Teori vs praktik

Pada tahun 1945, Kurt Lewin, cendekiawan yang dikenal dengan bapak psikologi sosial menuliskan dalam salah satu bukunya “There is nothing more practical than a good theory.” Hal yang kontras saya temukan pada sebuah seminar yang saya ikuti beberapa hari yang lalu yang menyatakan “teori dianggap sebagai omong kosong”. Mana yang benar?

Jawabannya tergantung pada apa yang kita maksud dengan teori. Pemahaman bagaimana teori dikembangkan tentu akan menghadirkan perspektif yang berbeda. Pemahaman akademisi sangat mungkin berbeda dengan pemahaman orang awam terkait dengan makna teori. Dalam penggunaan keseharian, kata teori mempunyai makna peyoratif yang cenderung negatif. Namun, seharusnya tidak demikian halnya di kalangan akademisi.

Sebagai ilustrasi, misalnya, bagaimana Roger mengembangkan Teori Difusi Inovasi (Diffusion of Innovation Theory) atau van Bertalanfyy dengan Teori Sistem Umum (General System Theory) menghadirkan cerita yang menarik. Roger mempelajari ribuan literatur yang melaporkan difusi inovasi dalam beragam konteks. van Bertalanfyy membelajari banyak sistem yang diterapkan pada beragam disiplin ilmu. Mereka menemukan teori dari pemahaman yang lebih komprehensif tentang praktik. Teori tidak muncul dari awang-awang tanpa dasar. Jadi kalau ada yang menyatakan bahwa teori adalah omong kosong, justru pernyataan itulah yang omong kosong.

Memang ada teori yang baik dan teori yang buruk. Teori yang buruk biasanya tidak berumur panjang. Teori pun menjadi matang tidak sekaligus tetapi melalui proses perbaikan dan penyesuaian. Teori yang baik biasanya telah divalidasi dalam beragam konteks. Tidak jarang teori yang dikembangkan dalam sebuah disiplin dapat diterapkan pada disiplin yang lain, karena adanya isomorfisme antardisiplin.Teori dapat dipandang sebagai “statements that say how something should be done in practice (prescriptions) ”, atau “statements providing a lens for viewing or explaining the world“, atau “statements of relationships among constructs that can be tested (testable propositions)“. Jangan-jangan, selama ini yang kita pahami sebagai teori bukan merupakan teori dalam pengertian akademik. Atau, karena teori tidak praktikal, jangan-jangan yang sering yang kita dengar adalah teori yang buruk.

Teori pun dapat dikelompokkan dalam berbagai kategori. Gregor mengelompokkan menjadi teori untuk menganalisis (theory for analyzing – menjawab pertanyaan “what is”, contoh: skema klasifikasi, rerangka [framework], taksonomi), teori untuk menjelaskan (theory for explaining – “what is, how, why, when, and where”, contoh: structuration  theory, actor network theory), teori untuk memprediksi (theory for predicting – “what is and what will be” , contoh: hukum Moore, model kreasi nilai TI), teori untuk menjelaskan dan memprediksi (“what is, how, why, when, where, and what will be”, contoh: Technology Acceptance Model dan model kesuksesan sistem informasi), dan teori untuk desain dan aksi (theory for design and action – “how to do something” , contoh: design science, design theory). Teori juga bisa dikelompokkan berdasar cakupannya, mulai dari meta-theory, grand theory, sampai dengan mid-range theory.

Salah satu disiplin yang banyak menggunakan teori disiplin yang lain, terutama pada tahap awal pengembangannya, dan masih berlanjut sampai sekarang adalah sistem informasi (information systems). Walsham menyebut disiplin sistem informasi sebagai supermarket teori. Anda bisa dengan mudah menemukan teori dari disiplin teknik, sosiologi, ilmu politik, psikologi, administrasi publik, sampai administrasi bisnis. Daftar teori yang sering digunakan dalam disiplin sistem informasi dapat Anda temukan disini. Daftar ini tentu tidak lengkap, dan masih akan bertambah banyak. Kreativitas peneliti di bidang sistem informasi sangat menentukan pertambahan teori yang masuk dalam daftar ini.

Jadi, mudah-mudahan ke depan, tidak ada lagi yang menganggap bahwa teori adalah omong kosong, kecuali Anda memang ingin melakukan omong kosong karena pemahaman Anda yang kurang tentang teori. Atau, jangan-jangan entri blog ini juga sebuah ‘omong-kosong’.😉

6 comments
  1. amirul said:

    menurut si lebih jauh efektif praktk karena lebih memberika pengalaman yg tidak didapat dari teori..

    • Fathul Wahid said:

      teorinya yang buruk kali ya mas.🙂

  2. terima kasih pak pencerahannya, saya termasuk yang berpikir peyoratif saat pertama dengar teori.
    diperparah oleh media, “Ah, Teori”.🙂

    • Fathul Wahid said:

      sama dong mas.🙂 semakin banyak belajar, kita semakin mengerti bahwa kita tidak paham banyak hal.

  3. ian said:

    segala sesuatu yang paling saya ketahui adalah saya tidak tahu apa-apa pak…hehe

  4. segala sesuatu yang dilakukan pasti atas dasar ilmu ( teori ),,gmana caranya kita mau melakukan sesuatu kalau ilmunya tidak dipelajari dulu..oleh karena itu marilah kita berilmu sebelum melakukan sesuatu.contohnya amalan yg kita lakukan tanpa didasari ilmu ( berteori dulu ), maka amalan tersebut tidak akan bernilai apa2..thanks atas infonya yaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: