Good to Great: Level 5 Leadership

Sebenarnya sudah lebih dari tiga tahun saya baca buku Good to Great, karya Jim Collins yang sukses dengan bukunya yang lain, Built to Last.  Hanya saja, ketika dalam banyak kesempatan Pak Luthfi, guru dan senior saya yang sekarang menjadi Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII banyak menyinggung dalam banyak kesempatan, saya terusik untuk membaca ulang. Saya tidak tahu alasan Pak Luthfi tidak memperjelas konsep ini dalam berbagai kesempatan tersebut.  Kesadaran etis mungkin yang membatasi.

Studi Collins menemukan bahwa lawat menjadi great adalah good. Kalau kita sudah merasa menjadi good (baik), maka akan sulit menjadi great (hebat). Nah, salah satu temuan menarik adalah bahwa ternyata perusahaa-perusahaan yang great dipimpin oleh pemimpin yang tidak high-profile dengan personalitas besar yang selalu tampil di headline media dan menjadi selebritas. Justru sebaliknya, pemimpin yang berhasil mengantarkan good company menjadi great company adalah mereka yang mumpuni, tetapi cenderung pendiam, dan bahkan pemalu. Ada senyawa paradoksal dalam dirinya, antara rendah hati (personal humility) dan keinginan profesional yang tinggi (profesional will).  Meminjam istilah Collins, pemimpin seperti ini cenderung seperti Lincoln dan Socrates daripada Patton dan Caesar.

Apa kemudian pemimpin seperti ini tidak punya ego dan ambisi? Tidak. Ego dan ambisi yang dipunyai dikanalkan dari dirinya ke dalam tujuan yang lebih besar, yaitu mengantarkan organisasi menjadi great. Kepentingan pribadinya telah dimatikan, dari ‘pribadi’ telah menjelma menjadi ‘organisasi’.

Pemimpin level 5 akan menghasilkan prestasi yang luar biasa, yang merupakan katalis perubahan dari good menjadi great. Namun, di sini lain, dia tidak mengada-ada, tidak mengharap pujian, dan tidak boastful.

Dia juga mendemontrasikan solusi yang solid untuk dilakukan, tanpa peduli kesulitan yang ada. Sulit bukan berarti tidak mungkin. Tetap di sini sebaliknya, dia melakukannya dengan kalem, tidak banyak publisitas, tetapi dengan determinasi yang tinggi. Untuk memotivasi, pemimpin level 5 ini mengandalkan standar yang disepakati, bukan dengan kharisma.

Pemimpin level 5 juga akan menetapkan standar-standar baru untuk menjamin keberlangsungan proses dari good menjadi great. Di samping itu, ambisi pribadi diarahkan untuk kepentingan organisasi, dan berusaha menyiapkan pengganti yang akan meneruskan langkah tranformasi menjadi great.

Selalu berkaca adalah sifat pemimpin level 5 ini. Tidak gampang menyalahkan orang lain, faktor eksternal, dan bad luck. Jika ada yang tidak beres, dia tidak sungkan mengambil tanggung jawab. Namun jika berhasil, pemimpin level 5 akan menyatakan bahwa ini adalah karena adalah keberhasilan organisasi, ada andil orang lain, faktor eksternal, dan good luck.

Andakah pemimpin level 5 ini?

4 comments
  1. amoreours said:

    semangat pak!!😀

  2. idrus perpustakaan said:

    wow….
    kita agak “sulit banget” buat cari pemimpin model kaya gitu, setidaknya kita biasa jadi bos. Pemimpin yang bisa bilang good to great lama dinanti, semoga tidak menunggu godod? UII, wah repot siapa ya?

  3. dan tindakannya diniatkan untuk “for the greater good”. wow.

  4. asmoroputra said:

    mohon infonya kalo ada yang tau dimana beli buku versi terjemahannya.trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: