Publikasi Internasional Akademisi Indonesia

Ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui publikasi yang berkualitas, sebagai salah satu indikator penelitian yang berkualitas. Dalam tradisi akademik Amerika, dikenal sebuah adagium ‘publish or perish’, melakukan publikasi atau binasa/hancur. Kalangan akademik dituntut untuk produktif dalam menghasilkan publikasi berkualitas. Tuntutan ini juga yang nampaknya menjadikan akademisi Amerika selalu menjadi yang terproduktif dalam publikasi.

Statistik publikasi olahan SCImago Lab. (www.scimagojr.com) – berdasar data dari Scopus yang mengindeks lebih dari 17.000 judul publikasi, termasuk jurnal dan prosiding  – menunjukkan bahwa selama 15 tahun (1996-2010), akademisi Amerika menghasilkan lebih dari 5 juta publikasi. Indeks dari Scopus inilah yang juga digunakan untuk menghitung sitasi publikasi per dosen oleh QS World University Rankings (www.topuniversities.com). Peringkat terakhir versi 2011/2012 yang diterbitkan beberapa hari yang lalu masih menunjukkan supremasi universitas dari Amerika Serikat dan Eropa.

Potret Indonesia

Dalam rentang waktu yang sama, Indonesia menduduki peringkat 65 dengan publikasi sebanyak 12.871. Bandingkan, misalnya dengan dua negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Malaysia menduduki peringkat 43 dengan 53.691 publikasi, dan Singapura pada posisi 32 dengan 108.522 publikasi. Jika kita hitung publikasi per kapita, posisi Indonesia semakin mengkhawatirkan.

Meskipun demikian, ada sedikit harapan, yaitu kenaikan jumlah publikasi akademisi Indonesia dari tahun 1996 sampai dengan 2010. Sebagai gambaran, pada tahun 1996, akademisi Indonesia mempublikasi 512 artikel (0,05% publikasi dunia) pada outlet publikasi yang diindeks oleh Scopus, pada tahun 2010, angka tersebut menjadi 1.925 (0,09% publikasi dunia). Selama 15 tahun terdapat kenaikan, 275 persen.

Namun kenaikan ini nampaknya tidak cukup menggembirakan dan sangat lambat. Sekali lagi, bandingkan misalnya dengan Singapura atau Malaysia yang pada rentang waktu yang sama meningkat, masing-masing, 379 dan 1.301 persen. Pada tahun 2010, akademisi Singapura menghasilkan 13.419 publikasi, dan Malaysia 13.107. Posisi Indonesia di antara negara-negara Asia lain juga tidak begitu menggembirakan. Indonesia menduduki posisi 11 dari 33 negara. Jika peningkatan publikasi tidak diusahakan, nampaknya dalam beberapa tahun ke depan, posisi Indonesia akan dilampaui oleh Viet Nam dan Bangladesh, yang akan menjadikan potret Indonesia semakin buram.

Mencari Akar Masalah

Mencari penjelas yang memuaskan untuk fenomena ini tidaklah mudah. Banyak akar masalah yang terkait, mulai dari yang bersifat intrinsik sampai dengan iklim akademik yang kurang mendukung. Pertama, tekanan untuk melakukan publikasi berkualitas pada outlet publikasi internasional tidak setinggi di Amerika atau Eropa. Tidak mengherankan, banyak akademisi yang lebih menyukai publikasi di outlet nasional, yang dirasakan lebih tidak merepotkan. Untuk publikasi internasional, tidak jarang waktu yang diinvestasikan mulai dari melakukan penelitian sampai dengan artikel terbit, lebih dari dua tahun.

Kedua, penghargaan dalam bentuk poin yang akan digunakan untuk jenjang karir akademik tidak berbeda secara signifikan antara publikasi internasional dan nasional. Jika publikasi internasional dilakukan dengan beberapa penulis, poin yang didapatkan dipastikan lebih kecil dibandingkan dengan publikasi pada outlet nasional.

Ketiga, akses pendanaan akademisi Indonesia untuk menghadiri konferensi international atau melakukan publikasi internasional yang berkualitas sangat terbatas. Memang sejak beberapa tahun terakhir, Kementerian Pendidikan Nasional telah menyediakan dana ini, tetapi melihat jumlah akademisi Indonesia yang sangat banyak, dana yang tersedia sangat jauh dari memadai. Perguruan tinggi yang mampu secara mandiri mendanai aktivitas ini pun masih sangat terbatas, dan biasanya pun tidak masuk pos prioritas.

Keempat, ketersediaan penghargaan dalam bentuk koin, salah satu bentuk motivasi paling konkret, juga sangat terbatas. Memang beberapa perguruan tinggi sudah bisa memberikan penghargaan sampai puluhan juta untuk akademisi yang mampu melakukan publikasi pada outlet internasional, tetapi jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari. Penghargaan finansial ini, meskipun bukan yang utama, diperlukan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan dedikasi seorang akademisi, mulai dari penelitian sampai artikelnya muncul dalam publikasi internasional.

Publikasi sebagai Anak Tangga

Dalam beberapa tahun terakhir, jargon world class university telah diusung oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan disambut dengan antusias oleh banyak perguruan tinggi. Publikasi internasional harusnya menjadi salah satu ‘anak tangga’ dalam peta jalan yang dikembangkan oleh perguruan tinggi. Jika ‘anak tangga’ ini dipilih, maka secara umum yang perlu diperbaiki dalam sistem akademik di Indonesia, adalah penghargaan kepada akademisi yang melakukan publikasi internasional, baik dalam konferensi, lebih-lebih dalam jurnal internasional berkualitas.

Seorang kolega akademisi asing yang mengkritisi, mengapa akademisi Indonesia harus menunggu motivasi koin untuk melakukan publikasi internasional. Dia lupa bahwa secara umum gaji akademisi Indonesia sangat jauh di bawah gaji akademisi negara-negara maju. Sebagai gambaran, untuk mengikuti konferensi di Eropa atau Amerika diperlukan dana setara dengan gaji beberapa bulan. Karena itu, penghargaan yang diberikan haruslah dapat memberikan motivasi lebih, termasuk menyediakan dukungan finansial untuk menghadiri konferensi atau membiaya publikasi internasional.

Tanpa inisiatif yang tepat untuk mendorong publikasi internasional akademisi Indonesia, nampaknya agak sulit untuk memperbesar noktah Indonesia pada peta akademik global.

*Pernah dimuat dalam Kolom Analisis SKH Kedaulatan Rakyat, 9 September 2011.

8 comments
  1. Dito said:

    tapi ada juga lho Pak, kayaknya yg tidak mau publikasi, karna ingin dipatenkan. misalnya saja penelitian yg di danai perusahaan-perusahaan😀

    • Fathul Wahid said:

      Mas Dito, itu juga sebuah pilihan, terutama untuk riset industri, Hanya saja, ternyata logika itu tidak selamanya yang dipakai di lapangan. Banyak yang memilih publikasi hasil riset sebagai proses information disclosure, karena lebih simpel dan cepat, tetap mempunyai otoritas menggunakan hasil riset, tetapi menutup orang lain mematenkan hasil riset serupa. Ada juga yang memilih dua-duanya: publikasi sambil dipatenkan, dan mereka survive!😉

  2. ririn sa'adah said:

    bagaimana dengan riset mengenai kebahasaan,, bukankah untuk saat ini jurnal-jurnal yang mashur itu lbih didominasi tema-tema sains..

    • Fathul Wahid said:

      Mbak ririn, Saya tidak banyak tahu informasi dalam disiplin ini. Tapi biasanya setiap disiplin punya jurnal ‘jagoannya’.

  3. alhusna said:

    Malaysia memang gencar melakukan publikasi internasional, hal ini disebabkan oleh besarnya dana yang di alokasikan oleh pemerintah untuk itu, di dukung dengan perlatan dan perlengkapan yang sangat memadai. untuk contoh untuk satu ISI Q4 saja di beri dana penelitian 40.000 ringgit , atau sekitar 130 juta rupiah. sayangnya yang melakukan publikasi itu rata-rata adalah peneliti asing, dari Iran, arab dan bangladesh dan Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: