Riset = Prostitusi?

Beberapa minggu lalu, salah satu kelas pertemuan matakuliah Theoretical Foundations in Information Systems yang saya ambil, menghadirkan dosen tamu dari universitas tetangga. Profesor ini berasal dari Perancis tetapi sudah malang melintang di banyak negara, lintas benua.

Ada pernyataan menarik yang dia lontarkan di kelas sebagai otokritik, tanpa bermaksud menyinggung siapa-siapa. “Research in some cases are just like prostitution. No money, no research. Like prostitution, is’n it?” Tanyanya retorik. Semakin menarik, karena yang mengungkap metafor ini adalah professor perempuan. Lah apa hubungannya?

Memang dana riset yang didapat adalah ukuran yang sangat kentara, ceta wela-wela. Asesor BAN PT pun selalu menanyakan ini karena masuk dalam salahย  satu item penilaian. Semakin banyak nol-nya semakin tinggi nilainya, meskipun tidak ada publikasi yang cukup berkualitas dari riset ini. Sebaliknya, penelitian yang menghasilkan publikasi dengan proses peer-review yang cukup ketat, yang dilakukan tanpa proposal dan dana dari pihak luar, masih dipandang sebelah mata. Argumen yang dikemukakan memang sekilas masuk akal. Kalau riset bermutu, maka akan ada yang mendanai. Definisi mutu riset juga nampaknya perlu diskusi panjang. Sampai saat ini diskusi tentang relevant dan rigor dalam riset masih berlangsung meski sudah dimulai sejak zaman Jurgen Habermas.

“Kalau memang ada riset, mana proposalnya?” Lah! Begitu kira-kira komentar salah satu asesor yang pernah saya temui beberapa tahun lalu, karena mungkin, agak memandang rendah PTS. Kesimpulan asesor tadi: tanpa proposal, tidak ada riset. Wallahu a’lam.

Metafor prostitusi ini didukung juga dengan bukti-bukti empiris. Kalau mau jujur, tujuan mengajukan dana riset dalam berbagai skema nampaknya seringkali tidak murni akademik, dan mungkin bahkan ada yang menempatkan akademik di urutan nomor 27, alias buncit. Tentu saja, saya tidak menuduh siapa-siapa. Tetapi, jarang dalam pembicaraan antar periset yang muncul adalah temuan atau proses riset yang sedang dilakukan, tetapi dana yang didapat berapa?

Prinsip “palu-gada” juga semakin memperkuat metafor ini. “Apa lu mau, gue ada”. Dari pengamatan sekilas dan informasi kiri-kanan-atas-bawah, banyak yang banting setir untuk sesuai dengan peluang yang ada, meskipun agak jauh dari bidang keahlian atau minatnya. Dan, bahkan ketika proposal diterima dan harus presentasi karena namanya dijadikan ketua peneliti, kalang kabut, dan kadang dengan berbagai alasan, diwakilkan ke salah satu anggotanya yang lebih tahu tentang topik riset ini (atau lebih tepatnya yang membuat proposal riset).

Saya jadi teringat acknowledgement sebuah article jurnal yang tidak lazim. Biasanya, acknowledgment jurnal berbunyi: “Financial support from … made this research possible. Bla… bla …“. Tetapi yang ini lain: “The authors received no financial support for the research and/or authorship of this article.” Sip dah!

Tentu saja, tulisan ini tidak kemudian dijadikan alasan menuduh secara membabi-buta dan menyamaratakan semua periset yang mendapatkan dana dari luar, apalagi dijadikan pembenar tidak melakukan riset dengan ngeles tidak mau terlibat ‘prostitusi’.

Moral apa yang bisa didapat? Pertama, dana sangat menentukan riset, terutama yang membutuhkan dana besar. Kedua, riset tidak harus menunggu dana. Ketiga, seperti namanya, “dana riset”, harusnya digunakan sebisa mungkin untuk meningkatkan kualitas riset, dan bukan meningkatkan kuantitas dana sisa. Kalau memang riset berkualitas dengan indikasi salah satunya publikasi berkualitas atau diseminasi/inkubasi hasil riset yang bagus, kalau dana sisa, itu adalah rejeki yang pantang ditolak. Keempat, kelima, keenam, dan seterusnya, silakan ditambahkan sendiri.๐Ÿ™‚

Ah, saya mungkin mengada-ada! Mudah-mudahan saya salah, atau malah jangan-jangan, saya juga terlibat dalam praktik ‘prostitusi’ ini? Weit, gawat!

3 comments
  1. oedi said:

    Wah info yang bagus pak. Tidak di sangka sejauh itu faktanya… Memang benar, terkadang kita sering terjebak tentang siapa yang salah dan benar. Kita juga sering menipu diri sendiri dengan merasa paling benar dan hebat. Padahal sudahkah kita menyimak langkah dan hasil yang telah kita lakukan, khususnya dalam hal riset, kita sering terjebak dalam urusan dana yang dianggap akan menjamin kualitas. Memang dana yang besar setidaknya menjamin ketersediaan waktu dan kesempatan, namun tetap saja itu bukanlah standar keberhasilan yang utama. Karena banyak juga yang dengan keterbatasan dana dan fasilitas, tetap saja bisa mengukir prestasi terbaik (contohnya: penemu terapi nuklir dari Gunung kidul, dll).

  2. naphi said:

    saya baru mulai masuk ke dunia ‘prostitusi’ pak, mohon doanya.๐Ÿ™‚

    • Fathul Wahid said:

      hehehe, mas naphi, kalau mau tidak terjebak dalam dunia itu, luruskan niat.๐Ÿ™‚ dan tetap meneliti meskipun tidak ada keuntungan finansial. welcome to the club mas. sukses ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: