Banyak kepala lebih baik daripada satu kepala?

wisdomofcrowdsTernyata ungkapan di atas tidak selamanya benar. Dalam buku The Wisdom of Crowds, James Surowiecki menyatakan bahwa pertanyaan tersebut benar jika empat kondisi terpenuhi: (a) adanya opini yang beragam (diversity of opinion) – setiap orang harus mempunyai informasi privat, meskipun hanya merupakan interpretasi lain atas fakta yang ada, (b) independen – opini orang tidak ditentukan oleh opini orang-orang sekitarnya, (c) desentralisasi – orang dapat memanfaatkan pengetahuan lokal, dan (d) agregasi – adanya mekanisme yang menggabungkan informasi privat ke dalam keputusan kolektif.

Buku The Wisdom of Crowds yang saya beli di Bandara Internasional Kuala Lumpur ini mengajak kita berpikir ulang bagaimana banyak kepala lebih baik daripada satu kepala, seberapa pintar pun satu kepala itu. Saya bersyukur mendapatkan banyak dukungan fakta dan pembenaran atas berbagai pemikiran yang selama ini saya yakini.

Sebagai contoh, setiap kali ada kolega yang akan studi lanjut, saya selalu sarankan mencari universitas yang belum ada kolega yang sekolah di sana. Baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk luar negeri bahkan sering saya sarankan untuk mencari negara yang belum pernah dijejaki oleh kolega lain sebelumnya. Tujuannya sederhana tetapi dalam buku yang saya beli dalam perjalanan ke Eropa ini dibahas dengan sangat menarik. Beragam latar belakang budaya akademik dan konteks sosial yang didapatkan oleh para kolega ini saya harapkan akan menghasilkan mozaik pemikiran yang indah dalam banyak hal. Diskusi pun akan semakin hidup dan keputusan yang berkualitas akan dihasilkan.

Bayangkan jika semua orang berasal dari satu universitas yang sama, yang sangat mungkin memberikan pengalaman yang seragam. Diskusi pengembangan akademik akan tidak seru, karena referensi yang ada hanya satu atau terbatas. Dunia terlalu luas dan membosankan jika hanya diberi satu warna.

Independensi pun harus dimunculkan. Berani berpikir berbeda perlu dipupuk dan dikembangkan. Tanpa independensi, diskusi akan bersifat basa-basi, tanpa sikap dan posisi yang jelas, entah karena menghormati senior atau karena alasan lain. Logika-logika segar dalam pengambilan kesimpulan perlu diperkaya dengan informasi dan pengalaman privat, meski pada akhirnya mekanisme agregasi bagaimana pun harus disepakati.

Jika demikian halnya, setiap diskusi yang anda alami dalam kelompok seperti ini akan merupakan pengalaman yang menantang intelektual anda! Percayalah!

2 comments
    • Fathul Wahid said:

      Oleh2nya cerita Bos! Kapan-kapan kita janjian ketemuan sambil makan siang. Kapan vivanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: