Pembusukan Dari Dalam

Mengelola organisasi yang melibatkan beragam elemen bukan perkara mudah. Yang satu ingin A, yang lain ingin B, dan lainnya ingin C. Kemampuan melakukan kompromi yang dapat diterima oleh semuanya atau minimal oleh sebagian besar adalah sebuah seni tersendiri, seperti seni menyambung kain perca yang menjadi indah. Tentu manusia beda dengan kain perca. Kain perca hitam, tanpa protes akan mau “bersanding” dengan kain perca warna lain. Di sini yang mengedepan adalah estetika. Ternyata tidak demikian halnya dengan manusia. Ada untuk etika di sana. Ada unsur rasa juga. Apalagi kalau salah satu memang berseberangan dengan yang lain tanpa ada irisan yang jelas. Ketiadaan irisan ternyata bisa dengan sendirinya ada, atau bahkan bisa disengaja dan diusahakan. Inilah yang menjadikan manajemen manusia menjadi lebih rumit. Karena itulah, Allah selalu menguji nabinya menjadi pengembala kambing sebelum “menggembala” manusia (lihat beberapa hadits dalam Riyadlush Shalihin).

Kambing menurut pengalaman saya di kampung waktu kecil adalah hewan yang paling sulit diatur. Beda dengan kerbau yang cenderung teratur. Dan, manusia jauh lebih tidak teratur dibandingkan kambing. Ketidakteraturan alias pengabaian terhadap aturan inilah masalah terbesar. Ketika aturan diabaikan, ketika komitmen hanya menjadi pemanis bibir, pembusukan dari dalam akan terjadi.

Ketika kita ”mencium bau busuk”, sudahkah kita mencoba mencari sumber dan menghilangkannya? Pada konteks kedokteran, bagian tubuh yang membusuk dan mengancam bagian tubuh yang lain, harus diamputasi. Dalam konteks organisasi, sudahkan kita mengingatkan ”sumber kebusukan” tersebut?. Jika belum, nampaknya ayat 25 Surat Al-Anfal ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi. ”Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Dalam konteks peradaban, kata Arnold Toynbee, seorang ahli sejarah ekonomi, “civilizations die from suicide, not by murder”. Peradaban mati karena bunuh diri, bukan karena pembunuhan. Inginkah kita melakukan ”bunuh diri”? Jika tidak ingin melakukan, budaya disobedience atau ignorance atau EGP (emang gue pikirin — red) terhadap masalah organisasi — atau dalam konteks yang lebih luas, sosial — nampaknya perlu dikubur dalam-dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: