Parthenon

Matahari sangat terik di Athena saat itu. Suhu 34 derajat. Pepohonan di kiri-kanan jalan mendaki untuk mencapai Acropolis tidak sanggup meredam panasnya matahari.

Puing-puing Parthenon menjadi saksi kemajuan Yunani pada masa lalu. Aku menyambung nafas yang hampir habis setelah mendaki bukit, menuju Parthenon. Aku duduk di bebatuan yang terserak di depan Parthenon. Dari kejauhan, kota Athena terlihat jelas. Sangat padat dengan tata kota agak semrawut. 

Hembusan angin di tepi situs Parthenon cukup menghibur di bawah sengatan matahari. Terlalu banyak turis yang lalu-lalang di sana waktu itu.

“Anak muda!”

Aku terkaget oleh sapaan dari seseorang yang di sana. Seorang bapak menyapa saya. Dari logatnya, nampaknya berasal dari Eropa.

“Luar biasa ya?”, sambungnya tiba-tiba sambil memperhatikan bangunan Parthenon yang masih megah berdiri.

“Ya”, jawabku sekenanya.

“Pernahkan kalau bayangakan ketika Parthenon di atas bukit ini dibangun?”, tanya dia yang nampaknya tidak perlu aku jawab.

“Hanya orang dengan cita-cita besar yang bisa membangunnya.”

Aku mengangguk, mengiyakan, sambil menebak-nebak apa yang akan dikatakannya orangtua ini. Rambutnya sudah memutih karena usia, tapi wajahnya masih memancarkan cahaya. Aku yakin, dia orang yang sangat bahagia.

“Kamu dari mana?”, tanya dia tiba-tiba.

“Indonesia”, jawabku.

“Wow, negeri yang sangat indah. Itu adalah negeri Atlantis yang hilang itu”, lanjut dia.

Aku teringat buku karya Prof. Arysio Nunes Santos yang berjudul Atlantis: The Lost Conitinen Finally Found. Atlantis yang diceritakan oleh Plato sebagai peradaban yang hilang ternyata adalah Indonesia.

Apresiasi orangtua ini terhadap Indonesia berbeda dengan kebanyakan bule yang aku pernah temui. “Indonesia? Sebelah mananya Bali?” Busyet dah. Bodoh kok tidak dibagi-bagi.

***

“Kamu harus menjadi sesuatu untuk dapat membangun sesuatu”, sambungnya.

Aku masih belum paham apa yang diomongkan. Terjemahanku: mungkin dia ingin mengatakan bahwa orang Yunani dulu hebat, sehingga bisa membangun artifak yang hebat.

“Mereka dulu tidak hanya berpikir, tetapi bertindak”, lanjutnya. Nah, tebakan saya benar kan.

“Berpikir itu mudah. Bertindak itu sulit. Dan, menterjemahkan pikiran ke dalam tindakan adalah sesuatu yang paling sulit di dunia ini.”

“Wah, bapak ini sangat filosofis”, kata batinku. Kayaknya menarik nih lanjutannya.

***

“Kamu cinta negerimu, anak muda?”, tanya dia tiba-tiba.

Dia selalu memanggilku dengan “anak muda”. Padahal aku datang ke Parthenon dengan istri dan anak. “Masuk surga bapak ini, karena menganggap saya masih muda. Hehehe”, bisikku dalam hati sambil tersenyum. Istri dan anak sedang asyik menikmati kemegahan Parthenon.

“Mmm, iya”, jawabku agak tidak yakin. Jujur aku terlalu banyak mengeluh tentang negeriku sendiri. Dia agak heran dengan jawabanku yang tidak yakin.

“Kamu tidak yakin, kalau kamu beruntung mempunyai negeri yang indah dan kaya?”, tanya dia sekali lagi.

Aku terdiam, tidak menjawab.

“Kamu tahu anak muda, apa yang paling sulit kamu lihat adalah yang ada di depanmu. Apa yang mungkin sudah kamu miliki”, lanjut dia. Nampaknya dia tahu apa yang ada dalam pikiranku.

Aku tersadar bahwa selama ini kurang bersyukur dengan yang ada di depan mata. Negeri yang kaya, keluarga yang menyejukkan, pekerjaan yang menentramkan, kesempatan yang terbuka. “Bodohnya aku selama ini”, pikirku.

“Kamu, anak muda, harus paham itu”, lanjutnya sambil menatapku dengan padangan yang menyejukkan.

“Apa yang tidak dapat kamu pahami, tidak akan dapat kamu miliki. Orang lain akan mengambilnya.”

“Kesempatan jalan-jalan ke luar negeri adalah anugerah. Dengan itu, kamu akan mengetahui hal-hal baik yang telah kamu punyai di rumah, di negerimu.”

***

Pembicaraan semakin menarik. Tak terasa sudah hampir satu jam saya mengobrol dengan orangtua ini. Anak dan istri masih menikmati indahnya kota Athena dari bukit di Acropolis ini.

“Sampai ketemu, anak muda. Ini kartu namaku, kalau kamu mau kontak.”, kata dia sambil mengulurkan kartu nama dengan tangan kanannya.

“Assalamu’alaikum,” kata dia sambil pergi.

“Wa’alaikumussalam,” jawabku, dengan agak kaget.

Dia pun menghilang di antara keramaian turis di Acropolis. Aku perhatikan kartu namanya. Di kanan bawah, terlihat tulisan Weimar, Germany. Nah, betul dugaanku. Dia dari Eropa. Aku lupa menanyakan asal dia waktu mengobrol.

Namanya tercetak dengan huruf agak tebal: Johann Wolfgang Von Goethe.*

Hah?!

Kristiansand, 18 Oktober 2010
*Ketikkan namanya di Google.com untuk mengetahui siapa dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: