Topi Daun

topidaun2Bayangan saya kembali ke masa kecil, ketika hari ini sedang bermain dengan anak saya. Sejak dua setengah tahun terakhir, mempunyai waktu bersama si kecil merupakan sebuah berkah yang luar biasa. Tidak jarang saya harus berkali-kali minta ijin kepada si kecil ketika harus menggunakan hari libur untuk urusan kampus. Sebetulnya saya harus memberikan sambutan pada acara yang dihelat oleh mahasiswa di kampus, namun teknologi Internet dengan instant messenger yang dilengkapi dengan video conference manjadikan saya tidak harus pergi ke kampus untuk memberikan sambutan. Sambutan saya berikan dengan bantuan teknologi tersebut.

Sejak semalam, saya tanyakan mau ke mana besok pagi? Mau main apa? Nampaknya si kecil tidak berminat jalan-jalan. Saya tawarkan ke Time Zone untuk bermain yang merangsang reflek dan motoriknya, dia tidak mau. Saya akan ke pameran buku, nampaknya sedang tidak berminat. Saya tahu dia adalah penggemar buku. Dalam satu bulan terakhir, setiap hari saya cek tas sekolahnya, selalu ada buku dari perpustakaan. Mulai dari biografi Galileo yang berpendapatn bahwa bumi adalah pusat alam semesta yang akhirnya mati di tiang gantungan, Graham Bell si penemu telepon, si musisi jenius Bethoven, Miss Potter yang terkenal dengan buku kisah kelincinya, sampai dengan novel-novel terbitan Mizan dengan tajuk Kecil-Kecil Punya Karya, seperti 2 of Me yang menceritakan anak kembar, yang memang ditulis oleh penulis-penulis cilik.

Topi daun adalah pilihan mainan yang akan dibuatnya hari ini. Minggu sebelumnya kami membat pagar dari kertas untuk maket rumah tugas kelompok sekolah. Dengan modal stapler dan gunting serta beberapa lembar daun mangga, jadilah topi daun tersebut lengkap dengan aksen telinga dan hiasan lainnya. Keranjang kecil pun dibuat dengan bahan yang sama.

Ternyata, tidak selalu yang mahal yang membuat bermain asyik. Yang murah pun tidak kalah asyik jika kita nikmati. Justru kreativitas menjadi diasah. Setelah cukup lama dan puas bermain dengan topi daun, si kecil meneruskan main game komputer. Dia unduh sendiri flash game dari website yang alamatnya sudah dia hapal bersama alamatnya bersama temannya. Kadang dia juga melakukan googling untuk mencari game. Saya hanya menemaninya ngobrol.

Rasanya cukup menyenangkan dapat meluangkan waktu bermain bersama anak. Jika Anda sudah menjadi orangtua, bekerja, dan mempunyai anak, ingatlah bahwa keluarga juga punya hak, apalagi anak Anda, sehingga kisah berikut yang saya kutip dari sebuah milis tidak terjadi pada kita.

Berikut kisahnya:

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab
aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa? Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000.

Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp 400.000 untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang
Rp 5.000 enggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis.

“Papa bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000 di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,”Maafkan Papa, Nak. Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000… lebih dari itu pun Papa kasih,” jawab Andrew.

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya… tapi buat apa?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp 15.000, tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000, jadi setengah jam aku harus ganti Rp 20.000. Tapi duit tabunganku kurang Rp 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa,” kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

10 comments
  1. “I expect to spend more time playing with my kids. They will be poorer when they grow up, but perhaps they will have a few more happy memories.”

    Demikian Prof. Mankiw, salah seorang ekonom favorit saya, berkomentar mengenai apa yang akan dilakukannya selepas kemenangan Obama. Kemenangan Obama, beserta sejumlah paket kebijakan ekonomi yang diusungnya, dalam pandangan Prof. Mankiw berarti pengurangan incentive to work sebesar 63% dibandingkan dengan jika McCain yang menang, tentu dengan tax cut policy-nya.

    Tapi, saya yakin almost Indonesian parents tidak harus menggunakan hitung-hitungan a la Prof. Mankiw untuk memberikan waktu luang dan ‘memori indah masa kecil’ bagi putra-putrinya. Selamat untuk Pak Fathul dan si kecil.

  2. Fathul Wahid said:

    Terima kasih telah mampir Mas Yuli. Sepakat 100% dengan Prof. Mankiw. Kita kerja pun untuk siapa sih? Pasti untuk keluarga, terutama anak. Lha, kalau kerja dan anak malah tidak terurus dan merasa tidak diperhatikan, kan jadi ada yang perlu diluruskan.

  3. Hana said:

    Boleh mampir Pak Fathul, saya sangat menyukai tulisan-tulisan Bapak, dan dalam kehidupan sehari-hari Bapak selalu bercerita tentang putri Bapak yang cerdas dan lucu dengan berbagai gaya. Sangat jarang seorang ayah yang super sibuk seperti Bapak bisa meluangkan waktu untuk putri tercinta. Salut dan sukses selalu

  4. Fathul Wahid said:

    Makasih Mbak Hana. Jadi tambah besar jempolnya nih. Saya hanya berusaha menjadi hamba Allah, dosen, dekan, atasan, bawahan, bapak, suami, dan kolega yang baik. Tidak lebih. Mudah-mudahan usaha saya berhasil.

  5. dimas said:

    wow.. tulisannya bikin saya pingin nangis.. kata2nya begitu mendalam..

  6. sigit said:

    menarik pak kisahnya..
    saya juga jadi inget sama jawaban Aa gym waktu tampil pertama kali di Kick Andy setelah ‘kasus’ yg sempat menyudutkan beliau.
    jawaban yang cukup bijak menurut saya, beliau merasa waktu untuk keluarganya banyak tersita ketika beliau banyak disibukkan dengan aktifitas diluarnya. tapi dengan adanya ‘kasus’ yang dialami aa gym menjadikan aa gym ‘berkurang atau mengurangi’ aktifitas di luarnya dan mengatakan kalau menjadi lebih banyak waktu untuk keluarganya.
    terlepas dari apapun motivasi mengatakan hal tersebut, tapi menurut saya memang perlu keseimbangan waktu aktifitas luar dan keluarga sendiri.
    jangan sampai kita menyesal.

  7. ade said:

    Dear Pak Fathul,

    To be honest, this is how I expect my child grow with.
    Doain bisa jadi ibu (to be) yang baik ya pak.

    Ade

    Note : crita2nya bener2 bikin lembur saya lebih ceriaaaa …

  8. terima kasih pak.. atas tulisan diatas. jadi inget keluarga (bapak, ibu dan adik) saya dirumah, keasikan ma diri sendiri sampe lupa sms dan telepon.. sms dulu ah.

  9. Fathul Wahid said:

    @All, terima kasih atas apresiasinya.

    @Mbak Ade, saya doakan menjadi ibu yang baik.

  10. fina arek janti said:

    maksu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: