Selamat Datang di Ruang Pengetahuan!

Kalau Alvin Toffler membagi masyarakat ke dalam tiga tahap, mulai dari agraris, industri, dan informasi, Pierre Lévy, seorang profesor di dalam bidang hypermedia dari University of Paris-VIII membagi ruang (space) menjadi empat. Tahapan terakhir pembagian kedua pemikir itu sama-sama didorong oleh kehadiran teknologi informasi.

Profesor Lévy membagi ruang dalam konteks ruang antropologi. Empat ruang yang digagas tersebut oleh adalah (1) earth (bumi), (2) territorial space (ruang teritorial), (3) commodity space (ruang komoditas), dan (4) knowledge space (ruang pengetahuan).

Di bumi, identitas manusia ditentukan oleh ikatannya dengan kosmos dan afiliasinya dengan manusia lain. Karenanya, identitas yang terkait dengan keturunan, biasanya muncul pada awal curriculum vitae (CV), yaitu nama. Pada ruang ini, perburuan dan perkumpulan menjadi sumber kekayaan.

Ruang kedua tidak meniadakan dunia, tetapi menutupi sebagiannya dan menjadikannya menjadi sesuatu yang menetap, terdomestifikasi. Pada ruang teritorial ini, kekayaaan merupakan hasil dari kepemilikan dan eksploitasi, bukan lagi perburuan dan perkumpulan. Pada ruang ini, manusia mulai menggunakan tulisan untuk moda pengetahuan. Keberadaan dalam ruang ini tidak lagi terkait dengan kosmos, tetapi terhubung dengan entitas teritori (afiliasi, properti, dan lain-lain) yang didefinisikan oleh batas. Ruang kedua ini dimulai pada zaman Neolitik ketika pertanian, kota, negara, dan tulisan mulai diperkenalkan. Ruang kedua ini biasanya disimbolkan dengan alamat, teritori manusia yang didefinisikan oleh batas-batas geografis. Alamat adalah identitas untuk merepresentasikan eksistensi dalam ruang kedua.

Ruang ketiga, ruang komoditas, berkembang pada abad ke-16. Ruang ini tidak lagi didominasi oleh batas-batas, tetapi oleh pergerakan. Perdagangan yang merupakan aktivitas ekonomi yang melibatkan pergerakan energi, pergerakan bahan baku, barang, modal, tenaga kerja, dan informasi dominan pada ruang ini. Kekayaan tidak lagi dihasilkan karena kemampuan kendali atas batas-batas, tetapi dari kendali atas pergerakan. Untuk mendapatkan identitas, dan menjadi eksistensi dalam ruang komoditas, kita berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi, menduduki jabatan, bertransaksi, dan berkomunikasi. Sehingga, setelah kita menuliskan nama dan alamat dalam CV, informasi selanjutnya adalah profesi atau pekerjaan yang merupakan simbol ruang ketiga.

Ruang pengetahuan adalah ruang antropologi baru yang lahir bersamaan dengan lahirnya teknologi informasi. Dalam ruang ini pengetahuan dan kecerdasan kolektif (collective intelligence) menjadi penentu. Kehadiran ruang ini tidak menafikan ruang-ruang lain yang sudah lebih dahulu hadir, tetapi ruang ini akan mengendalikannya. Pada ruang ini, kekuasaan mengendalikan territorial dan jaringan ekonomi akan sangat ditentukan oleh kapasitas mengakuisisi pengetahuan dan pengembangan imaginasi kolektif. Ada tiga aspek penentu dalam ruang ini, yaitu kecepatan akuisisi pengetahuan, banyak orang (massa) tempat bertanya dan menghasilkan pengetahuan baru, dan alat bantu siberspasial yang akan mempercepat akuisisi dan penyebaran pengetahuan. Pada ruang ini, kehadiran teknologi informasi tidak “menggantikan manusia”, tetapi meningkatkan konstruksi komunitas cerdas di mana potensi kognitif manusia dapat ditingkatkan dan dikembangkan.

Selamat datang di ruang keempat!

Referensi: Trend, David. (ed.) (2001) Reading Digital Culture. Massachusetts: BlackWell Publishers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: