“Menggugat” Webometrics

Sabtu  lalu (30/07/2011), Cybermetrics Lab., grup riset dari Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC) yang berkedudukan di Madrid, Spanyol merilis kembali peringkat universitas dunia versi Webometrics versi Juli 2011. Menurut Cybermetrics Lab, situs web adalah indikator kinerja Perguruan Tinggi (PT) terkait dengan komitmen pengajaran, hasil penelitian, dan tautannya dengan masyarakat luas, termasuk dunia industri.

Pemeringkatan ini menggunakan empat indikator, yaitu (1) visibility (bobot 50%), yaitu seberapa banyak tautan eksternal ke sebuah situs web PT; (2) size (20%), yaitu jumlah halaman yang mengindikasikan kekayaan informasi yang ditemukan oleh mesin pencari; (3) rich files (15%), yaitu banyak file dalam format pdf, ppt, doc, dan ps; dan (4) scholar (15%), yaitu jumlah publikasi ilmiah. PT di Indonesia pun nampaknya selalu menunggu peringkat terbaru Webometrics untuk melihat posisinya di antara PT lain. Sebanyak 149 PT dari Indonesia masuk dalam peringkat edisi Juli 2011. Edisi kali memasukkan 12.000 PT dalam peringkat dari 20.000an PT yang dievaluasi.

Memaknai Peringkat

Banyak orang yang dengan sinis mencibir bahwa peringkat Webometrics tidak terkait dengan kualitas PT. Cibiran ini bisa benar dan sekaligus bisa salah. Jika demikian, apa artinya kalau peringkat sebuah PT tinggi? Dalam bahasa awam, artinya PT tersebut mempunyai banyak informasi dan mau membagi informasi tersebut dengan masyakarat. Jika logika ini digunakan, maka peringkat Webometrics tidak ada hubungannya dengan kualitas PT secara langsung.

Namun jika ditelisik lebih jauh, bagaimana mungkin informasi tersebut diakses oleh masyakarat jika tidak berkualitas atau relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pertanyaannya, bagaimana sebuah PT dapat menghasilkan informasi yang berkualitas jika proses di dalamnya tidak berkualitas. Jika logika ini digunakan, peringkat Webometrics mungkin mempunyai hubungan dengan kualitas PT. Mengapa mungkin? Karena proses menghasilkan informasi tersebut dan membuka aksesnya kepada masyakarat juga perlu dilihat. Jika proses ini benar dan beretika, peringkat tinggi dalam Webometrics berarti bahwa PT mempunyai banyak informasi berkualitas sehingga masyakarat akan tertarik mengaksesnya, dan pengaksesan tidak mungkin bisa dilakukan jika PT tidak membukannya dengan kebijakan open access. Ini akan sejalan dengan klaim dari Webometrics yang menyatakan bahwa peringkat berhubungan dengan kualitas PT.

Pertanyaannya, bagaimana jika proses yang dilakukan tidak benar dan tidak mengindahkan beretika? Di sini akan muncul masalah, dan cibiran banyak orang akan menemukan buktinya. Proses yang benar akan menempatkan peringkat sebagai sebuah dampak jangka panjang dengan membangun sistem dan bukan sebagai tujuan jangka pendek tanpa mempedulikan proses internal di PT yang ada. Proses yang beretika terjadi jika norma masyarakat akademik atau kepatutan proses diindahkan. Cybermetrics Lab sendiri mengharapkan PT dan dosennya untuk menghadirkan informasi di situs web yang sesuai dengan kondisi riil di lapangan secara akurat. Nampaknya Cybermetrics Lab sudah mencium celah yang dapat dimanfaatkan oleh PT yang tidak menjaga etika.

Sebaliknya, apa artinya, jika peringkat Webometrics tidak cukup menggembirakan? Bisa jadi PT tersebut tidak mempunyai informasi yang bisa dibagi ke masyarakat. Atau, PT mempunyai banyak informasi bermanfaat, tetapi kebijakan open access tidak diterapkan, seperti dijumpai pada banyak PT di Inggris.

 

Praktik di Lapangan

Di lapangan, proses yang benar dan beretika kadang tidak diperhatikan. Contoh proses yang tidak benar adalah dibentuknya tim ad hoc dengan budaya “kejar tayang”, seperti sebagian mahasiswa yang mengartikan SKS dengan “sistem kebut semalam”. Kesadaran pengarsipan yang baik, kesadaran dan kemauan untuk berbagi informasi, dan kontinuitas untuk menjaganya yang merupakan esensi pengelolaan web untuk pemeringkatan Webometrics tidak disentuh secara serius. Banyak PT yang menggunakan konsultan. Praktik ini tidak salah selama peran konsultan adalah untuk mendampingi dalam menciptakan kesadaran tersebut, dan bukan sebagai “tim pemenangan” yang gaungnya hilang tanpa jejak ketika peringkat terbaru sudah dipublikasikan. Tentu tanpa komitmen PT yang bersangkutan, hal ini tidak bisa dilakukan.

Berikut adalah beberapa contoh kecil praktik yang menurut penulis tidak beretika yang dapat dideteksi dengan mudah. Menurut kepatutan sebuah skripsi/tesis akan dijadikan satu file atau paling banyak sejumlah bab skripsi/tesis tersebut untuk memudahkan pengunduhan. Namun di lapangan, misalnya karena ingin mengejar nilai untuk indikator rich file, file dipecah menjadi sangat banyak. Indikator scholar seharusnya adalah artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh dosen atau PT tersebut dan bukan menggunggah artikel peneliti atau dosen lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan PT tersebut. Penulis juga menemukan sebuah PT yang mengunggah kliping koran untuk mengejar nilai indikator scholar. Masih banyak praktik yang kurang memperhatikan etika sebagai akibat menjadikan peringkat Webometrics sebagai sebuah tujuan dan bukan dampak dari proses yang baik dan melembaga. Jika praktik ini yang dilakukan maka kualitas semulah yang tercermin dalam peringkat Webometrics, dan bukan kualitas riil.

*Artikel dimuat pada Kolom Analisis SKH Kedaulatan Rakyat, edisi 2 Agustus 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: