Takdir Calon Doktor Bodoh

“Kamu harus jadi doktor”,  ucap Pak Suratman suatu ketika pada tahun 1986 menjelang kelulusan SD kepada Firman.

Waktu itu, Pak Suratman, Pak Pandi, dan Firman sedang duduk santai di emperan di depan ruang guru.  Firman tidak tahu persis apa maksud ucapan itu sewaktu SD. Maklum, Firman adalah anak desa terpencil di pedalaman Jepara. Di peta pun nampaknya desa ini sulit dicari. Jauh dari hiruk pikuk dan hedonisme kota. Namun, ucapan itu kembali mengiang di telinga Firman belasan tahun kemudian.

Takdir telah mengantarkan Firman menjalani SMP di kota lain, Kudus, kota tetangga. Tidak banyak teman SD Firman yang seberuntung dia. Banyak yang tidak melanjutkan sekolah dan memilih bekerja karena keadaaan.

Waktu kecil, orangtua Firman menghidupi keluarga dari puntung rokok. Bapak Firman mengumpulkan puntung rokok kretek untuk dicampur dan dijadikan rokok lagi. Firman pun kadang membantu membuat rokok. Ibu Firman membuat kerupuk dan berjualan sirup untuk anak SD. Firman masih ingat betul, segelas sirup dijual Rp 5.

***

Hari-hari SMP dijalani Firman di Kota Santri ini, sambil mondok di sebuah Pondok Pesantren, supaya bisa ngaji dan berbiaya murah. Betapa tidak, uang tahunan yang harus dibayar oleh seorang santri hanya Rp 4.000, untuk listrik. Satu kamar berukuran 3×4 m diisi belasan santri.

Urusan tidur tidak menjadi masalah. Aula dan masjid seputar Pondok dapat digunakan. Sajadahpun cukup untuk menjadi alas.

Makan pun selalu bersama. Satu baki atau nampan bisa untuk berenam. Lauk tempe cukup seminggu sekali. Setiap hari hanya sambel dan terong atau kangkung rebus. Intip atau kerak nasi pun manjadi istimewa setelah diberi santan dan garam.

“Prok”, begitu suara nasi yang dilempar ke tembok, ketika Firman menguji apakan nasi yang dimasak sudah matang atau belum.

Tembok dapur penuh dengan hiasan nasi yang menempel. Jika nasi sudah matang, maka akan menempel di tembok.

Bagi Firman, tidak ada pikiran sedih saat itu. Semuanya begitu nikmat.

***

“Kamu mau meneruskan ke mana?”, tanya Uung, kawan Firman ketika kelulusan SMP.

“Ndak tahu”, jawab Firman.

“Aku mau ke Yogya”, lanjut Uung.

“Boleh gak ikut?”, pinta Firman spontan.

Akhirnya takdir mengantarkan Firman ke kota Yogyakarta, untuk melanjutkan SMA. Orangtua Firman mendukung, meskipun dilepas dengan berat hati. Kedua orangtua Firman bahkan tidak pernah menamatkan SD, karena keadaaan. Firman adalah generasi terdidik pertama di keluarganya.

Hanya sekali Firman diantar orangtuanya ke Yogyakarta ketika mendaftar. Yogyakarta adalah kota besar untuk anak udik seperti Firman.

Kehidupan di Yogyakarta tidak selalu mudah untuk Firman dengan uang saku pas-pasan. Ketika Firman mendapatkan wesel bulanan sebesar Rp 60.000, teman Firman yang berasal dari keluarga kaya mendapatkan Rp 300.000, lima kali kiriman bulanan Firman. Kadang Firman harus mengirim telegram ketika uangnya habis.

Suatu ketika Firman mengetahui seorang pengirim telegram menulis kepada bapaknya: “Pak, mohon dikirim uang Rp 500,000 untuk memperbaiki mobil.” Frman hanya terbengong. Belum bisa membayangkan uang sebanyak itu pada  tahun 1989. Karena biasanya yang ditulis Firman hanya, “Pak, uang sudah habis.”

***

“Rud , ada uang gak?”, ucap Firman ke Rudi, teman akrabnya suatu ketika.

“Berapa?”, tanya Rudi yang sedang nongkrong di depan pintu gerbang SMA.

“Lima ribu perak, untuk makan.”

Ya, waktu itu uang Firman hanya tinggal Rp 150. Padahal kiriman belum datang. Tidak jarang Bapak Firman menyusulnya ke Yogyakarta naik bis untuk mengantar uang bulanan.

Masih banyak kisah manis yang dikenang Firman dari hari-hari di Kota Pendidikan, Yogyakarta.

***

Takdir kembali mengantar Firman untuk menikmati bangku kuliah. Capaian yang tidak pernah dibayangkan oleh seorang anak desa. Setelah menikmati kuliah selama satu tahu di Kota Yogyakarta, Firman memutuskan untuk berpindah ke Kota Bandung. Takdir lagi-lagi memudahkan jalan Firman.

Empat tahun dijalani di Bandung. Dengan kiriman Rp 120.000 sebulan Firman bertahap hidup. Hari-hari pada semester-semester akhir juga diisikan dengan menjadi pengajar di sebuah LPK.

***

“Man, ini ada lowongan dosen di Yogya”, ucap Noor, kawan dekat Firman menjelang wisuda.

Noor membawa sobekan koran Republika yang memuat lowongan itu.

“Tinggal dua hari”, terang Noor.

Ya, hanya tinggal dua hari sebelum penutupan. Firman berpikir keras sambil sholat istikharoh.

Keesokan harinya, Firman ke terminal Cicaheum dan menuju Yogyakarta dengan bis malam. Tepat hari penutupan, Firman sampai di universitas yang membuka lowongan dosen.

“Ini syarat-syarat yang bisa kumpulkan Pak”, ucap Firman kepada petugas penerima berkas.

“Yang lain?”

“Yang lain, saya akan susulkan secepatnya Pak”, jawab Firman.

***

Takdir Allah berpihak kepada Firman, dan Firman diterima menjadi dosen. Firman sangat menikmati hari-harinya sebagai dosen.

Tidak lama kemudian, takdir lain mengantar Firman untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Selama tiga tahun, Firman menghabiskan waktunya bersama istri tercintanya di Norwegia, untuk studi lanjut.

Ternyata, karunia Allah tidak pernah surut. Setelah istri Firman menyelesaikan S3, Firman pun mendapat kesempatan serupa.

“Kok sekolah terus to Mas? Apa tidak capek?”, tanya seorang Ibu yang duduk di samping Firman dalam pesawat menuju Jakarta.

“Ya, karena masih bodoh Bu”, jawab Firman.

“Bapak kan dosen, masak masih bodoh”, tanya si Ibu heran.

“Kalau sudah pintar, ya gak sekolah lagi”, lanjutnya sambil tersenyum.

“Bener juga ya”, ucap si Ibu puas.

***

“Perhatian-perhatian! Pesawat KLM dengan nomor penerbangan KL 810 tujuan Amsterdam akan segera diberangkatkan. Boarding akan dilakukan sesaat lagi.”

Firman tersentak dari lamunannya di kursi ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Ya, Firman, sekali lagi, akan menjalani takdirnya. Kali ini sebagai mahasiswa S3, calon doktor.

– Di atas KA menuju Oslo, 1 Februari 2011

Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka.

3 comments
    • Fathul Wahid said:

      Saya ‘kenal’ dengan Firman kok Mbak.😉 Sukses selalu Mbak.

  1. Johan said:

    Selamat buat kang Firman, semoga tidak lekas ‘pintar’
    banyak inspirasi yang bisa di tiru. Terimakasih
    Teriring salam buat kang Firman Sekeluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: