Kebaikan Pelacur

“Itu hukumnya haram”, sahut Ujang dengan enteng sambil menyeruput kopi josnya.

Sambil makan di angkingan Kang Sarip, mereka sedang mendiskusikan metode pelatihan yang mengajak pesertanya membaca Al-Qur’an diiringi musik. Toni, kawan karib Ujang, baru saja bercerita tentang dua hari pelatihan yang diikutinya bulan lalu.

“Lha kok bisa?”, sanggah Toni yang masih terkesima dengan pelatihan yang diikutinya. “Aku tersadarkan di sana. Banyak manfaatnya. Apa salahnya?”, sambung Toni.

“Bang Toni. Zaman nabi dulu tidak ada itu. Tidak ada yang macam itu.”

“Dulu juga tidak ada angkringan pada zaman Nabi”, jawab Toni sekenanya. “Ini juga haram harusnya”, sambung Toni sambil terkekeh.

Mereka terkekeh bersama. Kang Sarip, si pemilik angkringan hanya senyum mendengar mereka mengobrol.

“Ya itulah, tapi kan tidak ada tuntunannya?”, tanya Ujang retoris, “Itu yang aku dengar dari ustadzku”. Nah, ternyata hukum haram berasal dari ustadznya Ujang.

“Ya, kalau dengan mudah kita mengharamkan yang dikerjakan orang, apa kita ini Tuhan ya”, timpal Toni dengan datar.

“Aku juga beripkir gitu Bang.”

“Aku jadi ingat ustadz di kampung. Katanya, belajar matematika haram hukumnya. Yang diajarkan Nabi adalah hisab”, sambung Ujang.

“Apa pula itu? Matematika dan hisab sama saja itu. Hisab dari bahasa Arab, dan matematika dari bahasa Yunani yang diserap ke Inggris dan ke Indonesia”, timpal Toni dalam logat Bataknya yang kental.

Obrolan berlanjut. Seperti biasa, konsisten tanpa arah. Lama-lama Kang Sarip pun ikut nimbung dalam obrolan.

“Saya pernah mendengar pak kyai cerita tentang cara melatih supaya sholat khusyu’ dalam toriqoh.”, ujar Kang Sarip tiba-tiba.

“Gimana Kang?”, kata Ujang penasaran sambil melahap pisang goreng kelimanya.

“Beliau membayangkan gurunya ada di belakangnya. Eh, ada juga yang mengharamkan dan batal sholatnya.”

“Terus?”, sela Toni.

“Ya akhirnya dijawab sekenanya. Ya kalau gitu sholat ingat Meriam Bellina juga batal dong?”, sambung Kang Sarip sambil terkekeh.

“Bener juga ya?”, timpal Ujang.

“Aku curiga, jangan-jangan yang senang mengharamkan itu merasa sudah menjadi Tuhan apa ya?”, Toni menganalisis.

“Atau, jangan-jangan mereka ingin surga nanti sepi”, timpal Ujang sambil mengerdipkan mata.

Obrolan mereka pun jadi ngelantur ngalor-ngidul alias tidak berujung pangkal. Gurauan yang menyertai menghangatkan suasana angkringan Kang Sarip.

“Jang, kau percaya gak kalau ada pelacur yang masuk surga?”, tanya Toni dalam obrolan.

“Bang, kalau bisa masuk surga, semua orang ingin jadi pelacur Bang. Mudah dilaksanakan, gampang cari uang, dan bisa masuk surga”, jawab Ujang sekenanya sambil terkekeh.

“Itu lah Jang, kita tuh suka menghakimi orang dengan mudah. Kayak kau itu”, kritik Toni sambil menunjuk Ujang.

“Maksud Abang? Memang pelacur bisa masuk surga?”

“Kalau yang ngomong aku, kau pasti tidak percaya lah. Apa aku ini? Peci tidak pakai, ke masjid berjamaah juga jarang, jidat bersih tidak bertanda, bekas preman pasar lagi”, ucap Toni sambil terkekeh. Sekarang Toni menjadi pengajar di sebuah sekolah Islam.

“Ini serius”, sambung Toni.

“Aku pernah dengar di pengajian, ada itu. Waktu itu si pelacur sedang jalan dan melihat anjing sedang kehausan dengan menjulurkan lidahnya di dekat sebuah sumur. Si pelacur merasa iba, dan akhirnya melepas sepatunya untuk memgambil air dari sumur dan memberikannya kepada anjing. Kata Nabi, diampuni dosa si pelacur itu karena perbuatannya”, cerita Toni.

“Kau percaya sekarang?”, tanya Toni.

“Tuhan bisa melihat dan menghargai kebaikan meskipun kecil. Tetapi kita Jang, sombongnya minta ampun. Melebihi Tuhan. Ada yang tidak sesuai dengan pemahaman kita? Langsung teriak: haram! bakar! neraka!”, sambung Toni.

“Oke deh! Ampun Bang.” sahut Ujang terkekeh.

– Kristiansand, 29 Januari 2011

3 comments
  1. jadi ingat, gara-gara tulisan ini di notes fb njenengan, saya jadi penasaran terus nyari hadist yang bersangkutan lengkap dengan beberapa penjelasan mengenai hadist pelacur itu. (lol)

    • Fathul Wahid said:

      Sudah ketemu mas? Saya dengar cerita itu waktu masih di tsanawiyah seingat saya. Saya cek di beberapa situs di Internet, kayaknya masih jadi perdebatan. Tapi pesan utama cerpen bukan itu kok.🙂

  2. garasi exsarami said:

    pelacur…………….bukan salah satu dari dosa yg tidak diampuni Allah, ada hadis dari bukhari muslim, akan dikeluarkan dari neraka umat islam yg didalam hatinya masih ada kebaikan sebesar biji zaitun dll, iman didalam hatinya, tapi tentu masuk syurgaya kyak org naik hati: pake kloter 1, 2, 3 dss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: