Mencari Tuhan

Di depan surau kecil itu terdapat papan nama dari kayu dengan tulisan warna hitam yang sudah agak lusuh. Dalam bahasa Melayu dan Arab. Terdapat alamat di bawahnya: Sadau, Thailand.

“Silakan masuk”, ajak seorang dengan jubah putih dari dalam surau. Aku pun masuk.

“Apa yang membawamu ke sini?”, tanya Pak Ustadz. Aku terdiam.

“Aku mencari Tuhan”, jawabku tiba-tiba.

“Tuhan seperti apa yang kau cari?. Tidakkah kau lihat Tuhan di mana-mana?”

“Maksud Ustadz?”, tanyaku.

“Tuhan telah membawamu ke sini, Sadau. Thailand selatan. Masihkah kau mencari Tuhan?”

Hening. Kuingat cerita seorang kawan, Sadau berada di Thailand selatan, dekat Kedah, daerah perbatasan Malaysia.

***

“Kau pasti tahu fenomenologi?”, sambung Ustadz tiba-tiba. Busyet dah. Ustadz tahu tentang fenomenologi. Padahal aku masih pusing memahami materi kuliah Filsafat Ilmu ini. Aku mengangguk pelan. Tak yakin.

“Lihat bunga di halaman itu”, kata Ustadz sambil menunjuk bunga warna-warni di kiri-kanan jalanan masuk ke surau. “Apa yang kau lihat di sana?”, sambungnya.

“Bunga.”

“Bukan.”

“Kau melihat Tuhan di sana.”

“Gunakan pikiranmu. Batinmu. Lihat fenomena itu!”

Aku teringat novel karya Jostein Gaarder yang berjudul Sophie’s World. Novel yang menjelaskan filsafat dengan sangat renyah. Satu-satunya novel dengan indeks yang pernah aku baca.

“Kalau kau hanya melihat bunga, berarti kau memang benar, sedang mencari Tuhan. Kau masih tingkatan Musa, belum Khidzir. Masih syari’at, belum ma’rifat.”

Aku terdiam menyimak.

“Banyak orang memahami Tuhan yang transenden. Tuhan yang luar biasa. Tuhan yang serba maha.”

“Memang begitu kan?”, kata batinku tanpa terucapkan.

“Tidakkah kalu memikirkan indahnya bunga. Di sana, kau akan temukan Tuhan. Tuhan yang melekat pada keindahan. Itulah Tuhan yang imanen.”

Aku mendengarkan dengan seksama uraian Ustadz. Ya, Ustadz Yahya Yunus. Kulirik tulisan di dinding dengan foto dan nama di bawahnya.

“Sudahkan kau temukan Tuhan sekarang?”, tanya Ustadz untuk meyakinkan kalau aku mengikuti uraiannya.

“Penahkan kau mengunjungi fjord di Norwegia sana?”

Lho, kok Ustadz tahu aku sedang studi di sana. Ruarrr biasa.

“Ya, tadi pagi aku ke sana, naik sepeda.”

“Kau temukan Tuhan di sana?”

“Ya Ustadz. Tuhan yang menyatu pada keindahan landskap alam. Tuhan pada daun mapel oranye yang berjatuhan. Tuhan pada beningnya air laut. Tuhan pada canda gurau anak-anak di sana.”

“Gunakan pengalaman batinmu. Kau akan paham Tuhan. Dan, fenomenologi yang masih kau pusingkan itu.”
Wah, Ustadz tahu saja ini.

***

Kring! Jam wekerku bunyi. Aku pun terbangun. Buku The Phenomenological Mind karya Gallagher dan Zahavi masih di tanganku. Rupanya aku tertidur saat membaca.

Sudah jam 6 pagi. Saatnya Subuh.

Kristiansand, 16 Oktober 2010

6 comments
  1. Kerah Ledrek said:

    Tuhan yg entahlah….🙂

  2. jahl said:

    smakin difahami smakin membingungkan, tp walo demikian, aku usahakan skuat tenaga untuk tetap mempercayai adanya Tuhan.

  3. nanang said:

    kenapa kita mencari tuhan ?

  4. Ricky said:

    saya ingin tahu, bagaimana perasaan anda ketika mencari atau menemukan tuhan yang anda maksud itu?

  5. Tan Ping Liang said:

    Saya mulai yakin bahwaTuhan itu ada, Maha Besar, berpribadi dan berkuasa serta menyatu dengan alam dan seisinya.
    Jadi alam dan seisinya ini bagaikan berada didalam tubuh Tuhan.

    • Fathul Wahid said:

      Syukurlah Mas. Ikut senang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: