Penitipan hati nurani

Roni memacu mobil BMW keluaran terbaru ke kantornya. Nyamannya mobil seakan mengkompensasi kemacetan di jalanan Jakarta. Terdengar lagu “The Wind of Change” yang dinyanyikan Scorpion dari pemutar CD, lagu yang diilhami gerakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) di Uni Soviet. Dentuman bas dari loudspeaker Harman/Kardon terasa sangat lembut.

I follow the Moskva

Down to Gorky Park

Listening to the wind of change

An August summer night

Soldiers passing by

Listening to the wind of change

Demonstrasi menuntut perubahan pada saat itu terjadi di Gorky Park di Moskow. Persis seperti suasana Tahrir Square di Kairo dalam 12 hari terakhir.

Roni adalah mantan aktivis kampus. Pemikiran cukup moncer dan sangat idealis. Lagu seperti itu seakan menyegarkan kembali idealismenya. Sejak beberapa tahun terakhir, Roni terlibat dalam posisi penting sebuah partai politik. Sejak saat itulah, dia membuka pintu menjadi anggota parlemen.

***

Mobil mewah itu pun sampai di pintu gerbang gedung wakil rakyat yang atapnya terinspirasi pecahan kreweng (panci dari tanah liat – red) itu. Mobil diparkir di tempat yang sudah diatur.

Tas kulit bermerek diambil dari jok belakang. Dengan jas Armani warna gelap serta sepatu Salvatore Ferragamo menjadikan Roni yang berpostur tinggi terlihat sangat gagah.

Sebelum memasuki gedung, Roni harus melewati pintu pemeriksaan rutin.

“Pak, silakan dititipkan di sini”, pinta petugas di depan pintu masuk.

Roni pun mengambil bungkusan mengkilap warna keemasan dari tasnya. Tertulis di bungkusnya: “Hati Nurani”. Pada papan nama loket tersebut tertulis “Penitipan Hati Nurani”. Terdapat tulisan kecil di bawahnya: “Pastikan hati nurani dititipkan sebelum memasuki gedung”.

“Ini”, ucap Roni sambil menyerahkan bungkusan tadi.

Roni pun melenggang masuk ke kantornya. Beberapa menit lagi, Roni harus mengikuti sidang komisi.

“Untung, aku bawa dua bungkusan”, gumam Roni.

Ya, Roni hari itu harus membawa dua bungkusan, karena setiap masuk, dia harus menitipkan satu di loket penitipan. Kadang, Roni harus membawa lebih dari dua, karena energi positif bungkusan seringkali habis dengan cepat, kalah dengan energi negatif di sekelilingnya. Banyak kolega Roni yang merasa cukup membawa satu bungkus untuk syarat penitipan.

Dengan modal bungkusan kedua itulah, Roni berharap idealisme tidak disilaukan kepentingan politik sesaat yang selama ini menjadi cerita tak berujung, seperti sinetron.

***

“Pimpinan sidang yang terhormat, saya tidak setuju dengan usulan itu”, ujar Roni menanggapi usulan ketua sidang dengan suara lantang.

“Kita tidak mungkin mengkhianati rakyat”, sambungnya.

Sidang komisi berlangsung panas, seperti biasa. Energi positif bertarung dengan energi negatif. Seperti pertarungan Chun Li dari Street Fighter melawan Jade dari Mortal Kombat.

***

Hari berikutnya. Ritual harian ke kantor pun dimulai.

“Pak, bungkusannya belum dititipkan”, petugas loket penitipan mengingatkan Roni.

Roni pun mengambil bungkusan seperti biasanya untuk dititipkan. Wajah Roni memerah dan terlihat lunglai berjalanmemasuki kantor.

Busyet! Hari itu Roni lupa membawa bungkusan cadangan. Roni akan memasuki ruang sidang tanpa bungkusan, tanpa hati nurani.

Tidak lama kemudian, terdengar suara gemuruh dari ruang sidang.

“Setujuuuuuu!!!!”

– Kristiansand, 5 Februari 2011

2 comments
  1. Alam said:

    setujuuuuu (menirukan hardirin sidang)🙂

    • Fathul Wahid said:

      🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: