Perempuan dan Teknologi Informasi

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kartini, sebagai tonggak kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang. Indikator kesetaraan pada zaman Kartini hidup adalah kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, dan kesetaraan dalam bidang ini masih sangat relevan sampai sekarang, disamping kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan non pertanian dan berpolitik, seperti tercantum dalam salah satu target dan indikator Millenium Development Goal (MDG). Dengan dasar kesadaran yang sama, para pegiat Teknologi Informasi (TI) juga menginginkan keadaan yang serupa. Fakta di lapangan mengindikasikan bahwa bidang TI masih sangat didominasi laki-laki.

Dalam konteks Indonesia, penelitian yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih ‘terbelakang’ dalam menggunakan Internet dibandingkan laki-laki. Akses perempuan terhadap media pun lebih terbatas dibandingkan laki-laki. Ini adalah salah satu bentuk kesenjangan digital antargender – antara perempuan dan laki-laki.

Sebagai manifestasi kesadaran ini, banyak organisasi didirikan untuk mewujudkan kesetaraan ini. Sebagai contoh, Association for Computing Machinery (ACM) mendirikan ACM’s Women in Computing (women.acm.org) dan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) telah merintis pendirian IEEE Women in Engineering dengan maksud serupa. ACM dan IEEE adalah dua organisasi profesional dalam bidang TI dan teknik terbesar sejagad. Hanya saja, di Indonesia, isu seperti ini nampaknya tidak cukup seksi dan menarik perhatian. Sebagai indikasi, tak satu pun poin dalam Buku Putih 2010 yang diterbitkan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) menyinggung masalah ini.

Mengapa Perlu Melibatkan Perempuan

Terdapat berbagai alasan mengapa perempuan perlu dilibatkan dalam bidang TI. Pertama, dengan kondisi sex ratio yang sudah mendekati 1 (di beberapa negara bahkan sudah di bawah 1), maka separuh penduduk dunia, termasuk Indonesia, adalah perempuan. Pelibatan perempuan dapat membantu memenuhi kekurangan tenaga terampil dalam bidang TI yang masih banyak dibutuhkan. Data dari Analisis Blue-Print Sumberdaya Manusia Komunikasi dan Informatika yang diterbitkan Depkominfo menunjukkan bahwa pada tahun 2010, sektor TI membutuhkan konsultan jasa-jasa TI sebanyak 138.248 orang, ahli perangkat lunak 57.928 orang, praktisi perangkat keras 34.848 orang, dan sumberdaya manusia untuk industri TI nasional 231.025 orang. Proliferasi perkembangan adopsi TI dalam beragam sektor nampaknya belum akan menurunkan kebutuhan tenaga terampil dalam bidang TI. Meskipun peluang masih terbuka lebar, namun data dari Ditjen Dikti (evaluasi.or.id dan pdpt.dikti.go.id) menunjukkan bahwa persentasi perempuan yang mengambil bidang TI di perguruan tinggi hanya sekitar 27% dari semua mahasiswa TI.

Kedua, bidang TI menawarkan karir dan kondisi pekerjaan yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan bidang lain. Survei dari Hay Group dalam beberapa tahun terakhir pun mengindikasikan bahwa gaji pertama pekerja dalam bidang TI termasuk yang tertinggi. Data Susenas 2008 menunjukkan bahwa angka partisipasi kasar (APK) laki-laki dan perempuan hampir sama, yang berarti separuh lulusan perguruan tinggi di Indonesia adalah perempuan. Bahkan data terbaru dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) menunjukkan bahwa jumlah lulusan perempuan dari perguruan tinggi lebih banyak dibandingkan dengan lulusan laki-laki. Saat ini, APK tingkat pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai 18,7%, namun ketimpangan masih dirasakan dalam bidang TI. Di Amerika, meskipun jumlah lulusan perempun dan laki-laki di bidang TI hampir sama, namun pekerjaan yang diisi oleh lulusan perempuan kurang dari sepertiga. Data serupa nampaknya sulit ditemukan untuk konteks Indonesia. Namun demikian, sepanjang pengamatan penulis ketika berinteraksi dengan banyak pemain TI nasional, proporsi laki-laki masih sangat dominan.

Ketiga, banyak yang percaya bahwa keseimbangkan tenaga kerja laki-laki dan perempuan akan mempunyai dampak secara ekonomi, karena separuh potensi pasar TI adalah perempuan. Sebagai contoh, Ford dan Volvo melibatkan tim insinyur perempuan untuk mendesain mobil untuk pasar perempuan. Pasar TI untuk perempuan sangat mungkin juga membutuhkan ‘sentuhan’ perempuan. Sebagai gambaran, saat ini, hampir separuh pengguna Internet dunia adalah perempuan. Bahkan di beberapa negara seperti Amerika dan Kanada, pengguna Internet perempuan melebihi pengguna laki-laki. Di Indonesia, data berbagai studi mengindikasikan bahwa meskipun proporsi perempuan yang menggunakan TI masih di bawah laki-laki, tetapi besarannya cenderung meningkat. Sebagai gambaran, dengan beragam indikator pengguna Internet, pada tahun 2003, 32% pengguna warnet di Indonesia adalah perempuan, dan pada April 2011, pengguna Facebook dari Indonesia sejumlah 35,4 juta, yang sekitar 40% darinya adalah perempuan.

Keempat, secara politis, potensi TI untuk pembangunan dengan beragam bentuk implementasi akan dapat dioptimalkan jika perempuan yang merupakan separuh warganegara dapat berperan serta aktif di dalamnya. Keterwakilan perempuan dalam lembaga politik yang masih rendah (www.ipu.org) dapat dikompensasi dengan suara perempuan di luar jalur politik formal dengan fasilitasi TI. TI telah terbukti menunjukkan tajinya dalam berbagai perubahan politis besar di dunia, seperti kasus tergulingnya Joseph Estrada di Filipina dan Hosni Mubarak di Mesir.

Agenda Aksi

Jika memang keterlibatan perempuan dalam bidang TI dipandang sebagai sebuah keniscayaan dengan berbagai alasan di atas, maka diperlukan agenda aksi untuk mencapainya. Pertama, kesadaran, terutama di kalangan pengambil kebijakan, bahwa ‘Kartini’ harus dilibatkan dalam bidang TI harus dibentuk terlebih dahulu. Akan sangat tidak bijak, jika masih ada yang berpendapat masalah ‘Kartini’ adalah masalah mereka dan bukan masalah kita. Terpinggirkannya ‘Kartini’ dalam berbagai bidang sangat mungkin merupakan andil dari kebijakan masa lalu dan budaya yang tidak bersahabat dengan perempuan. Tanpa kesadaran ini, jangan harapkan kebijakan dan program serius akan terpikirkan.

Kedua, penulis yakin, pemerintah dengan kemampuannya yang terbatas tidak mungkin dapat mengatasi masalah ini tanpa keterlibatan berbagai pihak. Di sini, intermediari diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas TI untuk perempuan dan kapabilitas perempuan dalam bidang TI. Bagaimana menarik minat perempuan untuk mendalami TI adalah sebuah pekerjaan rumah dunia pendidikan. Pihak swasta, lembaga swadaya masyarakat, termasuk lembaga keagamaan dengan sumberdaya finansial, seumberdaya manusia, dan kekuatan dan jangkauan jaringan, perlu dilibatkan sebagai intermediari.

Tanpa mengundang ‘Kartini’ untuk terlibat dalam bidang TI dan tanpa kerjasama berbagai pihak, nampaknya mengejar target minimal 50% penduduk Indonesia mempunyai akses personal terhadap TI pada tahun 2015 sebagaimana diamanatkan oleh The World Summit on the Information Society (WSIS) akan lebih sulit tercapai.

*Pernah dimuat pada Kolom Analisis SKH Kedaulatan Rakyat, 18 April 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: