Command-leadership vs Servant-leadership

Bayangkan Anda saat ini memegang sebuah jabatan yang lumayan tinggi. Coba jawab beberapa pertanyaan berikut dengan cepat tanpa berpikir panjang. Mana yang lebih Anda sukai, (a) dilayani atau (b) melayani? Mana yang lebih penting, (a) kekuasaan jabatan dibandingkan tanggungjawab yang menyertainya, atau (b) sebaliknya? Jika ada kolega yang lebih berkompeten, apakah Anda akan (a) bersaing untuk mendapatkan jabatan, atau (b) merelakan dia memegang jabatan tersebut? Jika jawaban Anda (a) untuk semua jawaban, tidak salah, Anda mungkin memang tipikal kebanyakan pemimpin di negeri ini. Anda punya banyak teman. Nah, kalau (b)? Anda adalah pemimpin yang spesial. Tidak banyak pemimpin yang seperti ini.

Dalam beberapa minggu terakhir, saya sedang tertarik mendalami konsep servant-leadership, konsep kepemimpinan yang nampaknya sangat cocok untuk konteks Indonesia, di mana konsep lawannya, command-leadership sangat mencolok. Secara singkat konsep servant-leadership pernah saya tulis pada posting sebelumnya.

Setelah membaca beberapa artikel jurnal, nilai-nilai yang saya yakini selama ini nampaknya diakomodasi dengan baik dalam konsep kepemimpinan ini. Salah satu bagian yang menarik ditulis di sini adalah perbandingan head-to-head antara command-leadership dan servant-leadership. Berikut ringkasannya:

Command-leadership Servant-leadership
Tujuan pemimpin adalah untuk dilayani Tujuan pemimpinadalah untuk melayani
Tertarik utamanya pada citra dan capaian pimpinan. Pengamanan diri dan citra diri dikedepankan dalam banyak keputusan. Mendorong bawahan untuk meningkatkan potensinya dengan cara merendah dan menghargai orang lain. Lembaga dan sebagian besar anggotanya dipedulikan dan didahulukan dibandingkan diri sendiri.
Kekuasaan jabatanlebih penting daripada tanggungjawab. Tanggungjawab lebih penting daripada kekuasaan yang melekat pada jabatan.
Kolega dipandang dan diperlakukan sebagai lebih rendah dan jarang diminta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan diberi informasi yang penting. Kolega diperlakukan dengan hormat sebagai bagian dari tim yang bekerjasama untuk menyelesaikan tugas dan membuat keputusan berdasar informasi yang dipahami bersama.
Dapat ditemui/diakses hanya oleh orang-orang terdekat dalam struktur. Sering berinteraksi dengan orang lain dan menjaga atmosfer yang terbuka.
Menciptakan atmosfer ketergantungan menggunakan kekuasaan jabatan untuk mempengaruhi. Menciptakan atmosfer di mana orang lain melihat potensinya didorong untuk dikembangkan dan kekuasaan digunakan untuk melayani.
Ingin orang lain mendengarkan pimpinan dulu. Mau mendengarkan orang lain sebelum mengambil keputusan.
Ingin dipahami dibandingkan memahami. Ingin memahami sebelum dipahami.
Menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang terjadi dan tidak mau bertanggungjawab. Menghargai orang lain, belajar dari kesalahan dan menghargai orang lain.
Menolak kritik konstruktif dan menginkan pengakuan untuk semua prestasi. Mendorong masukan dan umpan balik dan berbagi pengakuan untuk keberhasilan. Proses dianggap lebih penting dibandingkan prestasi.
Tidak melatih orang lain supaya dapat berfungsi secara efektif. Membekali orang lain supaya bisa berprestasi.
Penentuan pengikut didasarkan pada personalitas. Penentuan pengikut didasarkan pada karakter,
Kemudahan dijadikan dasar pengambilan keputusan secara tertutup. Prinsip dijadikan dasar pengambilan keputusan secara terbuka.
Menggunakan intimidasi untuk membungkam kritik. Cenderung mempertahankan diri. Menerima dengan baik diskusi terbuka untuk perbaikan. Terbuka untuk belajar dari semua orang.
Mendapatkan dukungan untuk ide melalui kecurangan, permainan kekuasaan, atau manipulasi. Orang lain mendukungnya karena takut. Mendapatkan dukungan untuk ide melalui logika dan persuasi. Orang lain mendukungnya karena hormat dan mengakuinya sebagai kebenaran.
Mengangkat orang yang mengikutinya tanpa banyak bertanya dan fleksibel. Mengangkat orang yang sudah menunjukkan kontribusi dalam keberhasilan.
Otoritas didasarkan pada kendali eksternal dalam bentuk aturan, batasan, dan regulasi yang dikawal dengan kekuasaan. Otoritas didasarkan pada pengaruh yang didapatkan dari dorongan, inspirasi, motivasi, dan persuasi.
Hanya bertanggungjawab pada atasan. Menganggap evaluasi personal sebagai gangguan. Bertanggung ke seluruh lembaga. Menerima evaluasi personal sebagai cara untuk meningkatkan diri.
Mengejar kekuasaan dan jabatan. Mau mengalah jika ada seseorang yang lebih berkualitas.
Tidak berminat dalam mengembangan kompetensi penerus. Pengembangan kepemimpinan sebagai prioritas dalam melayani orang lain.

Anda pilih kolom kiri atau kanan? Saya hanya mengabarkan, Anda yang menentukan. Yang jelas, dalam servant-leadership tidak akan ada ungkapan ”hanya karyawan kecil”. Semua dianggap mempunyai konstribusi dalam jalan dan keberhasilan sebuah organisasi. Andakah si servant-leader itu?

5 comments
  1. eko said:

    servant leader…>>> akankah dianggap pemimpin yang lemah?

    • Fathul Wahid said:

      @Mas Eko. Memang banyak yang menganggap demikian, tetapi itu salah menurut saya. Pemimpin sejati bukan ditakuti, tetapi disegani. Tidak kasar, tetapi tegas. Anda pernah belajar kungfu? Anda tahu gerakan para suhu kungfu, terlihat lembut tetapi sangat tegas.

  2. Eko said:

    Salut untuk pak Fathul, anda sungguh bijaksana.

  3. terkadang saya justru bingung juga Pak Fathul, kekuasaan itu justru dijadikan alat atau tujuan???😦

    bagus sekali, sepertinya saya ingat juga mata kuliah PIO (Psikologi Industri dan Organisasi) yang m’bahas tentang Transformational leadership…

    “the transformational leader, however, inspires followers by providing a vision of where the group is headed, and developing a work culture that simulated high-performance activities (Bass, 1990)”

    salam,
    wahyukresna.

    • Fathul Wahid said:

      @Mas Wahyu, Yang menilai kita bukan diri kita, tetapi orang lain. Boleh saja setiap pemimpin mengklaim atau mendeklarsikan dirinya, misalnya, transformational leader, tapi apa kenyataan selalu sama dengan itu? Itulah masalahnya. Banyak di antaranya kita yang merasa A dan B, tetapi yang dilakukan malah X dan Z. Itu gunakan teman, kolega, sahabat untuk menjadi cermin yang jujur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: