Kartu pos misterius

Kulirik jam tangan: 17:25. Saatnya pulang dari kantor. Nampaknya tinggal aku dan kawan sekantor dari Nigeria yang tinggal.

Sebentar. Aku buka Dashboard Macbook Pro. Cek suhu di luar: 7 derajat. Lumayan dingin untuk ukuran pertengahan Oktober di Kristiansand. Jaket tebal, kaos tangan, syal gaya Arafat aku pakai. 

Aku menyusuri lorong kampus sendiri. Melintasi jembatan penghubung antar gedung. Juga sendiri. Matahari masih terlihat. Angin lembut berhembus.

Di depan kantin, beberapa mahasiswa masih bercengkerama sambil merokok. Nampaknya merokok memang pas untuk menghangatkan badan pada 7 derajat.

Kuambil sepeda dari parkiran. Sepeti biasa, kususuri jalan pintas yang ditunjukkan oleh seorang kawan dari Pakistan, menuju pulang ke apartemen. Tidak sangat jauh, hanya sekitar 3 kilometer. Angin lembut dan dinginnya suhu terasa sampai ke telinga yang menjadi kaku dan terasa panas.

“Hi!”, sapa Ali di dekat Ica MAxi, dekat Sor Arena, gelanggang olahraga tertutup di Lund.

“What are you doing here?”, tanyaku.

Ali baru saja membeli daging ayam halal yang akan dimasak untuk malam nanti. Tas kresek belanjaan bertuliskan Rema 1000, meski dia belanja di Ica Maxi, tergantung di stang sepeda.

“Lumayan, ngirit 1 kroner untuk beli tas kresek”, pikirku.

Dalam perjalanan kami pun mengobrol. Ali banyak cerita tentang keluarganya di Gilgit di daerah Pakistan utara, perbatasan dengan China.

Tak terasa, kami pun sampai di apartemen Roligheden studentsbolig.

Ritual harian waktu pulang: cek kotak pos. Penuh. Ternyata banyak selebaran promosi dari beberapa toko. Tersembul secarik kertas putih bersih di antara selebaran promosi. Aha! Sebuah kartu pos. Tidak ada prangko yang menempel.

Pengirimnya? Angle. Malaikat? “Hehe, wah, pasti iseng nih”, pikirku. Aku teringat film Surat untuk Tuhan besutan Garin Nugroho. Kurang kerjaan amat, malaikat sempat ngirim kartu pos.

Pesannya? Hanya tertulis huruf A besar di sana. Dengan spidol warna hijau gemerlap. Sangat jelas dilihat dari jalam 10 m.

Masih heran, aku bawa kartu pos itu.

“Hi”, sapaku sambil lalu ke Rozita, anak Iran yang sedang mengambil program master di dapur yang kulewati.

Kuletakkan tas di kursi. Kubuka laptop untuk akses Internet. Radio online dari Yogyakarta sering menemaniku di kamar. Lagu One Love dari Blue terdengar mengalun. Teringat istri yang sangat menyenangi lagu ini.

Kartu pos tergeletak di meja. Bolak-balik, hanya ada tulisan Angle dan A. Tiba-tiba mataku tertuju tulisan kecil di pojok kiri bawa. Lamat-lamat, tulisan warna abu-abu muda itu terlihat. Sebuah alamat di Internet: http://www.yusufislam.org.uk.

“Yusuf Islam kan si Cat Stevens dengan lagu Morning Has Broken yang terkenal itu?”, pikirku.

Penasaran. Kuarahkan kurson ke browser Safari dan ketikkan alamat tersebut.   Suara latar lagu yang dinyanyikan Yusuf Islam terdengar. Kumatikan suara radio online dari Yogya. Beberapa link aku buka.

Sampailah pada link Song. Daftar lagu Yusuf Islam termuat di sana. Mataku tertuju ke salah satu judul lagi yang diawali dengan huruf A besar di urutan agak bawah. Judulnya: A is for Allah. Kuklik untuk memutar lagu itu.

Ternyata, kartu pos misterius A adalah untuk mengingatkanku. Tapi siapa pengirimnya?

Kristiansand, 14 Oktober 2010

2 comments
  1. Alam said:

    oh udah sampai ya pak kartu posnya:mrgreen: (hehe becanda)
    lagunya bagus ndak pak? cari ah..
    radio yogya? lewat jogja streamers pasti🙂

    • Fathul Wahid said:

      hehehe. berarti A = alam?🙂 sudah ketemu lagunya mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: