Teladan dari para pendahulu

Tepat pada tanggal 17 Ramadlan 1430 H, UII meresmikan pemberitahan nama Gedung Rektorat menjadi Gedung H. GBPH. Prabuningrat. Pak Prabu, panggilang akrab beliau, adalah rektor UII yang keempat. Pada 25 Juli 1970, beliau mendapat amanah sebagai Ketua Presidium (pada saat ini UII dipimpin oleh presidium), dan pada 1 Agustus 1973, dilantik menjadi rektor. Amanah ini dijalankan sampai akhir hayat beliau pada 31 Agustus 1982. Beliau memimpin UII selama 13 tahun. Hanya rektor pertama UII, Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir yang melebihi lama beliau memimpin. Pak Kahar memimpin UII selama 15 tahun.

Pemberian nama gedung ini adalah perwujudan rasa hormat dan pengakuan UII terhadap para pendahulu yang berjasa dalam mendirikan dan membina UII. Yang namanya sudah dikukuhkan sebagai nama gedung adalah beliau-beliau yang telah terbukti ketulusannya dalam mengabdi kepada UII. Nama Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir dikukuhkan sebagai nama auditorium utama di UII, dan Prof. Sardjito, rektor kedua UII, namanya dikukuhkan sebagai nama Gedung Kuliah Umum.

***

Banyak cerita menarik dari pada pendahulu UII dan dapat dijadikan teladan oleh yang sekarang masih mengabdi. “Pak Prabu dulu sewaktu jadi rektor pernah didemo mahasiswa,” ungkap salah seorang karyawan senior. “Kenapa Pak?,” tanya saya, dengan heran kenapa orang baik seperti Pak Prabu didemo oleh mahasiswa.

Ternyata, pada saat ini, Pak Prabu didemo oleh mahasiswa yang merasa “malu” karena Pak Prabu sewaktu mendapat amanah menjadi rektor lebih suka naik sepeda ketika menghadiri pertemuan, termasuk ketika ke Kopertis. Mahasiswa demo supaya Pak Prabu mau menggunakan mobil. Akhirnya memang UII membeli mobil Fiat untuk digunakan sebagai mobil dinas, dan mobil tersebut akhirnya dihibahkan kepada keluarga Pak Prabu ketika beliau wafat.

***

Sewaktu mewakili UII menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga di negara lain, termasuk Pakistan, Pak Kahar kehabisan bekal sesampai di Jakarta. Spontan, para mantan murid beliau mengumpulkan uang untuk membantu Pak Kahar pulang ke Yogyakarta. Uang yang terkumpul akhirnya diberikan kepada Pak Kahar. Apa dilakukan oleh Pak Kahar?

Pak Kahar hanya mengambil uang tersebut sebesar harga tiket kereta api pada saat itu. Sisanya dikembalikan, meskipun pada mantan muridnya memaksanya. “Simpan uang tersebut untuk yang nanti lebih membutuhkan,” kata Pak Kahar. “Saya cukup dengan ongkos sampai stasiun di Yogya, dan setelah itu saya bisa naik becak yang saya bayar dengan uang di rumah,” Pak Kahar memberikan alasan.

***

Pak Prabu dan Pak Kahar telah memberikan teladan yang luar biasa!

3 comments
  1. hanafi said:

    Matursuwun pak, sekarang tambah wawasan lagi tentang kampus tercinta.🙂

  2. Suatu saat sejarah UII akan mencatat tentang Prof Fathul Wahid, dosen yang nggak pernah kehabisan bekal, tapi selalu menolong orang yang kehabisan bekal, hehehe. Sukses selalu dan terus berkarya Pak !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: