Calon pemimpin kampus

Suatu ketika saya sedang ngobrol dengan beberapa kawan dan saya ditanya seorang kawan, “Siapa yang pantas jadi rektor?”. Waduh. Jawaban saya kadang asal, kadang agak serius.

Ini adalah jawaban saya yang agak serius bak analis di banyak stasiun televisi. Seorang rektor harus dapat membawakan tiga peran sekaligus: akademisi, manajer, dan politisi. Pada suatu saat, dia adalah akademisi. Dan sampai saat ini di Indonesia, belum banyak rektor yang dari kalangan non-akademisi. Secara keilmuan, dia harus menguasai bidangnya. Didengar ketika dia berbicara dan berkomentar di bidangnya. Dihormati kepakarannya dalam lingkungannya. Singkatnya, dia harus academically proven.

Pada saat yang lain, seorang rektor adalah manajer. Dia harus bisa mengelola sumberdaya yang terbatas untuk menjadikannya sebagai manfaat terbesar untuk institusi, bukan untuk diri sendiri. Dia harus bisa menjamin ide-ide besarnya diterjemahkan oleh bawahannya. Dia harus bisa mengelola konflik dengan baik, dan membalikkannya menjadi sebuah kekuatan, dan tidak justru terlibat dalam konflik. Dia harus dapat berkomunikasi dengan baik, baik dalam forum nasional maupun internasional. Dan, masih banyak kemampuan seorang manajer yang harus dimiliki, termasuk memahami konsep manajemen perguruan tinggi seperti yang terkait akreditasi dan berbagai macam hibah. Yang terakhir ini, titipan para “laskar pencari dan pelaksana program hibah”.πŸ™‚

Namun, pada saat yang lain, dia juga seorang politisi (yang baik). Dia harus peka dengan aspirasi, dia harus peduli dengan masalah rakyat dan bangsa. Dia harus bisa mengkomunikasikannya dengan berbagai elemen bangsa. Hanya dengan demikian, posisi universitas sebagai kawah candradimuka agen-agen perubahan dapat diperankan.

Saya melanjutkan jawaban saya yang cukup serius ini. Saya tidak bisa menyebut orang, tapi kriterianya menurut saya ada beberapa. “Perlu orang dengan empat “o” untuk menjadi pemimpin kampus ke depan,” lanjut saya menyampaikan teori baruπŸ™‚. Pemimpin kampus harus (a) ngerti arep ngopo, (b) gelem kerjo, (c) diterimo konco-konco, dan (d) duwe bolo.

Pemimpin kampus harus tahu mau kemana akan membawa kampus ke depan, ngerti arep ngopo, visioner. Dia harus orang yang intellectually capable. Kata seorang kawan, harus pinter. Tanpa ini kok rasanya sulit untuk memenangkan persaingan ke depan.

Kedua, pemimpin kampus harus orang yang suka bekerja keras, gelem kerjo. Seorang kawan menyebutnya harus kober. Diperlukan pimpinan yang dapat memberi contoh tentang arti kerja keras. Pimpinan tidak selayaknya hanya tunjuk sana sini, tanpa bisa memberikan contoh. Kalau perlu datang sebelum yang lain datang, dan pulang paling akhir. Rekam jejak selama ini bisa dijadikan acuan.

Pemimpin kampus juga harus socially acceptable, diterimo konco-konco. Kawan saya menyebutnya pener. Dalam konteks yang loosely coupled seperti universitas, pemimpin harus menjadi perekat dan bisa masuk ke semua kalangan. Kehadiran dia menyejukkan. Kehadirannya menjadikan suasana menjadi lebih semarak dan berwarna. Karenanya, pemimpin seperti ini biasanya lebih terbuka terhadap kritik dan saran.

Yang terakhir, pemimpin kampus harus punyak jaringan yang baik, duwe bolo. Betul, jaringan bisa dibuat sewaktu menjadi pemimpin, tetapi untuk percepatan yang baik, harus tidak dimulai dari nol. Tune-in diperlukan beberapa saat, tetapi setelah itu, harus menjadi pemain yang diperhitungkan.

Mau ditambah? Ini jawaban “asal” saya ketika ditanya senior saya yang ahli agama. Kalau rektor sholat subuhnya ke masjid pasti tambah sip! Orang yang selalu sholat subuh ke masjid pastilah orang yang rajin, suka bekerja keras, menghindari kesenangan pribadi, dan jiwa sosialnya tinggi.

Apakah Anda orang tersebut?

Ini teori saya. Mungkin Anda punya teori lain.

6 comments
  1. Kayaknya pak fathul yang cocok untuk seorang pemimpin UII.. he..h.e..

  2. Fathul Wahid said:

    Wah, saya lupa satu syarat lagi mas. “O” yang kelima: aku ojo (alias jangan saya). Berarti saya tidak termasuk kriteria mas.πŸ™‚

  3. Bravo Pak Fathul.
    Saya yakin UII akan maju n jadi rahmatallil ‘alamin klo bisa mendapatkan rektor sesuai kriteria diatas. Bagi saya, keterbukaan terhadap kritik dan masukan dari pihak manapun merupakan modal yang sangat esensial untuk calon rektor kita karena perubahan akan terjadi tiap detik yang tidak memungkinkan utk seorang rektor utk bisa menguasai segalanya. Yet, klo dia terbuka dg masukan, paling tidak kita (UII) tidak akan ketinggalan.
    Kita tunggu untuk periode berikutnya ya Pak.

  4. saya setuju dengan bang zuole pak fathul…saya pikir semua itu sudah pada kriteria bang fathul…dan seorang muslim yang baik, saya kira tidak akan menggunakan syarat yang ke empat “o” tadi, sebab kalau semua orang seperti itu terus bagaimana sebuah instuti akan baik karena syarat “o” akan menjadikan kendala ( virus )dalam mengembangkan baik dari diri seseorng dan juga bagi intansi itu sendiri…, kasihan kan bila intansi dipimpin yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok, sementara banyak sekali orang yang mampu atau memenuhi syarat diatas hanya karena syarat “o” tadi…dimunculkan..

  5. Sepertinya perlu ditambah 1 lagi Mas.. Rektor UII mungkin diperlukan seorang budayawan sekaligus seniman.hehe. Lagi2, untuk kriteria ini Mas Fathul memenuhi banget..

  6. Fathul Wahid said:

    @Mas Sugiyono: Terima kasih komentarnya. Insya Allah kita bisa pilih yang terbaik Mas. Amin.

    @Mas Subhan: Ditambah lagi Mas. Harus ahli komunikasi dan rajin nulis. Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: