Kepemimpinan: nice vs right + strong

Paul Keating, mantan Perdana Menteri Australia, pada suatu kesempatan mengatakan, “Leadership is not about being nice. It is about being right and being strong.” Kepemimpinan bukan masalah berbaik hati, tetapi harus menjaga yang benar tetap benar, dan teguh memperjuangkannya. Dalam ajaran Islam, terlalu banyak hadits dan catatan sejarah yang mendahului ide Paul Keating ini. Karenanya memang tidak mudah menjadi pemimpin, dan karenanya juga pemimpin harus mau mengambil risiko. Apapun itu, asal kebenaran dapat ditegakkan. Pemimpin seperti ini tidak pandang bulu dan memperlakukan semua yang dipimpinnya pada derajat yang sama. 

Namun di lapangan, seringkali fakta berkata lain. Banyak pemimpin yang suka menggunakan standard ganda. Banyak pemimpin yang tidak mau ambil risiko, alias suka mengambil sikap aman. Mungkin bagi pemimpin seperti ini, pura-pura tidak tahu ada masalah sudah menyelesaikan masalah. Padahal, seringkali ‘ketiadaan’ masalah, justru sebuah masalah besar. Ibarat bara dalam sekam atau bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dalam intensitas yang tidak terkendali.

Pemimpin yang menjaga kebenaran dan teguh juga dapat memisahkan antara hubungan profesional dan personal. Siapapun dia, kalau memang salah ya harus dinyatakan salah dan dikoreksi, apapun risikonya. Justru dengan keteguhan seperti inilah, seorang pemimpin menunjukkan kalau dia amanah, menjaga kepercayaan kolega yang telah memilihnya. Karena pemimpin juga seorang manusia yang mungkin salah, maka pemimpin yang baik bukannya yang tanpa cela. Pemimpin yang baik adalah yang berani mengakui kesalahan dan berusaha sepenuh hati memperbaiki semua kerusakan akibat kesalahannya tersebut.

Apa yang terjadi jika seorang pemimpin tidak mampu menegakkan aturan, misalnya? Seperti Teori Jendela Pecah, maka jangan heran jika semakin banyak orang yang melanggar peraturan. Ketika orang melihat sebuah jendela kaca sebuah gedung pecah dan tidak segera diperbaiki, maka orang yang lewat di depannya akan merasa kalau gedung tersebut tidak bertuan dan tidak terawat. Tunggu saja waktunya, akan semakin banyak jendela yang pecah. Jika semakin banyak jendela yang pecah, maka akan dibutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak untuk memperbaiki, kalau masih beruntung. Jika tidak beruntung, gedung tersebut akan benar-benar menjadi reruntuhan yang tak terperhatikan lagi.

Anda seorang pemimpin dan Anda melihat jendela pecah? Apapun yang akan lakukan akan menentukan masa depan gedung tempat jendela tersebut terpasang. Apakah Anda ingin gedung tetap kelihatan cantik dengan segera memperbaiki jendela pecah, atau Anda merasa jendela pecah adalah sebuah hal biasa dalam hidup Anda dan mengantarkan gedung ke dalam reruntuhan menjadi pilihan Anda, meskipun tanpa Anda sadari. Pilihan ada di tangan Anda!

1 comment
  1. saya pernah mendengar dan juga mendapati pemimpin yang memilih orang – orang yang dia sukai dan menyukai dia pak. Kalo ada anak buahnya yang memberikan kritikan atau masukan alih-alih menerima kritikan, yang ada disangkal dengan beribu alasan..

    menurut bapak, bagaimana sikap yang baik bagi kita jika kita jadi anak buahnya? kalo sikap saya kemarin, resign.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: