Si Tangan Kotor

Aneh! Ketika saya menemukan orang yang tidak mau melakukan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Kok bisa ya? Ketika saya melihat orang yang meneruskan tanggungjawab yang seharusnya dia lakukan kepada orang lain, sedang dia sendiri tidak melakukan sesuatu yang lebih penting, tetapi hanya karena tidak mau tangannya kotor. Ya, kotor dalam arti literal, sebenarnya. Berkeringat, berdebu, kucel, dan capek.

Saya teringat ketika seorang pemimpin mengatakan, “kebenaran ada di luar sana, bukan di atas kertas, bukan di atas meja”. Apa artinya? Pemimpin meskipun diberi amanah memikirkan hal-hal yang strategis, tetapi tidak berarti menjauhkan diri dari lapangan. Justru dengan pengetahuan dan kepedulian teknis lapangan inilah, pemimpin bisa mengambil keputusan cepat.

Karenanya, saya termasuk orang yang sangat senang mengetahui ada perusahaan yang mengharuskan semua pegawainya memulai karir dari bawah, dan bahkan mengerjakan pekerjaan klerikal. Melakukan pekerjaan klerikal bukan sebuah aib. Pemimpin yang dihasilkan dari proses seperti inilah yang diharapkan mempunyai rasa empati yang tinggi dan mempunyai sifat melayani, dan bukan sebaliknya ingin selalu dilayani dan bahkan merepotkan orang lain.

Ketika seorang pemimpin tahu bagaimana perjuangan cleaning service membersihkan lantai, misalnya, maka dia tentu akan sangat peduli dengan kebersihan dan mengarahkan orang lain tidak membuang sampah sembarangan, dengan banyak alasan, termasuk menghormati perjuangan cleaning service. Contoh lain, ketika seorang pemimpin tahu repotnya mengumpulkan data untuk berbagai keperluan, maka dia tentu tidak akan semena-mena minta data saiko-saiki, alias seketika tanpa mau tau usaha besar yang harus dilakukan.

Untuk itulah, siapapun dia, harus membiasakan “tangannya kotor” sebagai bukti kerja keras. Tanpa proses ini, hanya bos yang akan dihasilkan, bukan pemimpin. Bos adalah orang yang suka tunjuk sana tunjuk sini, tanpa mau tahu kendala, tanpa tahu masalah. Maunya semua beres. Beda dengan bos, pemimpin akan melibatkan diri dalam proses dengan mengawal proses, dan tidak risau jika tangannya “kotor”. “Tangan kotor” adalah bukti komitmen.

8 comments
  1. Alhamdulillah, pak Fathul tahu aja kalau perjuangan kita-kita disini diselimuti kehidupan para cleaner … :mrgren:

    • Fathul Wahid said:

      Alhamdulillah kalau Mas Andri menjiwai jadi cleaner.🙂 Nikmati saja mas. Aku yo pernah kerja juga jadi pemetik apel. Hidup buruh migran!!!🙂

  2. Risdy said:

    Ijinkan saya untuk ber-‘mulut kotor’ Pak…. karena harus jadi juru icip di LOOK Cake and Catering sebelum dikirim ke customers. Hidup bos migran!!!🙂

    • Fathul Wahid said:

      Hehe.. wah ngiri saya dengan pekerjaan “kotor” Pak Risdy. Sukses Pak. Salam untuk keluarga. Sudah nambah belum? Masak cuma mencicipi terus.🙂

  3. mahasiswa said:

    nice post and very inspiring sir🙂

  4. Galang Prihadi said:

    Pak minta ijin untuk sharing. Boleh ya Pak?

    • Fathul Wahid said:

      Monggo Mas😉

    • Fathul Wahid said:

      Monggo Mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: