What the dog saw

what the dog sawBeruntung beberapa hari yang lalu masih bisa menyempatkan diri ke toko buku sepulang kerja. Ada buku titipan istri yang saya cari tetapi tidak ditemukan di toko tersebut. Dalam rak yangsaya lihat, saya temukan buku kolega saya, Revianto Budi Santosa, dalam bahasa Inggris tentang kehidupan di Kotagede berjudul “Life between Walls” terbitan Gramedia. Tidak ada kaitannya dengan es krim.๐Ÿ™‚ Kebetulan sampul plastik sudah terbuka. Saya baca sekilas. Menarik sekali.

Sambil mencari buku yang lain, saya temukan buku kecil bersampul putih dengan gambar sepatu butut. Buku tersebut berjudul “What the Dog Saw”, apa yang dilihat anjing. Ini adalah karya Malcolm Gladwell yang kedua yang saya baca. Buku terdahulu yang sudah saya baca adalah Blink, kekuatan menyimpulkan sesuatu dalam beberapa detik awal. Banyak yang menarik dalam buku “What the Dog Saw”.

Ketika Anda melihat seorang pawang hewan mengelus seekor anjing yang menyalak dan kemudian berhenti, apa yang Anda pikirkan? Apakah bagaimana sang pawang melakukan hal tersebut? Bagaimana sang pawang berkomunikasi dengan si anjing? Atau apa yang anjing pikirkan ketika sang pawang mengelus kepalanya. Buku ini menjawab pertanyaan yang terakhir.

Dalam banyak kasus, tanpa sadar, kita sering melihat dari kacamata kita, dengan ukuran-ukuran kita. Sangat mungkin ukuran-ukuran tersebut tidak persis sama dengan apa yang diinginkan orang lain. Seorang kawan dalam status Facebook menulis, “Ternyata anak yatim tidak hanya melihat santunan yang kita berikan”. Betul, seringkali ukuran kitalah yang menyesaki otak kita. Padahal orang lain sangat mungkin menangkap lain. Status Facebook tersebut, dalam bahasa lain, dapat ditulis “Anak yatim juga melihat santunan sebagai wujud kasih sayang. Mereka rindu kasih sayang.”

Seorang karyawan beberapa hari lalu saya tanya ketika berjalan bersama ke masjid, “Kalau si A jadi pemimpin fakultas yang baru bagaimana?”. Jawaban yang saya dapatkan mungkin tidak pernah Anda bayangkan. “Wah, jangan Pak. Dia kalau ketemu karyawan, kalau tidak disalami, tidak akan menyalami.” Ternyata jawaban sederhana ini sangat dalam maknanya. Bersalaman ketika ketemu orang, yang sangat mudah dilakukan itu, ternyata mempunyai arti penting. Salaman bisa berarti pengakuan keberadaan. Salaman bisa berarti menghargai. Salaman bisa berari kerendahhatian. Masih banyak tafsir lain.

Jika demikian, masihkah otak kita disibukkan dengan ukuran-ukuran yang kita buat sendiri?

3 comments
  1. hanafi said:

    Terima kasih pak ulasannya.๐Ÿ˜€

    Ukuran pandang seseorang merupakan gambaran seberapa wise orang tersebut, semakin banyak sudut pandang orang-orang yang dia perhatikan (dan pertimbangkan) ke dalam sudut pandangnya sendiri maka akan memperbesar ukuran pandangnya.

    “Sebuah samudra dikatakan besar jika semakin banyak juga sungai yang bermuara padanya”, betul tidak pak?

  2. bahry said:

    maka sungguh nikmat ketika kita dapat melihat tidak dengan ukuran kita. akan tetapi mencoba untuk memahami hal yg sederhana. dan kita sering terlewat pak.
    sala.
    bahry. mahasiswa uii.
    http://www.bramsusu.blogspot.com

  3. ikhwan said:

    wah,saya juga lagi baca buku tersebut,pak.
    sangat menarik. kisah-kisah tentang saos, pemasar alat-alat rumah tangga, cerita tentang pil kontrasepsi, dll..

    kebetulan sambil latihan baca tulisan bahasa inggris juga,hehehe๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: