika itu membutuhkan. Ali terekam dalam sejarah juga sangat tawadlu’. Sewaktu rakyat mengagung-agungkan ketika mendatangi dan pamitan dari sebuah kunjungan, Ali menolaknya.

Saya membayangkan jika semua pemimpin bisa meneladani yang demikian itu. Pemimpin yang mau tahu pekerjaan karyawan, yang mau tahu kerumitan menyelesaikan sebuah tugas, yang peduli dengan usaha yang dikeluarkan untuk merampungkan sebuah kegiatan. Pemimpin yang tidak hanya tahu beres, pemimpin yang bukannya tidak peduli dengan orang-orang yang membantunya.

Kalau saja semua pemimpin ingat dari mana dia berasal, asal mula dia bisa memimpin yang seringkali karena dukungan orang banyak, bagaimana kalau tanpa dukungan dia bekerja, mungkin tidak akan sulit menemukan pemimpin yang dapat melayani. Menjadi pemimpin bukannya sebuah kesempatan untuk bertindak sesuai dengan kepentingannya, tetapi justru untuk memenuhi kepentingan orang banyak.

2 comments
  1. nurrahman18 said:

    betul pak fathul, setuju. mengutip perkataan bung karno (kata orang dikenal sebagai founding father indonesia), “pemimpin adalah budak rakyat”. dan baru kemaren, obama menang, yang ditengarai sebagai tonggak kebangkitan kepemimpinan yang penuh ketultusan (walaupun belum terbukti, kan baru hanya kampanye politik :D). sekiranya justru bisa memantapkan pemahaman “seorang pemimpin” di indonesia. pemimpin yang oleh pak fathul harusnya servant leader, dan bukan pemimpin yang ingin “mencari nafkah, harta sebanyak-banykanya” dari posisi jabatannya.

    http://www.nurrahmanarif.wordpress.com

  2. hanafi said:

    pimpinan paradigma baru itu yang minta hak dulu terus kewajiban ya pak?🙂
    Kalo Bapak pernah baca buku Ahmad Dinnejad, disitu sungguh nampak figur pimpinan paradigma lama. yang rela menjadikan istana negaranya menjadi museum untuk dinikmati rakyat dan mengumpulkan uang negara, yang menyuguh tamu negara hanya dengan pisang, yang dengan enaknya tiduran di tikar mesjid tanpa complain, mobilnya juga nggak ganti setelah jadi presiden.. padahal mobilnya butut pak.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: