4 November 1989: UII 20 tahun lalu

Adakah yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di UII 20 tahun yang lalu? Tepat pada 4 November 1989, menurut informasi sepotong-sepotong yang saya dapatkan telah terjadi peristiwa besar yang mengisahkan keteguhan dalam bersikap, ketegasan dalam melawan kebatilan. Adakah yag masih ingat peristiwa penting itu? Ada tokoh sentral yang bernama Slamet Saroyo yang menjadi syahid kalau tidak salah.

9 comments
  1. bay said:

    ada beberapa informasi yang saya dapat dari google

    Akhirya pasca peristiwa UII berdarah di tahun 1989 (dengan terbunuhnya Slamet Saroyo sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil, dan ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
    dari sejarahsolid.tumblr.com

    Jangan lupa pula kita pernah jadi basic jg dalam pergerakan perjuangan kejujuran di kampus condong catur dulu, 2 org mhs tewas, salah satunya adalah ikwan kita dari fak. teknik Industri, Allahyarham Slamet Saroyo, kita harus adakan Peringatan 20 thn gugurnya beliau tgl 4 Nopember nanti.
    dari hbs-ba.facebook.com/topic.php?uid=80380364641&topic=8405

    tapi dari hasil di atas belum ada hal yang pasti karena kejadian apa, Slamet Suroyo meninggal, setelah googling lagi pada halaman pertama terdapat kalimat “Slamet Saroyo meninggal karena membongkar patgulipat (korupsi) dalam pembangunan Kampus Ekonomi UII di Condongcatur”, tetapi ketika link-nya dibuka tidak ditemukan tulisan seperti itu

  2. bambang said:

    kebetulan saya kuliah pada saat slamet saroyo mahasiswa FTS UII angkatan 84 terbunuh, karena memegang keteguhan dalam berjuang untuk membuka borok-borok oknum-oknum yang mencari keuntungan pribadi dalam rencana pengembangan fisik UII. Tidak tahu siapa yang benar karena sampai sekarangpun masalah tersebut murni pembunuhan tidak terbongkar sampai akar permasalahan intinya.

  3. hamdan said:

    DUA PULUH TAHUN SYAHIDNYA SLAMET SAROYO

    oleh AE Priyono, alumni Fak. Hukum UII, angkatan 1978

    Membaca kembali dokumen-dokumen mengenai kematian Slamet Saroyo (25), mahasiswa Fakultas Teknik Sipil UII, yang terjadi dua puluh tahun lalu, 4 November 1989, kita seperti membaca peristiwa kriminal biasa. Berita-berita koran ketika itu hanya menjelaskan terjadinya perkelahian dua kelompok mahasiswa dari kampus yang sama, yang menyebabkan tewasnya dua orang di antara mereka. Perkelahian dua kelompok mahasiwa yang terjadi di kompleks Banteng, di sebuah ladang jagung, Jl. Kaliurang Km. 8 itu, disebut-sebut terjadi karena dua kelompok itu mempertengkarkan suatu perkara yang besar, tapi ruwet dan tak jelas. Memang disebut-sebut ini bersangkut paut dengan masalah sengketa penyelewengan proyek pembangunan sebuah gedung kampus baru. Tapi mengapa mahasiswa terlibat, dan bagaimana persisnya, koran-koran daerah dan nasional yang meliput persitiwa itu tak cukup jelas menelisik penyebab dan silang sengketanya. Para pejabat kampus yang ditanyai wartawan ketika itu mengelak kaitan kejadian kriminal itu dengan masalah korupsi yang dituduhkan salah satu kelompok mahasiwa yang berkelahi. Mereka cenderung menutup jawaban dengan mengatakan bahwa peristiwa itu sekadar peristiwa perkelahian dua kelompok mahasiswa.

    Berita-berita yang ditulis oleh wartawan lapangan memberikan gambaran yang simpang siur. Beberapa koran bahkan kelihatan sekali mengutip penjelasan sepihak, dengan motif untuk menyalahkan dan mendeskreditkan pihak lawan. Masyarakat Yogyakarta yang terkejut mendengar ”geger UII” ketika itu juga tak paham betul apa yang sesungguhnya terjadi. Kita seperti membaca peristiwa kriminal yang biasa terjadi di pinggir jalan – peristiwa-peristiwa kriminal kecil yang sering dan terus terjadi di bagian-bagian lain Indonesia hingga sekarang.

    Tapi bagi komunitas UII, peristiwa itu jelaslah bukan peristiwa kecil, bukan peristiwa kriminal pinggir jalan. Peristiwa itu dipahami sebagai salah satu ekses dari sebuah proyek besar – pembangunan sebuah gedung yang kemudian dikenal sebagai ”Kampus Antara” – yang dirancang oleh para petinggi kampus, yang kemudian mendapatkan reaksi dari mahasiswa. Sengketa terjadi antara sebuah klik penguasa kampus yang licik dan korup, melawan gerakan mahasiswa yang berniat membongkar skandal-skandal penyelewengan mereka. Ini adalah miniatur sebuah peritiwa korupsi yang dipraktekkan di tingkat atas melawan oposan-oposannya yang sadar diri dan gigih di tingkat bawah. Sekali lagi ini bukan peristiwa kriminal kecil di pinggir jalan.

    Proyek Kampus Antara

    Sebenarnya cerita bermula dari rencana pembangunan kampus terpadu, di Jl. Kaliurang Km. 14 yang kabarnya akan mulai dibangun sejak 1987. Kampus yang diidamkan semua civitas akademika UII akan didirikan di atas tanah seluas 24 hektar. Dana utamanya berasal dari iuran wajib yang dibayarkan mahasiswa sebagai salah satu pos SPP, sejak awal 1980an. Bertahun-tahun menunggu, tak ada kejelasan kapan realisasi pembangunan kampus terpadu itu akan dimulai. Yang selama itu terdengar adalah praktek percaloan tanah di kalangan para dosen dan petinggi kampus yang saling berlomba memperjual-belikan lahan di sekitar siteplan kampus terpadu. Mahasiswa mulai gerah. Pada 1987, sebuah rencana disiapkan oleh pihak Badan Wakaf, sebuah lembaga yang mengurusi dan mengawasi penyelenggaraan kampus UII secara keseluruhan, untuk membangun kampus antara di kawasan Condongcatur, Sleman, yang sekarang menjadi kampus Fakultas Ekonomi, UII.

    Panitia pembangunan dibentuk. Tapi rencana licik karena kerakusan dan ketamakan beberapa pimpinan UII, membuat pengorganisasian panitia menjadi tak masuk akal. Pimpro dijabat oleh Ketua Badan Wakaf ketika itu, Fachurrozi Al Haq; dan wakilnya dijabat oleh Effendi Ary. Selain menjabat sebagai Pembantu Rektor UII yang mengurusi masalah administrasi dan keuangan, Effendi Ary juga pernah menjadi Ketua Tim Pelelangan Tender sebelum proyek berjalan. Sementara itu Tim Pengawas Pembangunan dipercayakan kepada duet Daliso Rudianto, notaris alumnus UII, dan wakil Pimpro, Effendi Ary. Susunan organisasi proyek seperti ini seperti sudah membuktikan gelagat busuk. Mahasiswa mempertanyakan mengapa wakil pimpinan proyek memiliki posisi yang luar biasa strategis. Sebelum proyek dimulai, dialah yang meloloskan PT Double Delta sebagai pemenang tender. Dia juga yang lebih aktif menjalankan proyek, sekaligus menjabat sebagai anggota tim pengawas. Posisi Effendi Ary yang seperti itu, menurut mahasiswa, dianggap menguasai proyek dari hulu hingga hilir. Effendi Ary mulai dicurigai.

    Kecurigaan kepada Effendi Ary bukannya tanpa alasan. Beberapa waktu sebelum proyek dilaksanakan, tiba-tiba terlihat secara mencolok dia memiliki toko kayu besar, namanya UD Amanah. Pemilikan toko kayu secara tiba-tiba itu mengindikasikan bahwa dia memiliki vested interest, kepentingan diam-diam yang disembunyikan.

    Tim 25

    Ketika kritik-kritik lembaga kemahasiswaan mulai makin menajam terhadap pimpinan Universitas dan Badan Wakaf untuk meninjau kembali susunan organisasi proyek, Effendi Ary mulai menunjukkan rasa tidak senangnya. Diam-diam dia membentuk kelompok-kelompok mahasiswa yang kemudian menamakan diri ”gerakan mahasiswa awam” untuk mengcounter kritik-kritik yang dilakukan lembaga-lembaga mahasiswa. Dewan Mahasiwa ketika itu, yang dipimpin Suparman Marzuki, mulai menempuh strategi baru untuk melandasi kritik-kritiknya dengan pembuktian dan data. Sebuah tim yang terdiri dari 25 orang mahasiswa dari berbagai lembaga kemahasiwaan di seluruh UII dibentuk untuk melakukan evaluasi kembali terhadap seluruh proyek kampus antara. Tim itu dibentuk setelah proyek pembangunan berlangsung sekian lama. Bangunan kampus antara sudah berdiri, bahkan sebagian sudah mulai dipakai untuk kegiatan kuliah.

    Pertama-tama tim yang dipimpin oleh Slamet Saroyo, mahasiswa Fak. Teknik Sipil UII, itu mulai melakukan pemeriksaan fisik atas bangunan. Prioritas ini dikerjakan karena mereka juga menerima pengaduan mahasiswa yang mendapati bangunan baru itu retak-retak pada dindingnya, beberapa kelas bocor jika hujan, dan di berbagai tempat lantainya mengelupas. Mereka akhirnya menemukan bukti-bukti lain bahwa atapnya melengkung, susunan genteng bergelombang, kayu-kayu atap dan kuda-kuda banyak yang bengkok dan patah. Bukti-bukti foto dikumpulkan, analisa dan reevaluasi kontruksi bangunan juga dikerjakan. Mereka akan membuat sebuah laporan yang berisi data-data temuan lapangan. Mereka menemukan kesimpulan sementara, bahwa bangunan seperti itu pastilah dikerjakan oleh kontraktor yang tidak berpengalaman, atau setidaknya tidak bertanggungjawab, atau setidaknya lagi mempraktekkan penurunan standar serendah-rendahnya di luar bestek dan RKS (rencana kerja dan syarat-syaratnya) , atau kemungkinan lain: berkongkalikong dengan pimpro dan/atau wakilnya untuk menekan biaya seirit-iritnya agar sisanya bisa dikorupsi sebesar-besarnya. Mereka menemukan indikasi-indikasi ke arah dugaan-dugaan seperti itu.

    Temuan-temuan awal itu didiskusikan berkali-kali di tingkat anggota Tim. Mereka juga melaporkannya dalam rapat-rapat Dewan Mahasiwa. Ketika pergantian pengurus di tingkat Dewan Mahasiwa, tim masih dipertahankan. Dewan Mahasiswa yang baru, yang namanya juga sudah berubah menjadi BKK-KUA, melanjutkan kebijakan Dewan Mahasiswa. Ketua BKK-KUA, Erwin Moeslimin memberi mandat baru kepada Tim untuk melengkapi temuan dengan bukti-bukti dari aspek lain. Dua aspek akhirnya diditelusuri, sisi ekonomi bangunan, dan sisi yuridisnya. Subtim yang melakukan reevaluasi kalayakan bangunan dari segi finansial memperkirakan bahwa bangunan semacam itu semahal-mahalnya hanya akan menelan biaya sekitar Rp 600 juta dengan nilai harga ketika itu. Ini tidak sesuai dengan anggaran proyek yang sudah menghabiskan biaya lebih dari Rp 1 milyar. Itu artinya terjadi penyunatan hampir 50% dari anggaran proyek.

    Kontraktor Fiktif

    Temuan yang lebih mengejutkan datang dari subtim yuridis. Berikut ini adalah kutipan (yang diedit) dari kesaksian salah seorang anggota subtim yuridis, Antonius Hartono, mahasiswa Fak. Hukum UII ketika itu, yang melakukan pelacakan terhadap PT Double Delta, kontraktor proyek, sampai ke kantornya di Semarang.

    ”Saya pergi ke Semarang dengan Saelan Al Faruqi (salah seorang anggota subtim – pen.), naik bus. Tujuan kami adalah mencari tahu alamat PT Double Delta. Saya bawa kamera pribadi yang cukup canggih ketika itu, Canon, yang pasti dibutuhkan untuk dokumentasi otentik. Sampai di Semarang, pertama-tama kami langsung pergi ke kantor Kanwil Departemen Perdagangan, untuk mengecek keaslian SIUP (surat izin usaha perdagangan) . Hasilnya SIUP itu ternyata palsu. Dengan kata lain, PT Double Delta tidak pernah terdaftar sebagai perusahaan yang sah dan diakui. Tentu saja ini membuat kami shock. Akhirnya, dengan penasaran, kami menuju ke alamat perusahaan fiktif itu. Alamat yang kami tuju itu tak jauh dari kampus Universitas Diponegoro, ternyata adalah sebuah toko buku kecil. Pemilik toko heran dan bingung karena alamatnya dipakai oleh sebuah perusahaan kontraktor bohongan. Dia marah-marah. Dia mengaku tak pernah mengenal nama Direktur PT Double Delta yang disebut-sebut dalam SIUP palsu itu. Kami akhirnya makin penasaran, lalu melacak alamat pribadi sang Direktur. Jauh di luar kota Semarang, kami menemukan bahwa rumah itu terletak di sebuah kompleks perumahan yang biasa-biasa saja. Pemiliknya juga mengakui tidak pernah mengenal nama Direktur PT Double Delta. Kami pulang dengan keyakinan yang kuat bahwa perusahaan yang memborong pembangunan kampus antara, pada kenyataannya adalah perusahaan fiktif.”

    Itulah salah satu upaya pelacakan yang dilakukan oleh dua orang anggota Tim yang dengan mudah menemukan bukti tentang fiktifnya perusahaan kontraktor, pemborng proyek Kampus Antara. Perlu diingat kembali bahwa yang memenangkan perusahaan fiktif itu adalah Tim Pelelangan yang sebelumnya juga diketuai Effendi Ary.

    Menjadi ”Buku Merah”

    Seluruh bukti-bukti temuan dari berbagai aspek itu, dari sisi teknis, ekonomis, dan yuridis, akhirnya disusun menjadi sebuah buku laporan, sebagian merupakan analisis atas data, sebagian dokumen-dokumen, disertai foto-foto hasil pelacakan lapangan. Buku ditulis selama beberapa minggu, pada sekitar catur wulan terakhir 1989. Begitu buku selesai, BKK-KUA meminta agar segera disebarkan ke para petinggi kampus, termasuk ke seluruh anggota pengurus Badan Wakaf dan Reketoriat. Tujuannya adalah mendesak agar pimpinan tertinggi kampus melakukan tindakan segera untuk menghentikan pembangunan proyek, dan mengambil tindakan-tindakan yang sepantasnya untuk membubarkan organisasi proyek. Mereka mengklaim bahwa UII teølah dirugikan oleh permainan para koruptor yang melekat di dalam tubuh UII sendiri.

    Lobi-lobi ke berbagai pihak mulai dilakukan oleh para aktivis lembaga-lembaga kemahasiswaan untuk menyuarakan tuntutan mereka. Tapi pada saat yang bersamaan, sebenarnya mulai terjadi perpecahan di kalangan pengurus lembaga-lembaga kemahasiswaan sendiri. Beberapa unsur petinggi BKK tidak setuju dengan lengkah-langkah agresif yang diterapkan Ketua KUA. Ada juga gejala bahwa unsur-unsur mahasiswa yang dikendalikan Effendi Ary melakukan bujukan dan sogokan ke beberapa aktivis, dengan berbagai macam imbalan finansial. Perpecahan itu akhirnya semakin mencuat ketika Ketua BKK, Samsudin Tanda, bersama Karel, bendaharanya, menyatakan tidak sejalan dengan kebijakan KUA. Mereka menantang keberadaan Tim. Mereka bahkan meminta Tim Reevaluasi harus dibubarkan.

    Tapi Tim jalan terus. Mereka bahkan mulai merambah untuk lebih jauh maju ke proses hukum. Pada tanggal 30 Oktober 1989, seluruh anggota Tim dengan dukungan aktivis mahasiswa lainnnya mendatangi Kejaksaan Negeri Yogyakarta untuk menjadikan laporan mereka sebagai laporan tindakan kriminal. Sekitar 50an orang pergi ke kantor Kejaksaan untuk melakukan pengaduan dan menyerahkan ”buku merah” sebagai bukti. Pada hari berikutnya, aksi itu ditandingi oleh kelompok mahasiswa lain, yang memperingatkan Kejari untuk tidak meladeni pengaduan Tim karena menilai bahwa Tim ditunggangi oleh anasir-anasir luar UII yang akan merusak UII.

    Bentrokan antara kedua kelompok mulai makin banyak terjadi di berbagai tempat. Beberapa teror dan ancaman disebarkan ke beberapa anggota Tim. Slamet Saroyo, Ketua Tim, adalah sasaran utamanya. Menurut pengakuan beberapa temannya, Slamet sesungguhnya sangat sadar bahwa ancaman-ancaman teror terhadapnya sudah dianggap sangat serius. Tetapi, juga menurut teman-temannya, Slamet seperti tak kenal takut. Dikabarkan bahwa beberapa kali Slamet menyatakan diri lebih baik mati daripada menyurutkan gerakannya untuk membongkar skandal korupsi di UII. Semangat seperti itu juga ditemukan hampir pada semua anggota Tim. Saelan Al Faruqi, ketika diwawancarai oleh sebuah koran lokal mengatakan bahwa ia dan teman-temannya yakin berada di jalan yang benar ”dan hanya untuk menegakkan kebenaran.” (Kedaulatan Rakyat, 3 November 1989).

    Pengadilan Berhenti pada Kasus Perkelahian Berdarah

    4 November 1989, perkelahian terbuka antara kedua pihak tak terhindarkan. Kelompok mahasiswa yang membela Effendi Ary yang telah lama mengincar kegiatan Tim melakukan penghadangan. Mereka terdiri dari Samsudin Tanda, Karel, Monhadi, dan dua orang tak dikenal yang menyertai mereka di dalam mobil. Belakangan diketahui dua orang tak dikenal itu adalah preman dari Lampung yang disewa Effendi Ary. Juga sudah diketahui pula sejak awal, bahwa Karel dan Monhadi adalah dua orang keponakan Effendi Ary yang ingin membela nama keluarga. Sedangkan Samsudin Tanda adalah Ketua BKK yang akhirnya memihak kepada Effendi Ary.

    Kelompok penghadang ini mencegat rombongan anggota Tim yang terdiri dari Slamet Saroyo, Umar Soko, Bambang Irawan, dan dua orang lainnya. Seperti diberitakan secara ramai di koran-koran lokal sehari setelah kejadian, banyak versi mengenai detail peristiwa. Versi-versi yang saling berbeda bahkan saling bertolak belakang. Yang jelas, dua korban tewas dari kedua pihak. Slamet Saroyo tewas seketika di tempat kejadian perkara dengan luka di bagian punggung, diduga tembus mengenai jantungnya. Sementara Monhadi, luka parah di berbagai bagian tubuh, dan meninggal beberapa saat kemudian setelah dibawa ke rumah sakit.

    Geger UII akhirnya sampai ke pengadilan. Tapi pengadilan hanya menyidangkan kasus perkelahian berdarah itu saja. Diketahui kemudian, Kejaksaan Negeri Yogyakarta menghentikan pengusutan atas pengaduan Tim Slamet Saroyo karena sebab-sebab yang misterius. Keadilan formal negara tak pernah mengenai pelaku kejahatan yang sesungguhnya hingga sekarang. Penyelewengan pembangunan kampus UII yang berdiri angkuh di ringroad utara itu tak pernah diusut dengan semestinya. Sementara Slamet Saroyo meninggalkan kita semua yang tak juga melakukan apa-apa. ***

    • wahyudi said:

      Saya kakak kandung Almarhum Slamet Saroyo. kurang lebih tiga atau empat bulan sebelum terbunuhnya almarhum, almarhum datng ke Jakarta meminta pendapat saya tentang buku tentang hasil penelurusan tentang pembangunan kampus antara (UII Condongcatur) yang sudah almarhum tandatangani dengan darah.
      Saya hanya bisa sarankan untuk mencari jalan yang terbaik menurut rekan-rekan mahasiswa yang setuju dengan penelusuran proyek pembangunan kampus Antara.
      Almarhum adalah seorang figur yang lurus dan sangat kuat akidahnya. Dalam salah satu kisahnya ada seorang gadis yang akan mbonceng motor yang dibawanya, almarhum menolak karena bukan muhrimnya, kemudian almarhum meminjamkan motor kepada sang gadis untuk dipakai. Sorenya almarhum mengambil motornya.
      Tiga hari sebelum almarhum terbunuh, saya membaca berita bahwa almarhum dan kawan-kawan menyrahkan buku merah ke Kejaksaan Negeri. Saya hanya membatin akan terjadi sesuatu. Maklum faktu itu era orde baru. Ingat wartawan almarhum Udin?
      Semoga Allah ta’ala mengampuni dosa dan kesalahan almarhum dan kuburnya Allah jadikan roudoh min riyadil jannah dan mendapat rahmat Allah untuk tinggal di surgaNya. Amin

  4. ANONIM said:

    Tulisan AE Priyono seluruhnya benar 200%! Semula rumah Eff. Ar di perumahan Banteng Baru hanya rumah angsuran KPR Bank BTN Yogya yang belum lunas, type 36. Jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah beberapa dosen UII yang lain yang juga ada di deretan rumah-rumah di sekitar situ (misalnya rumah milik Syaf. Alw, Ans Amny, Usmn. Thyb, Dhln. Thb.). Tetapi begitu memimpin proyek, langsung rumah di sebelah timurnya yang juga type 36 dibeli tunai. Kemudian kedua rumah type 36 tersebut dirobohkan untuk diganti dengan sebuah rumah mewah (secara tunai). Belum puas dengan itu, beberapa ratus meter tanah milik penduduk di belakang rumahnya juga dibeli tunai. Dari mana uangnya? Wallahu ‘alam …………. Allah yang Maha Tahu yang akan membalas kebaikan dengan kebaikan, serta membalas kejahatan dengan siksaan yang amat pedih.

    Monhadi, keponakannya yang terbunuh dalam perkelahian, dilaporkan kepada kedua orang tuanya yang ada di Sumatera Selatan sebagai terbunuh oleh perampok yang merampas motornya di jalan (bukannya terbunuh karena dijadikan perisai untuk membela kepentingan dirinya). Segera setelah peristiwa perkelahian tersebut, Eff. Ar pergi haji dengan isteri. Duwit dari mana? Wallahu ‘alam ………….. Allah Maha Tahu yang akan mengadili seadil-adilnya, dan jauh lebih adil daripada pengadilan di dunia!

    Selain rumah mewah, semua kamar anak-anaknya masing-masing dilengkapi dengan pesawat televisi berwarna, yang pada tahun itu merupakan barang super mewah (masyarakat pada umumnya hanya mampu memiliki pesawat TV hitam-putih). Mobilnya yang semula merk Alfa Romeo bobrok, dengan serta merta diganti dengan mobil model terbaru. Dari mana uaangnya? Wallahu ‘alam …………. Allah Maha Tahu yang akan membalas kejahatan dengan siksa yang keji!

  5. Widoyo Puruboyo said:

    Dengan adanya kata-kata Islam, mestinya peristiwa tersebut mestinya dapat dihindari kalau Pimpinan Universitas, bijaksana dan mampu memegang amanah umat Islam. Kata Islam merupakan kata-kata sakral yang harus di pegang teguh bagi pemegang Amanah. Sikap represif dalam menghadapi tuntutan Mahasiswa hanya dimiliki orang-orang Atheis ga ubahnya orang-orang PKI yang berkedok Agama. Mestinya sebagai orang beragama kalau menghadapi kritikan demikian harus berani melakukan open management/transparasi atau audit bersama untuk menghadapi protes Mahasiswa. Kiranya kejdian tersebut segera dilakukan peninjauan dan audit, dan dilakukan tindakan perbaikan, guna membersihkan nama baik Perguruan Islam.Sebagai orang Muslim mengharapkan sikap bijak yang Islami bagi Pimpinan Perguruan Tinggi, dan tunjukkan cermin bahwa UII adalah perguruan Tinggi yang dipimpin dan diajar orang-orang yang anti KKN.Sikap kritis Mahasiswa agar terus dilanjutkan untuk mengusir anasir-anasir Koruptor dan Atheis didalam Kampus.Semoga UII mampu menempatkan diri Sebagai Perguruan Tinggi Anti Korupsi.
    Semoga Allah SWT Meninjukkan jalan kebenaran bagi para Pimpinan Kampus UII. Amin.

  6. bahry said:

    sudah banyak yang ditulis bang AE. satu hal: menunjukkan bahwa perang korupsi tidak dimulai dari pemerintahan pasca orde baru. akan tetapi orde baru yang sulit ditembuspun, UII sudah berjuang.
    semoga, requim dan prasasti yg terletak di makam alm SS dapat menjadikan kita semua utk terus melawan korupsi dimanapun!!!!!!!!!

  7. Saat ini beberapa alumnus UII saya tampung ditempat Perusahaan saya bekerja, dan kinerjanya cukup baik dan saya ingin UII besar dan harum.
    Oleh karenanya saya sangat mengaharapkan di UII jangan ada anasir2 komunis, ataupun Atheis yang aktif di UII, dan mulailah UII menyiapkan kader2 bangsa yang Solech dan Solechah, dan bukan kader yang korup.
    Khusus untuk pimpinan UII mohon kiranya penggunaan nama Universitas Islam jangan dipermainkan, dan yakinkan yang mengelola bukan orang korupt, Komunis atau Atheis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: