Kita Adalah Apa yang Kita Lakukan Saat Ini

Saya sering mendengar orang bergumam. “Oh, dulu kalau tidak ada saya, itu tidak akan jadi!”,  “Walah, dulu saya, bekerja keras untuk membantu membuat ini dan itu. Gak ada uangnya!”, dan yang sejenisnya. Tidak ada yang salah dengan fakta ini. Hanya saja, kalau orang yang bergumam tersebut masih melakukan hal yang sama akan sangat bagus. Inilah yang dalam Islam disebut dengan istiqomah, konsisten.

Mengapa penting? Masa lalu tidak bisa diputar. Benar, masa lalu mempunyai kontribusi kepada masa kini, tetapi kita tidak bisa hidup hanya dengan membanggakan masa lalu. Kita adalah apa yang kita lakukan sekarang. Seseorang boleh mengaku dulunya santri atau anak kyai, tetapi kalau sekarang menjadi preman, maka dia adalah preman. Tidak sedikit contoh yang bisa kita lihat di dunia nyata. Banyak orang sukses pada masa lalu, tetapi karena lupa bahwa umur bisa bertambah dan popularitas bisa surut, masa depan tidak direncanakan dengan baik. Saya teringat cerita kawan tentang seorang penarik becak di salah satu wilayah di Yogyakarta yang mendapatkan uang sangat banyak dari turis asing yang sering dia antar. Uang tersebut seharusnya bisa dilakukan untuk mengubah nasibnya dengan dijadikan modal usaha, salah satunya. Apa yang dilakukan penarik becak tersebut? Segera setelah mendapatkan uang tersebut, gaya hidupnya berubah. Tidur di hotel. Setelah habis uangnya, kembalilah dia sebagai penarik becak. Tetap menekuni pekerjaan di sini tentu saja bukan istiqomah. Dalam istiqomah ada komponen hijrah, pencarian status yang lebih baik.

Sebaliknya, seorang dapat mempunyai masa lalu yang kelam, tetapi kalau sekarang dia menjadi ustadz, dia adalah ustadz. Banyak contoh juga yang telah ditayangkan di dunia nyata. Mantan bromocorah atau preman yang kini menjadi ustadz adalah salah satunya.

Sindrom nostalgia inilah yang seringkali menghambat orang untuk berkembang dan maju. Jangan mentang-mentang kita pernah merasa berjasa, kemudian gila hormat, minta dihargai tanpa prestasi apa-apa untuk saat ini. Orang yang hidup di bayang-bayang masa lalu ini biasanya cenderung menjadi pemberontak dan justru tidak melanggengkan apa yang telah dia kerjakan pada masa lalu tetapi seperti menagih bayaran lebih atas yang telah dilakukan meskipun telah dibayar sebelumnya.

Kalau kita melakukan kebaikan dengan niat lurus, nampaknya hasilnya akan berbeda. Tidak perlu menyuruh orang mengingat kita, menghargai kita. Kebaikan kita akan selalu diingat, orang akan menghargai kita, meskipun bukan itu tujuan kita berbuat baik.

Jangan-jangan kita juga termasuk orang yang terlalu mencintai masa lalu dan lebih memilih hidup di bawah bayang-bayangnya.  Kalau demikian halnya, kita tak ubahnya sopir kendaraan dengan kaca depan tidak tembus pandang tetapi mempunyai kaca spion yang terlalu besar. Mudah-mudahan tidak!

4 comments
  1. fadli said:

    bener bgt Pak..
    kita adalah apa yg kita lakukan saat ini. bkn saat kmaren atw saat nanti🙂

  2. agus said:

    Mungkin benar bila ada ungkapan yang mengatakan, hanya keledai yang jatuh kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya atau mungkin lebih…
    Namun disatu sisi yang umum menjadi penghambat adalah terkadang sepertinya -hanya sepertinya- kita tidak sekuat yang kita bayangkan, entah karena ketakutan akan masa depan yang semakin tidak sehat saja, maupun kurang siapnya orang2 ini untuk go public.
    Pertanyaannya adalah:
    1. Benarkah ketakutan-ketakutan itu akan terjadi?
    2. Seberapa pentingnyakah sebuah prestasi, sehingga orang-orang ini dapat lebih bermanfaat bagi orang lain?; atau malah.
    3. Haruskah orang-orang seperti ini mengalah untuk benar-benar memenangkan orang lain?(karena sepertinya -saya yakin hanya sepertinya- inilah yang lebih relevan untuk beberapa orang)

    Tolong dibahas mengenai hal ini pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: