Magdalena

“Perhatian! Penerbangan Norwegian dari Oslo ke Praha akan segera diberangkatkan. Penumpang dimohon menyiapkan boarding pass dan passport.”

Perintah dari petugas bandara dalam bahasa Norwegia terdengar. Aku pun beranjak dari tempat dudukku yang tidah jauh dari meja pemeriksaan keberangkatan. Ya, aku akan ke Praha. 

Tepat pukul 13.45, pesawat dengan kode penerbangan DY1503 lepas landas dari Bandara Gardemoen Oslo.

Kulirik jam, pukul 15.45. Pesawat mendarat dengan lembut di Bandara Ruzyně, Praha. Suhu agak hangat, 13 derajat. Matahari masih bersinar.

Hotel, tepatnya Hostel Downtown, yang aku pesan, masih berjarak 11 km dari Ruzyně. Aku pun naik Metro yang penuh dengan penumpang. Maklum akhir pekan. Tidak berapa lama, sampailah di Národní Třída Metro Station. Hostel hanya 300 meter dari Stasiun ini. Aku pun tidak menyia-nyiakan waktu dengan jalan kaki sambil menikmati suasana Kota Praha sore hari.

***

“Magdalena, how is life in Czech? I am going to make a mini vacation this week to Prague. Nice if we could meet somewhere there”, tulisku di wall Facebook salah satu kawan lama yang tinggal di Praha. Sudah lebih dari 10 tahun aku tidak ketemu.

“Firman, good to see you again. I am doing well and am enjoying life here in Prague with my beloved husband and daughter. Det vil være gøy hvis vi kan drikke te og snakke sammen”, balas Magdalena di wall-nya. Dalam bahasa Inggris dan Norwegia. Ya, kami belajar bahasa Norwegia bersama-sama sekitar 10 tahun yang lalu di sebuah kota kecil di pedalaman Norwegia.

***

Hari kedua di Praha, jam 13.15. Aku pun menunggu di kafe di ujung Jalan Narodni. Tidak jauh dari hostel tempat aku menginap dan Czech National Theatre yang berarsitektur luar biasa itu.

Aku datang agak awal. Jarum panjang jam tanganku sudah menunjuk angka 7. Jam 13.35. Magdalena belum terlihat. Aku pun memesan lagi secangkir teh untuk menghangatkan badan.

Di ujung jalan dekat sungai di depan National Theatre, aku melihat sebuah keluarga yang terlihat sangat bahagia dengan seorang anak kecil. Umur 8 tahun, dugaanku. Si Ibu mengenakan kerudung warna merah dengan syal warna warni dililitkan di leher. Si Ayah tampak mengandeng si kecil yang seakan-akan ingin lari secepatnya.

Mereka berjalan tepat ke arahku. Ya, betul-betul ke arahku. Si Ibu tersenyum kepadaku. Saya tengok kiri kanan. Ternyata memang hanya saya yang sedang menghadap ke dia. Pengunjung kafe lainnya menikmati waktu dengan bercengkerama. Akupun tersemyum balik.

“Assalamu’alaikum Firman!”, ucap dia sambil menyalami saya. Saya kaget. “My husband and my daughter”. Dia memperkenalkan suami dan anaknya.

Oh, ternyata, dia Magdalena. Ya, Magdalena Vercakova. Magdalena yang berbeda dengan yang saya jumpai 10 tahun lalu.

“Time flies, Firman. Things are gonna change!”, terusnya. Seakan-akan dia tahu apa yang akan aku katakan ketika kekagetanku belum hilang. Saya pun belum sempat menjawab salamnya.

Kristiansand, 15 Oktober 2010

– cerita ini fiktif belaka, kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: