Melawan kincir angin

“Hi”, sapaku kepada seorang tamu hostel yang terlihat melamun.

Dia memandangku dan tersenyum. “Hi”, jawabnya.

Aku sedang ingin menikmati waktu malam itu di ruang bersama di Marken Youth Hostel di kota Bergen. Beberapa kali aku lihat lelaki setengah umur ini terdiam sendiri di ruangan tersebut.

“Where are you from?”, tanyaku waktu itu.

“Spain.. Spain”, jawabnya.

“¿Cómo estás?”, tanyaku berlagak bisa berbahasa Spanyol.

Eh, dia nyerocos dengan bahasa Spanyol. Padahal aku tidak banyak tahu bahasa Spanyol.

“I cannot speak Spanish”, potongku. “No.. puedo.. hablar.. español..”, ucapku putus-putus. Dia pun tersenyum.

“What is your name”, tanyaku. Dia kebingunan, tidak mengetahui maksudnya.

“¿Cómo se llama usted?”, ulangku dalam bahasa Spanyol.

“Mi nombre?”, dia mencoba menegaskan maksudku.

“Sí”

“Fernando”, jawabnya. Sekali lagi sambil tersenyum.

“Me llamo Firman”, kataku.

Nama dia Fernando. Untung kawanku yang dari Jerman bergabung setelah menghabiskan satu batang rokok di lantai bawah. Dia harus turun naik lift untuk dapat menikmati sebatang rokok. Merokok di dalam ruang di hampir seluruh gedung di Norwegia terlarang.

Kawan Jermanku yang kebetulan bisa bahasa Spanyol sedikit menjelaskan kalau Fernando sedang mencari pekerjaan di Bergen. Dia tidak bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa Norwegia.

***

Saat ini, Spanyol sedang dilanda krisis ekonomi berat. Tertular krisis serupa di Yunani. Mirip dengan yang dialami oleh Indonesia pada pertengahan tahun 1997.

Karena krisis ini, Fernando dipecat dari pekerjaannya di Granada, Spanyol. Dia mempunyai satu istri dan dua orang anak yang masih kecil. Sebagai tanggung jawab kepada keluarga dia lela mengadu nasib di Bergen meski dia tahu akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan tanpa bahasa Inggris atau bahasa Norwegia.

***

Ketika sarapan di dapur aku pun ketemu Fernando yang sudah siap keluar. Dia menunjukkan sebuah kertas yang berisi nama orang yang mau ditemui. Dan, sebuah peta Bergen di mana orang tersebut tinggal. Dia tandai daerah yang akan dikunjungi di peta dengan lingkaran merah.

“Aku akan ke sini”, katanya kepadaku sambil menunjuk peta dalam bahasa Spanyol. Aku paham dari bahasa tubuhnya.

“Sí”, jawabku. Aku dan kawan Jermanku akan naik bis pagi ini ke arah yang sama.

Aku katakan ke Fernando kalau kita bisa keluar bersama, dan naik bis bersama. Dengan bahasa Inggris dan bahasa isyarat saya terangkan ke dia. Fernando paham.

“Tunggu lima menit”, kataku ke Fernando, sambil menunjukkan telapak tanganku dengan jari terbuka kepadanya. “Cinco minutos”, kataku. Dia kembali tersenyum.

***

Kami pun menunggu di halte di dekat Bryggen, kawasan di Bergen yang merupakan jejak kejayaan kota tersebut pada masa Hanseatik.

Bis yang kamu tunggu pun datang. Bus nomor 34, menuju Terminal Aasane. Kami naik ke dalam bis. Ini kali pertama Fernando naik bis di Bergen. Biasanya dia berjalan kaki. Sebelum naik bis kami pun menjelaskan kalau tiketnya 25 kroner dan bisa dipakai selama satu setengah jam.

***

Bisa pagi itu cukup penuh. Tidak ada tempat duduk tersisa. Kami pun berdiri di belakang sopir.

Dua penumpang lelaki yang duduk di depan asyik mengobrol. Fernando memberitaku, “Español.. Español”, sambil menunjuk kedua penumpang yang sedang mengobrol.

“”Sí”, jawabku. Saya dengarkan kedua penumpang tadi. Betul, mereka menggunakan bahasa Spanyol. Minimal itu dugaannya dari logatnya, karena bukan bahasa yang saya tahu. Bukan bahasa Inggris, bukan Norwegia.

Karena tidak yakin kalau bis yang kami tumpangi bisa mengantarkan Fernando ke alamat yang dituju, aku bertanya kepada penumpang yang sedang mengobrol tadi, sambil menunjukkan peta yang dibawa Fernando.

Penumpang tadi langsung menuju ke sopir dan bertanya dalam bahasa Norwegia. Aku mendengar kalau bis yang menuju alamat yang akan dituju Fernando adalah nomor 24, bukan nomor 34.

Akhirnya penumpang tadi menjelaskan kepada Fernando dalam bahasa Spanyol kalau dia harus pindah bis.

***

Pada halte berikutnya, sopir bis menunjuk keluar kalau bis 24 sedang berhenti. Saya katakan ke Fernando, sambil menggunakan bahasa isyarat untuk ganti bis. Penumpang tadi sudah turun pada halte sebelumnya. Fernando pun berlari mengejar bis.

“Semoga berhasil”, doaku di dalam hati.

***

Malam harinya aku bertemu dia di dapur. Aku menanyakan bagaimana hasil wawancara tadi pagi.

“Paper.. good. But, no English no Norwegian,” jawabnya sambil menunjukkan raut wajah agak putus asa.

Katanya, sertifikat yang dibawanya bagus, kompetensinya cukup, tetapi masalahnya dia tidak bisa bahasa Inggris atau Norwegia.

Aku tanyakan apa yang akan dikerjakannya besok.

“I go home”, jawabnya.

Ya, Fernando telah tiga minggu di Bergen untuk mennjalankan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab, menncari nafkah untuk keluarganya. Meski, nampaknya keberuntungan belum memihaknya.

Fernando mengingatkanku kepada Don Quixote, tokoh rekaan Miguel de Cervantes Saavedra yang melawan kincir angin yang dikiranya sebagai raksasa jahat.

“Have a nice trip back to Spain. Hope you will find a good job there”, kataku sambil bersalaman, karena besok aku sudah tidak ketemu dia lagi.

“Semoga berhasil Fernando”, doaku dalam hati.

Kristiansand, 19 Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: