Gerakan Rakyat 2.0

Dalam beberapa minggu terakhir, rakyat disuguhi tontonan perseturuan antarlembaga negara pengawal hukum, Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) versus Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Kejaksaan Agung (Kejagung). Beragam skenario berkembang, berbagai macam dugaan masih mencari jawab. Rakyat nampaknya sudah mulai eneg dengan suguhan tontonan yang nampaknya masih panjang untuk menyelesaikan episode terakhir.

Rakyat dari berbagai elemen yang peduli dengan nasib bangsa ke depan terus menyuarakan aspirasinya untuk mengungkap kebenaran. Rakyat tidak rela negerinya diobok-obok oleh mereka yang hanya peduli dengan kepentingan dirinya dan rela mengorbankan oranglain dan bahkan negerinya. Rakyat sudah sangat jengah dengan mereka yang mengganggap bahwa uang akan menyelesaikan segalanya, dan keadilan hanya milik mereka yang berpunya.

Tidak hanya melalui demostrasi di lapangan di berbagai kota, suara rakyat tersebut juga digaungkan melalui media online. Lihat saja, dalam beberapa minggu terakhir “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto” mendapatkan dukungan melebihi satu juta pengguna Facebook, situs jejaring sosial paling banyak digunakan di muka jagad ini.

Minggu lalu ketika seorang pengguna Facebook dengan nama Evan Brimob membuat status yang membuat panas, tidak lama screen shoot halaman Facebooknya sudah beredar dengan cepat. Beberapa hari kemudian, masalah tersebut sudah muncul di televisi. Dan, akhirnya, Evan Brimob yang ternyata memang seorang anggota Brimob ini diperiksa oleh provost dan akhirnya Evan menyadari kesalahan dan meminta maaf. Ini adalah bukti, kontrol sosial dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran dengan bantuan media digital.

Beberapa bulan yang lalu, ketika kasus Prita Muliasari versus Rumah Sakit Omni Internasional mencuat ke publik dan terlihat adanya perlakukan yang jauh dari rasa keadilan, para pengguna Facebook juga membuat gerakan bersama. Dukungan dan simpati untuk Prita digalang dengan cepat.

Kasus paling anyar adalah “Gerakan Facebookers Kecam Komisi III” ketika rakyat disuguhi tontonan Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Polri dan Komisi III DPR RI yang menjadikan Komisi III seakan-akan menjadi humasnya Polri. Rakyat tidak melihat nuansa netralitas anggota Komisi III. Muncullah gerakan rakyat di dunia maya melalui Facebook. Saat tulisan ini dibuat, anggotanya sudah mendekati 25 ribu hanya dalam waktu beberapa hari. Dalam RDP dengan Kejagung, Komisi III nampaknya telah berusaha mengubah citranya.

Jangan bayangkan semua hal dapat terjadi sebelum munculnya teknologi Web 2.0. Web 2.0 telah mengubah model interaksi di dunia maya. Pada era sebelumnya, Web 1.0, interaksi pada situs web cenderung satu arah atau cenderung publikasi, tetapi lahirnya Web 2.0 telah memungkinkan komunikasi dua arah antara ‘pemilik’ dan ‘pengunjung’ yang memungkinkan partisipasi, seperti blogging dan penggunaan situs jejaring sosial seperti Facebook. Sudah sulit dibedakan antara produsen dan konsumen informasi. Teknologi ini telah memfasilitasi pembangunan kesadaran bersama, seperti kasus di atas.

Web 2.0 telah memunculkan apa yang saya sebut dengan Gerakan Rakyat 2.0. Gerakan Rakyat 1.0 di antaranya mengedepankan pertemuan fisik, menyuarakan aspirasi dengan demonstrasi, atau media massa konvensional, sedangkan Gerakan Rakyat 2.0 menggunakan teknologi Internet, terutama Web 2.0, untuk menggalang dukungan.

Akselerasi penggalangan suara dan penyamaan persepsi Gerakan Rakyat 1.0 tidak dapat secepat Gerakan Rakyat 2.0. Dalam beberapa hari saja, dukungan dapat mencapai puluhan ribu, dan bahkan melebihi satu juta. Diseminasi informasi pada Gerakan Rakyat 2.0 sangatlah cepat dan sulit terbendung. Magnitude yang dihasilkan Gerakan Rakyat 2.0 jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan Gerakan Rakyat 1.0. Tanpa liputan media massa, magnitude Gerakan Rakyat 1.0 akan hilang dengan segera, sedangkan Gerakan Rakyat 2.0 mengatasi halangan ruang dan waktu, dengan cakupan hampir tanpa batas selama koneksi Internet menjangkau.

Jika pada Gerakan Rakyat 1.0 banyak kecurigaan masuknya pihak tertentu dengan menungganggi demonstrasi atau membayar orang ikut sebagai bagian massa, maka pada Gerakan Rakyat 2.0 masalah ini tidak lagi relevan. Simpatisan Gerakan Rakyat 2.0 menyatakan pendapatnya dengan sukarela tanpa paksaan dan dilandasi kesadaran. Tidak ada isu ‘uang transport’ untuk ikut demonstrasi yang berkembang.

Yang menarik, melihat demografi pengguna Internet di Indonesia, simpatisan Gerakan Rakyat 2.0 adalah mereka yang terdidik dan berasal dari kelas menengah ke atas. Gerakan Rakyat 2.0 akan menjadi gerakan yang bersih dan berbobot, jauh dari kepentingan politik jangka pendek dan bebas dari kekerasan yang seringkali menyertai Gerakan Rakyat 1.0. Karenanya, ke depan Gerakan Rakyat 2.0 dapat dijadikan alternatif atau pelengkap Gerakan Rakyat 1.0 yang dalam banyak kasus masih diperlukan bangsa untuk menyuarakan aspirasi ketika keadilan belum menjadi milik semua.

*Tulisan dimuat dalam Kolom Analisis Kedaulatan Rakyat, 12 November 2009

4 comments
  1. mmm, tak salah jika fesbuk [sbg representasi web 2.0] menjadi pilar demokrasi kelima setelah legislatif, eksekutif, yudikatif dan pers. tiga yg pertama sifatnya perwakilan jadi sangat rawan penyelewengan aspirasi sementara pers bisa menjadi alternatif tp hanya informatif dan ajakan saja. beruntung ada fesbuk yg bisa membuat rakyat mewakili dirinya sndiri utk berkata2 dan ‘memaksa’ pers meliput akar rumput dan ‘memaksa’ terjadinya koreksi di ranah perwakilan😀

    nb: kbtulan pernah bikin tulisan yg hmpr serupa di blog saya :: http://yasiralkaf.wordpress.com/2009/11/08/people%E2%80%99s-power-di-facebook/

    • Fathul Wahid said:

      @Yasir, Setuju mas. Makasih telah mampir dan komentarnya.

  2. jangan lupakan juga pak, si “sakti sihite”. MEngangkat diri jadi Rosul dan menyebarkan ajaraan “kerasulan”-nya melalui website pribadi serta fesbuk.

    Web 2.0 menjadikan kekuatan sosial sebagai kekuatan sekaligus kelemahan. fesbuk adalah contoh unjuk kekuatan tersebut, kemudian frenster adalah contoh kelemahan tersebut. Web 2.0 menjadikan penggunanya sebagai hal yang utama. Jika hilang pengguna, hilang juga existensinya.

    Web 3.0 pasti lebih menarik lagi fenomena-nya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: