Predictably Irrational

Predictably Irrational“Anda boleh tidak mengikuti perkuliahan sebanyak tiga kali, untuk tetap berhak mendapatkan nilai A,” demikian yang selalu saya katakan di setiap pertemuan pertama kelas. Selama beberapa tahun, semua mahasiswa setuju. Bagaimana jika yang saya munculkan, untuk tetap berhak mendapatkan nilai A, mahasiswa harus masuk 75% dari total pertemuan. Beberapa mungkin tidak setuju. Apa bedanya, tidak masuk tiga kali, dan masuk 75% untuk total pertemuan 14 kali? Tidak ada.

Apa kesan yang ditangkap ketika Anda membaca spanduk dengan tulisan berikut: “Mahasiswa yang masuk kuliah kurang dari 75% tidak diizinkan untuk mengikuti ujian akhir semester”. Bandingkan kesan Anda kerika membaca spanduk lain dengan tulisan: “Untuk memberikan kesempatan dan mendorong mahasiswa mengembangkan soft skills, untuk dapat mengikuti ujian akhir semester, mahasiswa cukup masuk 75% dari total pertemuan”. Jika Anda mahasiswa, mungkin Anda agak keberatan dengan tulisan yang pertama, sedang dengan lebih mudah menerima tulisan yang kedua. Apa bedanya? Tidak ada.

Tetapi mengapa orang mungkin menyikapinya berbeda? Ini adalah contoh bahwa bahwa kita sangat sering bertindak irasional.

Buku berjudul Predictably Irrational yang ditulis oleh Dan Ariely mengupas masalah irasionalitas ini dengan sangat menarik. Seperti biasa, buku-buku seperti ini hampir selalu saya beli di toko buku bandara. Buku ini saya beli di Bandara Juanda ketika sedang menunggu pesawat yang akan membawa saya ke Ende di Pulau Flores.

Manusia sangat sering bertindak secara irasional, dan sering terjebak dalam ukuran-ukuran yang dibuatkan sendiri yang tidak dapat dijelaskan dengan rasional. Melalui banyak eksperimen yang dilakukannya, Dan Ariely memberikan contoh irasionalitas dalam banyak kasus di kehidupan. Mulai dari kasus membeli barang yang tidak kita butuhkan, menentukan harga tawaran tertinggi untuk sebuah barang, sampai kondisi-kondisi di mana manusia cenderung tidak rasional dalam bersikap.

Sadarkah ketika Anda ke sebuah restoran cepat saji dan dalam menu Anda menemukan tiga ukuran menu? Ukuran menu mana yang Anda pilih: small, medium, atau large. Kemungkinan besar, jika Anda bukan anak-anak, akan memilih medium. Itulah menu yang diinginkan oleh restoran untuk dijual. Mengapa Anda memilih yang medium? Pas dengan ukuran – maaf – perut Anda? Sangat mungkin Anda tidak mempunyai jawaban yang rasional. Karena ukuran itu, sangat mungkin Anda pilih baik pada saat Anda lapar sekali, maupun hanya sekedar menemani teman yang mengajak.

Banyak contoh lain keputusan yang karena sering kita ambil, yang akhirnya menjadi seakan-akan rasional. Mengapa bisa demikian? Penasaran? Silakan Anda baca buku karya Dan Ariely ini.🙂

2 comments
  1. matursuwun Pak, coba deh ntar nyari di toga.🙂

  2. uzan said:

    Trims ilmu nya pak,
    terkadang saya juga sering merasa irrasional dlm berdoa.. sering nuntut tapi tak mau butut, sering teriak tapi tak pernah bergerak..
    insyaAllah klo ketemu buku nya di Kota ini, saya tertarik utk membacanya pak. Maklum kota ini menyediakan buku-buku berumur Senior,namun terbatas dlm buku yg versi renyah dan yunior..🙂
    wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: