Menjadi aktivis mahasiswa? Kok repot-repot

Jangan mengambil kesimpulan sebelum membaca tulisan ini sampai titik terakhir. Saya teringat belasan tahun lalu ketika masih kuliah dan seorang kawan berkata kepada saya, “Ngapain aktif di kemahasiswaan”. Saya hanya kaget dan terdiam waktu itu, tetapi saya juga paham latar belakang kawan yang mengatakan tadi. Tidak ada untungnya berdebat dengan dia.

Saya tiba-tiba teringat ketika saya berkunjung ke kediaman Prof. Abdul Mukti Ali (Menteri Agama 1971-1978), di belakang RS Panti Rapih Yogyakarta, pada tahun 1995 ketika meminta beliau menjadi pembicara pada acara Pesantren Wawasan yang rutin digelar tahunan oleh Keluarga Mahasiswa Islam (Gamais) Institut Teknologi Bandung. Sore itu, beliau sedang membaca buku di ruang tamu dan mengajak ngobrol saya dan seorang kawan lainnya, termasuk rencana beliau meluncurkan buku yang ditulis. Meskipun beliau tidak bisa menjadi pembicara, tidak sia-sia saya sowan ke sana, karena cukup banyak semangat yang disuntikkan kepada saya. Salah satu perkataan beliau yang masih saya ingat sampai sekarang adalah bahwa dia sangat menghargai mahasiswa yang aktif dan mau repot. “Siapa yang nyuruh Anda jadi aktivis?”, kata beliau secara retoris ketika itu.

Kok repot? Ya iya lah. Saya sering katakan kepada aktvis kampus. Kalau masih mau banyak bersenang-senang, masih mau tidur 8 jam sehari, masih pengin punya waktu bermain yang lama, jangan jadi aktivis. Pilihan menjadi aktivis harus didasari dengan kesadaran semua konsekuensinya. Kalau ada mahasiswa tidak pernah kuliah dengan alasan menjadi aktivis, mungkin mahasiswa ini belum siap jadi aktivis. Kalau ada aktivis mengeluhkan kurang tidur karena banyak kerjaan, nampaknya si mahasiswa ini belum sadar akan pilihannya. Kalau ada mahasiswa aktivis penganut paham hedonisme, sangat mungkin dia ikut-ikutan aktif, atau malah menjadi aktivis hedonisme alias hedonis.

Menjadi mahasiswa aktivis adalah pilihan. Bagaimana dengan waktu yang sama, 24 jam sehari, seorang aktivis dapat melakukan lebih banyak hal. Caranya? Tentu saja perlu kerja cerdas dan keras. Salah satunya, kurangi tidur. Saya masih ingat betul kawan-kawan aktivis pada waktu itu, meskipun dia sangat aktif, dan tidak jarang pulang dari student center pada dini hari atau bahkan mendekati subuh, tetapi dia dapat mengatur waktu kuliahnya, dan bahkan lulus dengan prestasi di atas rata-rata. Mereka mau repot. Sekarang mereka ada yang bekerja di perusahaan multinasional tetap dengan daya kritisnya, menjadi konsultan, aktivis LSM, politisi, dan masih banyak lagi. Meskipun demikian, mereka cukup menguasai bidang studi yang dipilihnya. Jangan sampai kita menjadi orang serba bisa kecuali bidangnya sendiri.

Mereka seingat saya tidak ada yang mempermasalahkan kehadiran di kelas, karena mereka dapat mengatur jadwal hidupnya. Kuliah jangan mengganggu aktivitas, dan aktivitas jangan sampai mengganggu kuliah. Mbolos kuliah satu-dua-tiga kali karena alasan yang tepat adalah sebuah kewajaran. Tetapi kalau dosen mengajar 14 kali dan sang aktivis hanya hadir sekali atau dua kali di kelas dan menuntut mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang rajin hadir, jangan-jangan mahasiswa ini tidak siap menjadi aktivis.

Kalau perlu, jika Anda mahasiswa aktivis dan ada kegiatan yang menurut Anda sangat penting dan mengharuskan Anda mengikutinya padahal bersamaan dengan ujian, ikuti kegiatan tersebut dan tinggalkan ujian. Anda bisa ikut kuliah yang sama semester depan. Ini adalah pilihan yang sangat rasional. Jangan sesali pilihan ini. Anda akan bangga menjadi orang yang sadar dengan pentingnya keadilan dalam bersikap. Kalau tidak, jangan-jangan Anda belum siap menanggung konsekuensi sebuah pilihan hidup.

Inilah repotnya menjadi aktivis, dan di sinilah sekaligus nikmatnya.

2 comments
  1. bay said:

    saya pernah diberitahu oleh rekan saya di UI, bahwa ada dua macam orang yang aktif di organisasi, yaitu Organisator dan Aktivis

    jadi menurut rekan saya itu kalau Organisator adalah orang yang hanya aktif di organisasi, seperti yang telah bapak paparkan “mahasiswa tidak pernah kuliah dengan alasan menjadi aktivis, mengeluhkan kurang tidur karena banyak kerjaan”

    tapi jika Aktivis, dia bisa membagi semua kegiatan yang diikutinya termasuk salah satunya adalah kuliah, jadi Kuliah OK!, Organisasi jalan terus.

  2. luki said:

    SETUJU………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: